Krisis pasokan memori kini membuat DDR4 masuk ke situasi yang jarang terjadi: harganya melonjak lebih dari 50% dalam satu kuartal, sementara DDR3 justru tercatat lebih mahal per gigabit daripada DDR5. Anomali ini menunjukkan tekanan besar di pasar memori global, dan dampaknya mulai merambat ke PC, laptop, server, hingga perangkat penyimpanan.
gadget.viva.co.id mencatat bahwa lonjakan ini bukan sekadar gejolak singkat. Sejumlah analis industri memproyeksikan tren harga komponen memori akan tetap tinggi hingga 2028 karena pasokan terus menyusut di tengah permintaan yang belum ikut turun.
DDR3 yang Tertinggal, Tapi Justru Lebih Mahal
Salah satu fakta paling mengejutkan dari situasi ini adalah terbaliknya struktur harga memori lama dan baru. DDR3 4Gb tercatat berada di level $3,19 per gigabit, sedangkan DDR5 16Gb ada di $2,94 per gigabit.
Perbandingan itu memperlihatkan bahwa memori generasi lama tidak lagi identik dengan harga yang lebih murah. Penyebab utamanya ada pada perubahan arah produksi para pemain besar industri semikonduktor.
| Jenis Memori | Kapasitas | Harga per Gigabit |
|---|---|---|
| DDR3 | 4Gb | $3,19 |
| DDR5 | 16Gb | $2,94 |
AI Menggeser Prioritas Produksi
Samsung, SK Hynix, dan Micron kini hampir sepenuhnya meninggalkan DDR4 dan DDR3 untuk fokus pada produk dengan margin lebih tinggi. Arah baru itu mencakup HBM untuk AI, DDR5 untuk data center, dan LPDDR5X untuk smartphone flagship.
Ledakan permintaan AI menjadi salah satu faktor terbesar di balik perubahan ini. GPU seperti NVIDIA H100 dan Blackwell membutuhkan HBM dalam jumlah besar, dan setiap unit bisa memakai 120–192 GB memori tersebut.
Karena kapasitas produksi dialihkan ke produk yang lebih menguntungkan, pasokan DDR4 dan DDR3 menyempit cepat. Di saat yang sama, kebutuhan di segmen lama belum hilang dan masih menahan permintaan pada level tinggi.
Permintaan DDR4 Masih Kuat di Banyak Sektor
DDR4 belum bisa ditinggalkan begitu saja karena masih dipakai di banyak sistem aktif. Server lama, PC entry-level, laptop menengah, dan sebagian besar SSD enterprise masih mengandalkan memori jenis ini.
SSD enterprise, misalnya, masih membutuhkan DRAM cache untuk menjaga performa dan daya tahan. Pada saat yang sama, banyak perangkat konsumen kelas menengah tetap memilih DDR4 karena biaya sistemnya lebih rendah dibanding platform yang lebih baru.
Gabungan antara pasokan yang menipis dan permintaan yang bertahan inilah yang menciptakan tekanan harga. Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak insentif bagi produsen besar untuk kembali memproduksi memori murah dalam jumlah besar.
Dampaknya Mulai Terasa di Konsumen
Kenaikan harga DDR4 diperkirakan tidak berhenti di rantai pasok, tetapi akan masuk ke harga jual perangkat. PC rakitan dan laptop di bawah Rp15 juta menjadi salah satu segmen yang paling rentan terdampak.
Modul 16GB yang sebelumnya berada di kisaran $40 bisa naik menjadi $60. Jika kenaikan itu diteruskan ke produk akhir bersama komponen lain, harga jual bisa bertambah sekitar Rp300–500 ribu atau lebih.
Efek serupa juga bisa muncul pada smartphone kelas menengah yang masih memakai LPDDR4X, yaitu varian mobile dari DDR4. Produsen dapat menaikkan harga, mengurangi kapasitas RAM, atau mencari platform yang lebih murah dengan konsekuensi performa.
SSD Juga Tidak Luput
Perangkat penyimpanan ikut berada dalam tekanan yang sama. SSD dengan DRAM cache seperti Samsung 980 dan WD Blue SN580 berpotensi terdampak karena komponen memorinya ikut mahal.
Jika harga terus naik, sebagian vendor bisa beralih ke DRAM-less SSD. Pilihan itu memang lebih hemat, tetapi biasanya lebih lambat dan kurang tahan lama dibanding model yang memakai DRAM cache.
Upaya Tambahan Masih Terbatas
Ada sedikit ruang perbaikan dari sisi pasokan. Micron disebut telah memulai kembali produksi massal DDR4 dan LPDDR4 di pabrik Manassas, Virginia, dengan proses 1α node yang lebih efisien.
Namun, langkah itu belum cukup untuk menutup kekurangan global. Samsung dan SK Hynix belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke produksi DDR4 dalam skala besar, sehingga tekanan pasar masih besar.
| Faktor Utama | Dampak | Arah Pasar |
|---|---|---|
| Ledakan permintaan AI | HBM jadi prioritas produksi | Pasokan DDR4 menyusut |
| Alih lini produksi | DDR3 dan DDR4 ditinggalkan | Harga naik tajam |
| Permintaan legacy tetap tinggi | Server, PC, dan SSD masih butuh DDR4 | Tekanan harga bertahan |
Yang Justru Diuntungkan
Di tengah situasi ini, Nanya Technology dan Winbond berada dalam posisi yang lebih kuat karena menjadi pemasok utama DDR4 dan DDR3. Keduanya bisa menetapkan harga premium dan memilih mitra jangka panjang.
Meski begitu, ruang ekspansi mereka tidak besar. Keterbatasan akses ke peralatan fabrikasi canggih dan bahan baku membuat penambahan kapasitas berjalan lambat, sehingga pasar belum bisa berharap banyak dalam waktu dekat.
Selama pabrik-pabrik besar tetap memprioritaskan HBM, DDR5, dan LPDDR5X, pasar DDR4 kemungkinan masih akan bergerak dalam kondisi ketat. Bagi konsumen, itu berarti memori yang dulu dianggap “standar” kini justru bisa menjadi salah satu komponen yang paling mahal untuk dibeli.
