Tablet murah yang terlihat menggiurkan sering menyimpan risiko yang baru terasa setelah dipakai. Pada Juli 2026, jebakan paling sering bukan ada di harga, melainkan di spesifikasi yang tampak besar di atas kertas tetapi lemah saat digunakan.
Di pasar gawai yang ramai, pembeli pemula mudah terpancing oleh angka RAM, kapasitas internal, atau embel-embel Android terbaru. Namun, techno.viva.co.id mencatat ada lima kesalahan fatal yang kerap membuat pembeli menyesal karena produk yang dipilih ternyata tidak siap dipakai untuk kebutuhan harian.
1. Tergiur RAM Semu yang Terlihat Besar
Banyak tablet murah di 2026 mempromosikan RAM hingga 12 GB, padahal RAM asli yang tertanam sering hanya 4 GB. Sisanya berasal dari Virtual RAM yang mengambil ruang dari memori internal dan kecepatannya jauh lebih lambat.
Akibatnya, tablet tetap terasa lambat saat dipakai multitasking meski angka RAM di brosur terlihat meyakinkan. Bagi pemula, ini jadi salah satu perangkap paling mudah karena tampilan spesifikasi terlihat sangat tinggi.
2. Mengabaikan Chipset yang Sudah Lawas
Nama chipset pada tablet murah kerap dibuat generik sehingga pembeli tidak langsung tahu performa aslinya. Pada tahun 2026, perangkat dengan fabrikasi di atas 12 nanometer berisiko lebih boros daya dan lebih cepat panas.
Karena itu, ulasan independen sebaiknya dicek sebelum membeli, bukan hanya mengandalkan lembar spesifikasi. Chipset yang salah pilih bisa membuat tablet terasa tertinggal sejak awal pemakaian.
3. Memilih Layar Murah Tanpa Perlindungan Mata
Untuk menekan biaya, banyak tablet memakai panel dengan resolusi di bawah Full HD atau 1080p. Hasilnya, tampilan visual bisa terlihat pecah dan kurang nyaman dipandang dalam penggunaan panjang.
Masalahnya tidak berhenti di sana, karena layar tanpa perlindungan low blue light juga berpotensi mengganggu kesehatan mata. Ini terutama perlu diperhatikan jika tablet akan dipakai anak-anak atau pelajar.
4. Tidak Memeriksa Tipe Penyimpanan Internal
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah membeli tablet murah tanpa memperhatikan jenis memori internalnya. Di era aplikasi modern, penyimpanan eMMC dianggap sudah tidak lagi relevan karena pemuatan data berlangsung lambat.
Jika ada pilihan yang lebih baik, setidaknya cari tablet murah yang sudah memakai UFS 2.1 atau di atasnya. Perbedaan ini sangat terasa saat aplikasi dibuka, data dipindahkan, atau sistem bekerja bersamaan dengan banyak file.
5. Terjebak Android Lama Tanpa Jaminan Update
Banyak tablet murah masih dirilis dengan Android lawas yang sudah dimodifikasi. Imbasnya, perangkat semacam ini sering tidak mendapat pembaruan keamanan dasar.
Dalam hitungan bulan, beberapa aplikasi perbankan atau hiburan populer bahkan bisa gagal dipasang karena masalah kompatibilitas sistem. Karena itu, versi sistem operasi dan jaminan update perlu dicek sejak awal agar tablet tidak cepat tertinggal.






