Kemunculan video bocoran yang mengklaim menampilkan iPhone Ultra langsung menarik perhatian pasar teknologi. Perangkat ini disebut-sebut sebagai iPhone lipat pertama Apple, dengan pendekatan yang berbeda dari banyak pesaing foldable.
Jika kabar itu akurat, Apple tidak hanya masuk ke kategori baru, tetapi juga datang dengan fokus pada desain ultra-tipis, layar besar, dan integrasi penuh dengan iOS. Strategi ini menempatkan iPhone Ultra bukan sekadar sebagai ponsel lipat, melainkan sebagai perangkat premium yang ingin menawarkan pengalaman berbeda.
Desain yang Menyerupai iPad Mini Saat Dibuka
iPhone Ultra dikabarkan memakai form factor lebar saat dilipat dan membentang seperti tablet mini saat dibuka. Rasio ini berbeda dari banyak foldable Android yang cenderung tinggi-vertikal, sehingga tampilan layarnya disebut lebih mirip iPad mini generasi terbaru.
Saat tertutup, perangkat ini tetap disebut terasa seperti iPhone tradisional, meski bodinya sedikit lebih lebar. Pendekatan itu memberi kesan portabilitas tanpa mengorbankan pengalaman layar besar ketika dibuka.
Ketebalan 4,5 mm Jadi Sorotan Utama
Salah satu klaim paling mencolok adalah ketebalan 4,5 milimeter saat perangkat dibuka. Angka ini disebut sebagai rekor ketebalan untuk perangkat iPhone sepanjang sejarah.
Sebagai pembanding, iPhone 15 Pro tercatat 8,25 mm, iPhone Air hipotetis 5,6 mm, dan Galaxy Z Fold6 sekitar 6,3 mm saat dibuka. Ketipisan ekstrem itu dikaitkan dengan sistem engsel yang dirancang sangat kompleks agar lipatan di tengah layar nyaris tak terlihat.
Spesifikasi Kelas Atas
Di sisi performa, iPhone Ultra diprediksi berbagi platform hardware dengan iPhone 18 Pro. Perangkat ini disebut akan memakai chip Apple A20 Pro dengan proses 2nm TSMC N2, RAM 12GB LPDDR5, modem Apple C2 buatan sendiri, dan layar internal 7,8 inci dengan refresh rate adaptif.
Kamera belakangnya dikabarkan memakai dua sensor 48MP, terdiri dari wide dan ultra-wide, tanpa lensa telephoto. Keputusan itu masuk akal untuk perangkat ultra-tipis, karena ruang internal yang terbatas memaksa Apple memprioritaskan elemen inti dan stabilitas termal.
Face ID Dikabarkan Tak Masuk
Salah satu keputusan paling mengejutkan adalah absennya Face ID. Sebagai gantinya, iPhone Ultra disebut akan memakai Touch ID yang terpasang di tombol power, mirip dengan beberapa model iPad dan iPhone SE.
Pilihan ini terasa tidak biasa untuk perangkat yang diperkirakan menjadi iPhone termahal. Namun, modul TrueDepth disebut terlalu tebal untuk bodi setipis 4,5 mm, sehingga Apple memilih solusi yang lebih realistis secara teknis.
Dua Warna dan Modul Kamera Baru
Untuk debut awalnya, Apple dikabarkan hanya menyiapkan dua varian warna. Strategi seperti ini sejalan dengan kebiasaan Apple yang kerap memperluas pilihan warna setelah peluncuran awal.
Bagian belakang perangkat juga disebut membawa camera plateau yang terinspirasi dari iPhone Air. Modul kamera itu menampung dua sensor utama dalam susunan persegi panjang yang rapi.
Harga Tinggi dan Target Pengguna Elite
Harga awal iPhone Ultra diperkirakan berada di kisaran $2.000 hingga $2.300. Posisinya membuat perangkat ini lebih mahal dari iPhone 15 Pro Max dan sejajar dengan MacBook Air entry-level.
Dengan banderol seperti itu, Apple jelas tidak membidik pasar massal. Targetnya disebut mencakup profesional kreatif, penggemar Apple kelas atas, dan early adopter yang menginginkan perangkat premium dengan layar besar dalam bentuk yang tetap portabel.
Langkah Terlambat, Tapi Ambisius
Apple memang bukan pionir di pasar ponsel lipat. Samsung sudah menjual jutaan unit Galaxy Z Fold sejak 2019, tetapi Apple kerap membuktikan bahwa menjadi yang pertama bukan syarat utama untuk berhasil.
Fokus pada ketipisan ekstrem, lipatan layar yang minim, integrasi iOS dan Apple Intelligence, serta kualitas build premium menjadi senjata utama yang disiapkan. Jika semua klaim ini benar, iPhone Ultra berpotensi membuka kategori baru di antara ponsel dan tablet.
Tantangan yang Masih Mengintai
Meski terdengar menjanjikan, perangkat ini tetap punya risiko besar. Ketahanan engsel, kapasitas baterai, dukungan aplikasi untuk rasio layar unik, dan harga psikologis yang sangat tinggi bisa menentukan nasibnya di pasar.
Apple juga harus membuktikan bahwa desain ultra-tipis tidak mengorbankan kenyamanan pakai harian. Tanpa jawaban yang kuat untuk tantangan itu, iPhone Ultra berisiko tetap menjadi produk niche meski membawa nama besar Apple.







