Swatch mendorong tuntutan ganti rugi sebesar $170 juta terhadap Samsung dalam sengketa pelanggaran merek dagang yang terkait dengan watch face di Galaxy Watch. Nilai tuntutan itu membuat perkara ini menonjol, karena bukan hanya menyasar tampilan digital jam pintar, tetapi juga menyentuh nilai lisensi dari merek-merek jam konvensional yang sangat dikenal.
Perkara ini penting karena pengadilan di London sebelumnya sudah menyatakan Samsung melanggar merek dagang yang dipermasalahkan. Fokus sengketa kini bergeser ke besaran ganti rugi, dan putusan itu berpotensi membuka langkah hukum serupa di Amerika Serikat.
Sengketa bermula dari watch face yang meniru jam klasik
Di pasar smartwatch, pengguna memang bisa menemukan banyak watch face pihak ketiga yang meniru tampilan jam tangan tradisional. Justru di titik inilah sengketa antara Swatch dan Samsung berpusat, karena Swatch menilai sejumlah watch face itu menyalin identitas visual dari model-model jam miliknya.
Swatch menyebut watch face yang dipersoalkan mereplikasi model populer dari berbagai merek di bawah grupnya. Di antaranya ada nama seperti Tissot dan Omega, yang menjadi bagian dari dasar klaim pelanggaran merek dagang tersebut.
Kasus ini dimulai di Inggris pada 2019, saat negara itu masih menjadi bagian dari Uni Eropa. Karena itu, cakupan perkara juga menyentuh dugaan pelanggaran merek dagang Swatch di wilayah Uni Eropa.
Pengadilan Tinggi London kemudian telah memutus bahwa Samsung memang melakukan pelanggaran atas merek dagang yang disengketakan. Namun, pengadilan belum menetapkan angka final yang harus dibayar, sehingga tahap berikutnya menjadi penentuan besaran kerugian.
Mengapa Swatch menuntut $170 juta
Swatch kini meminta $170 juta sebagai ganti rugi dari Samsung. Perusahaan jam asal Swiss itu menyatakan angka tersebut mewakili kemungkinan biaya lisensi yang semestinya dibayar untuk penggunaan desain terkait di 10 merek Swatch.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa sengketa tidak hanya dilihat sebagai pelanggaran visual biasa. Swatch tampaknya ingin menegaskan bahwa nilai komersial dari identitas merek jam premium dan populer tidak bisa dipakai tanpa kompensasi yang setara.
Angka $170 juta juga memberi gambaran bahwa perkara ini dapat menjadi preseden penting bagi industri perangkat wearable. Jika nilai lisensi menjadi dasar utama penilaian kerugian, sengketa serupa di masa depan bisa ikut terdorong ke angka yang besar.
Bagi Samsung, tahap penentuan ganti rugi menjadi momen krusial karena putusan akhir akan menentukan beban finansial yang harus ditanggung. Sampai saat ini, Samsung belum memberikan komentar terkait perkembangan terbaru dalam perkara tersebut.
Dampaknya bisa meluas ke Amerika Serikat
Perkara di Inggris tidak berhenti pada soal pembayaran ganti rugi saja. Putusan terkait besaran kerugian disebut dapat membuka jalan bagi Swatch untuk mengajukan gugatan paralel terhadap Samsung di Amerika Serikat.
Jika itu terjadi, tekanan hukum terhadap Samsung bisa meluas ke pasar besar lain. Artinya, sengketa watch face ini berpotensi berkembang dari perkara regional menjadi konflik lintas yurisdiksi dengan dampak bisnis yang lebih besar.
Kemungkinan langkah lanjutan di Amerika Serikat membuat putusan di London dipantau lebih dekat. Bukan hanya oleh dua pihak yang bersengketa, tetapi juga oleh pelaku industri yang selama ini bergerak di area desain digital yang terinspirasi jam tangan klasik.
Samsung diperkirakan tidak akan begitu saja menerima hasil yang merugikan. Perusahaan itu dinilai kemungkinan akan menempuh berbagai jalur hukum yang tersedia untuk mencari hasil yang lebih menguntungkan.
Sorotan untuk ekosistem watch face pihak ketiga
Kasus ini juga menyoroti area yang selama ini tampak biasa bagi pengguna smartwatch, yaitu ketersediaan watch face pihak ketiga. Banyak desain memang hadir untuk memberikan nuansa jam analog terkenal, tetapi sengketa ini menunjukkan bahwa batas antara inspirasi dan pelanggaran merek dagang bisa menjadi persoalan serius.
Bagi pemilik merek jam tradisional, tampilan dial, elemen visual, dan karakter desain bisa memiliki nilai dagang yang kuat. Karena itu, reproduksi di layar smartwatch tidak selalu dipandang sebagai sekadar kustomisasi, melainkan bisa dianggap sebagai pemanfaatan aset merek tanpa izin.
Bagi Samsung, perkara ini bukan hanya tentang satu gugatan lama yang kembali mencuat. Sengketa tersebut kini berada pada fase yang dapat menentukan seberapa mahal konsekuensi hukum dari watch face di Galaxy Watch, sekaligus menjadi dasar bagi kemungkinan pertarungan hukum berikutnya di pasar lain.
Source: www.sammobile.com






