WhatsApp Diminta Tunda Username, Kekhawatiran Penipuan Makin Menguat

Author: Qoo Media

WhatsApp menghadapi permintaan dari pemerintah India untuk menunda peluncuran fitur username karena dinilai rawan disalahgunakan. Kekhawatiran yang muncul meliputi penipuan, pencurian identitas, impersonasi, serta penyamaran sebagai tokoh publik atau lembaga resmi.

Fitur ini sejatinya dirancang agar pengguna bisa saling terhubung tanpa harus membagikan nomor telepon. WhatsApp sudah membuka opsi pemesanan username, meski peluncuran penuhnya baru akan dilakukan bertahap pada akhir 2026.

Kekhawatiran India soal keamanan dan privasi

Pemerintah India menyampaikan keberatan melalui surat resmi. Mereka merujuk pada ketentuan dalam IT Act 2000, IT Rules 2021, dan aturan lain yang berlaku untuk meminta penundaan fitur tersebut.

Alasan utamanya berkaitan dengan potensi risiko keamanan dan privasi pengguna. Pemerintah menilai username bisa dimanfaatkan untuk menipu orang lain dengan mudah jika tidak dibarengi pengamanan yang kuat.

Sorotan terbesar datang dari kemungkinan penyalahgunaan identitas. Dalam pandangan pemerintah India, fitur ini bisa dipakai untuk meniru akun tokoh publik, akun resmi pemerintah, atau lembaga tertentu.

Respons WhatsApp dan lapisan perlindungan

WhatsApp menegaskan bahwa username tidak akan menggantikan nomor telepon sebagai syarat utama pembuatan akun. Perusahaan menyebut nomor telepon tetap diperlukan sehingga identitas dasar pengguna tetap terikat pada nomor yang valid.

Dalam pernyataannya, WhatsApp juga mengatakan telah menyiapkan sejumlah perlindungan untuk mencegah penyalahgunaan. Salah satunya adalah mengunci username milik tokoh publik, instansi pemerintah, selebritas, dan akun Meta yang telah terverifikasi agar hanya bisa dipakai oleh pemilik sah.

Nama-nama yang menyerupai akun resmi juga akan dibatasi. Langkah ini ditujukan untuk menekan risiko peniruan identitas yang kerap dimanfaatkan dalam modus penipuan digital.

Pembatasan pesan dan deteksi aktivitas mencurigakan

WhatsApp menyebut pengguna lain harus mengetahui username secara tepat untuk bisa menghubungi seseorang. Dengan mekanisme itu, perusahaan berharap komunikasi tidak berlangsung sembarangan seperti pada sistem yang sangat terbuka.

Perusahaan juga akan membatasi jumlah orang baru yang bisa dihubungi sebuah akun. Selain itu, WhatsApp akan memblokir upaya berulang untuk menebak username seseorang, yang sering menjadi pola awal dalam penyalahgunaan.

Sistem keamanan lain juga disiapkan untuk mendeteksi dan menghapus aktivitas yang menunjukkan pola penyamaran identitas maupun penyalahgunaan. WhatsApp menempatkan perlindungan ini sebagai bagian dari upaya menjaga fitur tetap aman saat digunakan lebih luas.

Informasi tambahan saat menerima pesan pertama

WhatsApp juga menambahkan informasi tambahan bagi pengguna yang menerima pesan pertama dari akun yang menghubungi melalui username. Informasi itu mencakup apakah akun tersebut baru dibuat, sudah tersimpan sebagai kontak, memiliki grup yang sama, atau berasal dari negara lain.

Dengan data tersebut, pengguna mendapat konteks awal sebelum memutuskan untuk membalas. Langkah ini dinilai penting karena pesan dari akun baru sering kali menjadi pintu masuk berbagai modus penipuan.

Di tengah rencana peluncuran bertahap pada akhir 2026, perdebatan soal username memperlihatkan bahwa fitur yang memudahkan komunikasi juga perlu dibarengi kontrol keamanan yang ketat. WhatsApp kini berada pada posisi untuk meyakinkan regulator bahwa sistem barunya bisa memberi kemudahan tanpa membuka celah besar bagi penipuan dan impersonasi.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru