TikTok sedang menguji teknologi AI yang dirancang untuk membantu kreator menemukan konten deepfake yang diduga memakai wajah mereka tanpa persetujuan. Jika sistem menemukan kemiripan, kreator dapat meninjau konten tersebut lalu melaporkan unggahan atau akun terkait.
Fitur ini menjadi penting ketika AI generatif makin mudah dipakai untuk membuat video dan gambar yang menyerupai orang sungguhan. Bagi kreator, penyalahgunaan kemiripan wajah dapat terjadi tanpa mereka mengetahui konten itu telah beredar.
Deteksi Hanya Berjalan Setelah Verifikasi
Fitur bernama AI Likeness Detection tidak aktif secara otomatis untuk seluruh pengguna TikTok. Kreator harus memilih untuk ikut serta dan menyelesaikan verifikasi identitas melalui layanan Jumio terlebih dahulu.
Proses tersebut meminta kreator mengunggah kartu identitas serta melakukan swafoto langsung. Setelah verifikasi selesai, sistem dapat memindai konten berbasis AI yang berpotensi menggunakan kemiripan wajah kreator.
Apabila ada hasil yang dianggap cocok, TikTok akan mengirimkan notifikasi agar kreator dapat memeriksanya lebih dulu. Keputusan untuk melaporkan konten tetap berada di tangan kreator, sehingga kemunculan notifikasi tidak serta-merta membuat unggahan dihapus.
Juru bicara TikTok AS Zachary Kizer menyatakan perusahaan tidak menyimpan dokumen identitas pengguna. Data wajah digunakan untuk mencocokkan kemiripan kreator dengan konten AI yang terdeteksi sistem.
Pengujian Masih Terbatas di Amerika Serikat
Konsultan media sosial Matt Navarra pertama kali menemukan keberadaan uji coba fitur tersebut. TikTok kemudian mengonfirmasi kepada The Verge pada Sabtu (18/7/2026) bahwa pengujian baru tersedia bagi sebagian kecil kreator di Amerika Serikat.
Keterbatasan pengujian itu menunjukkan fitur ini belum menjadi perlindungan yang bisa dipakai semua kreator di platform tersebut. TikTok juga belum menyebutkan kapan program itu akan diperluas ke lebih banyak pengguna atau wilayah lain.
Beritasatu.com melaporkan pendekatan TikTok berbeda dari layanan yang memasukkan pengguna ke program AI secara otomatis. Dalam uji coba ini, persetujuan aktif dan verifikasi identitas menjadi syarat sebelum pendeteksian kemiripan wajah dimulai.
| Platform | Langkah terkait kemiripan wajah | Status atau cakupan |
|---|---|---|
| TikTok | Menguji AI Likeness Detection untuk mendeteksi dugaan deepfake | Terbatas untuk sebagian kecil kreator di AS |
| YouTube | Memperluas fitur pendeteksi kemiripan wajah | Kreator berusia di atas 18 tahun dan selebritas |
| Meta | Meluncurkan Muse Image memakai foto publik Instagram | Ditarik tiga hari setelah peluncuran |
Kontras dengan Langkah YouTube dan Meta
YouTube lebih dahulu memperluas fitur pendeteksi kemiripan wajah untuk kreator yang berusia di atas 18 tahun. Awal tahun ini, perlindungan serupa di YouTube juga diperluas kepada kalangan selebritas.
Sementara itu, Meta sempat menghadapi kritik setelah meluncurkan Muse Image yang memungkinkan pembuatan gambar AI menggunakan foto publik dari Instagram. Fitur itu langsung menyertakan seluruh pengguna secara otomatis dan akhirnya ditarik hanya tiga hari kemudian setelah memicu protes luas.
Pilihan TikTok untuk meminta persetujuan sebelum memulai pemindaian menempatkan kontrol pada kreator yang ingin memakai perlindungan tersebut. Mekanisme ini juga memperlihatkan bahwa isu deepfake tidak hanya berkaitan dengan kemampuan AI membuat konten, tetapi juga dengan hak seseorang atas kemiripan dirinya di platform digital.







