FiberHome menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dari percakapan tentang masa depan konektivitas Indonesia. Melalui Engineering BootCamp 2026 di BINUS University, perusahaan ini mendorong pemahaman langsung tentang bagaimana 5G dan Fixed Wireless Access atau FWA akan membentuk layanan internet yang lebih cepat, stabil, dan merata.
Kegiatan yang digelar Program Studi Computer Engineering, Fakultas Teknik BINUS University itu menjadi ruang belajar yang mempertemukan perspektif kampus dan industri. Di forum tersebut, FiberHome menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapi sektor telekomunikasi saat kebutuhan konektivitas terus meningkat di berbagai lini kehidupan.
5G dan FWA jadi fokus pembahasan
Sesi bertema “5G and FWA Implementation in Indonesia” dibawakan oleh Xu Haidong, Sales Manager Departemen Bisnis Internasional FiberHome. Ia menjelaskan evolusi teknologi komunikasi seluler, tren industri telekomunikasi terkini, serta peran strategis FWA dalam memenuhi kebutuhan akses internet berkecepatan tinggi.
FiberHome juga menguraikan bagaimana operator telekomunikasi dan penyedia teknologi merancang jaringan, mengelola kapasitas, dan menghadirkan layanan yang mampu mengikuti kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Pembahasan ini menempatkan 5G dan FWA bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebagai bagian dari strategi infrastruktur digital yang lebih luas.
Konektivitas butuh sinergi infrastruktur
Pesatnya layanan digital di berbagai sektor membuat kebutuhan jaringan yang andal dan berkapasitas besar semakin mendesak. Dalam konteks itu, FiberHome menekankan bahwa jaringan fiber optik dan teknologi nirkabel dapat saling melengkapi untuk menghadirkan konektivitas yang lebih luas dan efisien.
Teknologi fiber optik disebut tetap menjadi tulang punggung jaringan telekomunikasi. Di sisi lain, solusi FWA dinilai dapat membantu mempercepat pemerataan layanan broadband, terutama di wilayah yang membutuhkan internet cepat namun menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur konvensional.
Xu Haidong menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak cukup hanya bergantung pada inovasi infrastruktur. Ia menilai kesiapan sumber daya manusia juga harus ikut tumbuh agar industri memiliki tenaga yang memahami kebutuhan nyata di lapangan.
“Perkembangan teknologi harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mampu memahami kebutuhan nyata di lapangan. Kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam menyiapkan talenta yang akan memimpin inovasi di masa depan,” ujar Xu Haidong.
Mahasiswa melihat kebutuhan industri secara langsung
Bagi mahasiswa, sesi ini membuka gambaran yang lebih nyata tentang dunia telekomunikasi modern. Mereka tidak hanya mempelajari teori tentang teknologi jaringan generasi terbaru, tetapi juga mendapat perspektif tentang tantangan dan peluang yang dihadapi industri saat ini.
Kepala Program Studi Computer Engineering BINUS University, Rico Wijaya, menyambut baik keterlibatan FiberHome dalam kegiatan tersebut. Ia menilai pengalaman langsung dari praktisi industri memberi nilai tambah yang signifikan bagi pembelajaran mahasiswa.
Menurut Rico, interaksi seperti ini membantu mahasiswa memahami perkembangan teknologi sekaligus kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dinamika industri di masa depan. Pandangan itu sejalan dengan tujuan Engineering BootCamp 2026 yang ingin menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri teknologi.
Kolaborasi kampus dan industri makin penting
Engineering BootCamp 2026 menjadi salah satu bentuk upaya BINUS University untuk memperluas wawasan mahasiswa melalui keterlibatan praktisi dan pemimpin industri. Program seperti ini dirancang agar mahasiswa lebih siap menghadapi transformasi digital yang berjalan cepat di Indonesia.
FiberHome sendiri menegaskan komitmennya sebagai perusahaan global penyedia solusi dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Perusahaan ini menyebut dukungan terhadap kegiatan berbagi pengetahuan dan kolaborasi dengan institusi pendidikan sebagai bagian dari kontribusinya dalam menyiapkan talenta teknologi untuk era 5G, FWA, dan transformasi digital nasional.
Di tengah meningkatnya kebutuhan internet cepat dan merata, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Konektivitas masa depan tidak hanya ditentukan oleh perangkat dan jaringan, tetapi juga oleh generasi muda yang memahami cara kerja teknologi dan kebutuhan industri yang sesungguhnya.







