Lonjakan biaya komponen pada 2026 membuat pilihan membeli HP baru murah tidak lagi selalu menjadi jalan paling hemat. Di tengah tekanan harga ini, flagship bekas rilisan satu atau dua tahun lalu dinilai menawarkan nilai pakai yang lebih tinggi.
Konsumen kini berhadapan dengan dua pilihan yang makin kontras, yakni perangkat entry-level baru dengan spesifikasi yang dipangkas atau ponsel premium bekas dengan kemampuan lebih lengkap. Perubahan ini terjadi ketika biaya produksi smartphone naik akibat pasokan memori global yang mengetat.
Tekanan Memori Mengerek Harga Smartphone
Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau AI meningkatkan kebutuhan terhadap cip memori berkecepatan tinggi. Permintaan tersebut mempersempit pasokan RAM dan memori penyimpanan NAND yang juga dibutuhkan industri smartphone.
Gartner melaporkan gabungan harga DRAM dan SSD melonjak hingga 130 persen. Dampaknya, harga jual rata-rata perangkat pintar baru naik setidaknya 13 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
| Indikator | Perubahan | Dampak |
|---|---|---|
| Harga DRAM dan SSD | Naik hingga 130 persen | Biaya komponen smartphone meningkat |
| Harga rata-rata perangkat pintar baru | Naik minimal 13 persen | Harga jual semakin menekan konsumen |
| Pasar refurbished global | Diproyeksikan tumbuh 15,4 persen pada 2026 | Minat terhadap perangkat bekas terorganisir meningkat |
Counterpoint Research juga mencatat harga memori terus bergerak naik hingga kuartal kedua 2026. Kondisi itu menekan margin produsen dan memaksa mereka mencari cara untuk mempertahankan harga jual perangkat.
Tekanan biaya paling terasa pada segmen entry-level karena ruang untuk menaikkan harga lebih terbatas. Agar tetap berada di kisaran yang dianggap terjangkau, vendor berpotensi mengurangi konfigurasi perangkat kelas bawah.
HP Murah Baru Berisiko Kehilangan Banyak Kompromi
Pemangkasan spesifikasi pada HP entry-level 2026 dapat muncul dalam bentuk penggunaan chipset yang lebih lama. Resolusi layar, jumlah sensor kamera, serta material bodi juga menjadi area yang rentan dikurangi.
Situasi tersebut membuat perangkat murah baru tidak selalu membawa peningkatan teknologi yang berarti bagi pembeli. Dalam beberapa kasus, kemampuan perangkatnya bahkan dapat berada di bawah standar gawai yang dirilis dua tahun sebelumnya.
Menurut laporan yang dikutip techno.viva.co.id, kenaikan biaya bill of materials atau BoM menjadi salah satu alasan utama vendor melakukan kompromi tersebut. Konsumen pun perlu melihat nilai penggunaan jangka panjang, bukan hanya status perangkat yang masih baru.
Alasan Flagship Bekas Menjadi Alternatif
Flagship bekas umumnya membawa fondasi perangkat keras yang sejak awal dirancang untuk kelas premium. Sasis aluminium, kaca pelindung kelas atas, dan perlindungan tahan air dengan IP-rating resmi menjadi keunggulan yang sulit ditemukan pada kelas entry-level.
Dari sisi performa, prosesor premium generasi sebelumnya masih dapat menawarkan efisiensi daya dan kemampuan grafis yang melampaui cip kelas bawah terbaru. Keunggulan ini membuat perangkat bekas berkelas flagship tetap relevan untuk penggunaan jangka panjang.
Dukungan perangkat lunak juga menjadi pertimbangan penting sebelum membeli. Merek besar disebut telah menyediakan pembaruan sistem operasi hingga lima sampai tujuh tahun bagi lini premium mereka, sehingga perangkat bekas masih berpeluang menerima pembaruan keamanan dan sistem dalam waktu lebih lama.
CCS Insight memproyeksikan pasar HP refurbished global tumbuh 15,4 persen sepanjang 2026. Pertumbuhan itu mencerminkan pergeseran pembeli yang mulai mempertimbangkan ponsel premium bekas ketika harga perangkat baru semakin mahal dan spesifikasi kelas bawah makin banyak dikompromikan.







