Samsung Bisa Tinggalkan Flip Phone, Motorola Makin Menguasai Pasar Foldable

Samsung dikabarkan sedang menimbang langkah yang akan mengubah peta persaingan ponsel lipat. Galaxy Z Flip 8 disebut-sebut bisa menjadi model flip terakhir Samsung, sekaligus menandai pergeseran fokus ke lini book-style Galaxy Z Fold.

Jika kabar ini menjadi kenyataan, Samsung tampak rela melepaskan satu segmen yang selama ini identik dengan merek tersebut. Di saat yang sama, ruang itu berpotensi terbuka lebar untuk Motorola, yang sudah kuat di pasar flip foldable, termasuk di Amerika Serikat.

Fokus beralih ke model book-style

Fireuniverse dan sejumlah pembocor rantai pasok menyebut Samsung akan menghentikan lini Galaxy Z Flip dan memusatkan sumber daya pada seri Galaxy Z Fold. Salah satu sumber menilai saat ini tidak ada banyak ruang untuk inovasi tambahan di kategori flip.

Samsung belum memberi komentar atas laporan tersebut, sehingga belum ada kepastian bahwa Galaxy Z Flip 8 benar-benar akan menjadi model terakhir. Namun, rumor yang beredar sudah cukup kuat untuk memunculkan pertanyaan soal arah strategi Samsung di pasar foldable.

Galaxy Z Flip 8 masih muncul dalam bocoran

Meski masa depannya dipertanyakan, Galaxy Z Flip 8 tetap disebut dalam sejumlah bocoran. Perangkat itu dikabarkan akan tampil sangat mirip dengan pendahulunya, dengan desain yang lebih tipis, lipatan layar yang lebih samar, dan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 di wilayah seperti Amerika Utara.

Ponsel ini juga disebut bisa meluncur bersama Galaxy Z Fold 8 dalam acara Samsung Unpacked pada akhir Juli. Kombinasi itu menunjukkan Samsung masih menyiapkan generasi baru, meski masa depan lini Flip setelahnya belum jelas.

Perubahan selera pasar mulai terlihat

Secara historis, Galaxy Z Flip memang lebih laris dibanding Galaxy Z Fold. Alasannya cukup jelas, karena Flip selalu menjadi opsi yang lebih murah dan lebih dekat ke pasar arus utama, sedangkan Fold ditujukan untuk pengguna yang mengejar layar lebih besar dan rela membayar lebih.

Namun, tanda-tanda perubahan mulai muncul. Preorder Galaxy Z Fold 7 dilaporkan sempat melampaui Galaxy Z Flip 7 tahun lalu, meski ponsel lipat model flip itu kemudian kembali mendapat momentum.

Media Korea bahkan menyebut Samsung akan memproduksi lebih banyak Galaxy Z Fold 8 dibandingkan varian Flip-nya. Di saat yang sama, konsumen tampaknya makin tertarik pada ponsel book-style karena kini perangkat seperti itu sudah setipis dan seringan ponsel biasa, meski harganya jauh lebih mahal.

Harga bisa menjadi faktor penentu

Potensi kenaikan harga juga ikut menekan daya tarik model flip. Galaxy Z Flip 8 disebut-sebut bisa naik hingga $200, dan kondisi itu berisiko membuat posisi ponsel lipat yang lebih murah terasa tidak lagi sehemat sebelumnya.

Jika selisih harga makin besar, Samsung bisa menghadapi dilema baru. Lini Flip yang selama ini berperan sebagai pintu masuk foldable justru bisa kehilangan keunggulan utamanya saat konsumen mulai menghitung ulang nilai yang mereka dapatkan.

Motorola bisa diuntungkan paling besar

Jika Samsung benar-benar menghentikan Galaxy Z Flip, maka Motorola berpeluang menjadi pemenang terbesar di kategori flip foldable. Perusahaan itu sudah tampil sangat kuat di pasar ini, terutama di Amerika Serikat dan sejumlah negara penting lainnya.

IDC sempat mencatat Motorola menguasai sekitar 50 persen pasar foldable di Amerika Serikat pada awal tahun. Angka itu muncul sebelum peluncuran Razr Fold, dan hasil tersebut diraih Motorola bahkan saat hanya bertarung lewat perangkat flip-style.

Dengan reputasi Razr yang masih punya bobot di pasar, Samsung berisiko menyerahkan ruang yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas foldable-nya. Sementara itu, jika strategi baru benar-benar mengarah ke book-style, Samsung tampaknya sedang bertaruh bahwa masa depan ponsel lipat ada di layar yang lebih besar, bukan model flip yang lebih ringkas.

Terkait