Pasar laptop Indonesia memang padat, tetapi justru ada beberapa merek besar yang tidak pernah benar-benar hadir secara resmi. Kondisi ini menarik karena nama-nama tersebut bukan pemain kecil, melainkan brand global dengan teknologi dan reputasi kuat.
Di antara yang paling sering jadi sorotan ada Microsoft Surface, Samsung Galaxy Book, VAIO, Alienware, dan Framework. Sebagiannya pernah masuk lalu keluar lagi, sementara yang lain sama sekali belum tercatat dijual resmi di Tanah Air.
Microsoft Surface dan harga yang sulit bersaing
Microsoft Surface menjadi salah satu contoh paling jelas dari laptop yang tidak masuk resmi ke Indonesia sejak model pertamanya dirilis pada 2017. Hingga kini tidak ada alasan pasti yang diumumkan, tetapi Microsoft diduga tidak melihat Indonesia sebagai pasar yang cukup potensial.
Dari sisi produk, Microsoft Surface menawarkan performa, desain hibrida, dan fungsionalitas yang unik. Namun, harga perangkat ini bisa mencapai 1600 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp28 jutaan, jauh di atas banyak laptop di Indonesia yang berada di kisaran Rp4 juta sampai Rp5 jutaan.
Samsung punya laptop, tetapi tidak resmi di Indonesia
Samsung sebenarnya punya lini laptop sendiri bernama Galaxy Book. Nama ini mencakup banyak model, mulai dari Galaxy Book Go yang dibanderol 300 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp5 jutaan, hingga Galaxy Book 6 Pro dan Galaxy Book 6 Ultra.
Spesifikasinya juga kompetitif karena memakai prosesor Intel Core Ultra, layar AMOLED, dukungan S-Pen, konektivitas ke smartphone, dan daya tahan baterai hingga 25 jam. Meski Samsung aktif menjual banyak perangkat lain di Indonesia, laptopnya tetap tidak pernah dirilis secara resmi di pasar ini.
VAIO bertahan, tetapi tidak hadir resmi
VAIO punya sejarah panjang karena awalnya merupakan merek laptop produksi SONY. Laptop ini sempat populer berkat desain khas, performa tinggi, dan nama besar SONY, sebelum akhirnya dijual ke Japan Industrial Partenrs pada 2014.
Keputusan itu diambil karena penjualan VAIO terus menurun. Meski mereknya masih beredar dengan model seperti VAIO FE, S, dan E series, laptop VAIO tetap tidak hadir secara resmi di Indonesia, baik ketika masih di bawah SONY maupun setelah berpindah tangan.
Alienware sempat masuk lalu menghilang
Alienware punya cerita berbeda karena pernah dijual resmi di Indonesia. Namun pada 2016, lini laptop di bawah Dell itu hengkang dari pasar Tanah Air, lalu sempat kembali pada 2021 lewat peluncuran Alienware M15 R6.
Setelah itu, Alienware tidak terdengar lagi di Indonesia. Padahal, merek ini dikenal dengan teknologi seperti Cyro-Chamber, Cyro-Tech, panel OLED 165Hz, dan layar hingga 18 inci, sehingga bisa menjadi pesaing kuat untuk ASUS ROG, Lenovo Legion, dan Acer Nitro.
Framework dan konsep modular yang belum masuk
Framework menarik perhatian karena membawa konsep modular yang sangat fleksibel. Pengguna bisa membuka, membongkar, dan mengganti komponen sendiri, termasuk keyboard, GPU, dan layar, tanpa solder atau pengeleman.
Konsep ini membuat laptop lebih tahan lama dan mudah dikustomisasi. Sayangnya, Framework belum dijual di Indonesia, padahal model seperti ini dinilai cocok untuk pengguna yang ingin perangkat awet dan praktis dipakai dalam jangka panjang.
Keberadaan merek-merek itu menunjukkan bahwa pasar laptop Indonesia memang besar, tetapi tidak selalu menjadi tujuan utama semua produsen. Meski begitu, laptop-laptop unik tersebut tetap bisa ditemui lewat barang bekas, jastip, atau pembelian langsung di luar negeri.
