Kekhawatiran bahwa ponsel diam-diam mendengarkan penggunanya kembali mencuat setelah mantan petugas CIA Jason Hanson membahas kemampuan pengawasan digital modern. Dalam wawancara dengan LADbible Stories, Hanson mengatakan lembaga pemerintah memiliki kemampuan untuk mengakses perangkat seperti ponsel, laptop, smartwatch, hingga kamera.
Pernyataan itu cepat menarik perhatian karena menyentuh pertanyaan yang sudah lama beredar di publik. Namun Hanson juga menekankan satu hal penting: adanya kemampuan teknis tidak otomatis berarti pemerintah sedang mendengarkan semua orang setiap saat.
Kemampuan ada, pengawasan tidak disebut berlangsung massal
Menurut Hanson, hampir tidak ada perangkat modern yang benar-benar di luar jangkauan jika suatu lembaga memang ingin mengaksesnya. Ia menyebut jenis perangkat tidak terlalu menentukan, karena ponsel pintar, laptop, jam tangan pintar, dan kamera sama-sama bisa menjadi target akses.
Meski begitu, Hanson tidak menyatakan bahwa pengawasan aktif dilakukan secara terus-menerus terhadap seluruh pengguna. Inti pernyataannya adalah bahwa lembaga dapat melakukan pemantauan terhadap target tertentu bila memang mereka memilih untuk melakukannya.
Pemisahan antara “bisa” dan “sedang dilakukan” menjadi bagian paling penting dari penjelasannya. Dalam konteks ini, Hanson berbicara soal kapabilitas, bukan klaim bahwa semua percakapan warga otomatis dipantau.
Ia bahkan menyampaikan bahwa anggapan seseorang aman sepenuhnya dari pengawasan hanya karena memilih perangkat tertentu bukanlah jaminan. Jika ada kepentingan untuk mengakses komunikasi seseorang, menurut dia, hal itu tetap mungkin dilakukan.
Mengapa mantan petugas intelijen memilih ponsel lipat
Menariknya, Hanson mengaku lebih memilih memakai ponsel lipat model lama dalam kehidupan sehari-hari. Alasannya bukan karena perangkat itu kebal dari pengawasan, melainkan untuk mengurangi pelacakan aplikasi dan pengumpulan data oleh perusahaan.
Pilihan itu menunjukkan bahwa kekhawatiran privasi tidak hanya datang dari lembaga negara, tetapi juga dari ekosistem digital komersial. Dalam pandangannya, smartphone modern membawa lebih banyak peluang bagi aplikasi dan layanan untuk mengumpulkan data pengguna.
Meski memakai ponsel yang lebih sederhana, Hanson tetap menilai akses terhadap komunikasinya masih mungkin terjadi bila ada pihak intelijen yang secara khusus menargetkannya. Dengan kata lain, perangkat yang lebih “jadul” dinilai membantu mengurangi jejak digital tertentu, tetapi bukan solusi mutlak.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa isu privasi digital jauh lebih kompleks daripada sekadar memilih antara smartphone dan feature phone. Risiko bisa datang dari banyak sisi, mulai dari aplikasi, jaringan, hingga akses yang dilakukan terhadap perangkat itu sendiri.
Risiko lain datang dari Wi‑Fi publik
Selain membahas perangkat, Hanson juga menyoroti bahaya jaringan Wi‑Fi publik. Ia mengatakan tidak pernah terhubung ke Wi‑Fi publik tanpa menggunakan VPN.
Peringatan ini penting karena ancaman terhadap data pribadi tidak selalu berasal dari pemerintah atau lembaga intelijen. Menurut Hanson, pelaku dengan kemampuan teknis yang memadai juga dapat mencegat informasi dan komunikasi di jaringan yang tidak aman.
Karena itu, penggunaan VPN ia sebut sebagai langkah pencegahan saat harus memakai koneksi publik. Fokusnya adalah menambah lapisan perlindungan ketika pengguna berada di lingkungan jaringan yang lebih rentan terhadap penyadapan atau pencurian data.
Peringatan tersebut memperluas pembahasan dari isu pengawasan negara menjadi keamanan digital sehari-hari. Dalam praktiknya, ancaman paling dekat bagi banyak orang justru bisa muncul saat terkoneksi ke jaringan terbuka tanpa perlindungan memadai.
Isu lama yang terus relevan
Komentar Hanson kembali menghidupkan pertanyaan lama tentang seberapa aman perangkat pribadi di era digital. Ponsel kini menyimpan hampir seluruh aktivitas penting pengguna, dari komunikasi, foto, lokasi, hingga akses ke layanan lain.
Karena itu, pernyataan dari mantan petugas intelijen soal kemampuan akses perangkat mudah memicu perhatian luas. Di sisi lain, penekanannya bahwa kemampuan tidak sama dengan pengawasan aktif memberi konteks yang lebih berimbang di tengah kekhawatiran publik.
Bagi pengguna, pesan yang paling jelas dari pernyataan Hanson bukan sekadar rasa curiga terhadap ponsel sendiri. Pesan utamanya adalah bahwa privasi digital memerlukan kewaspadaan, baik terhadap pelacakan data oleh aplikasi maupun risiko saat memakai jaringan internet publik.
Dalam wawancara itu, Hanson tidak menawarkan jaminan bahwa ada perangkat yang sepenuhnya aman dari akses bila benar-benar ditargetkan. Namun ia menegaskan bahwa langkah sederhana seperti membatasi pelacakan aplikasi dan menghindari Wi‑Fi publik tanpa VPN tetap penting untuk mengurangi paparan risiko.
