Apple tengah menghadapi kritik tajam menyusul pengumuman terkait iPhone 17 Air, yang dikabarkan akan hadir dengan kapasitas baterai di bawah 3.000 mAh. Dengan angka yang hanya berkisar antara 2.800 mAh, banyak pengguna mempertanyakan keputusan perusahaan yang memilih mengorbankan kapasitas baterai demi desain yang lebih tipis. Hal ini jelas menjadi sorotan utama menjelang peluncuran resmi perangkat pada September 2025.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tipster terkemuka seperti Instant Digital, keputusan untuk memangkas kapasitas baterai ini diambil supaya iPhone 17 Air menjadi iPhone tertipis yang pernah ada, dengan ketebalan hanya 5,5 mm. Namun, langkah ini menjadi kontroversi, terutama karena perangkat ini akan dilengkapi dengan layar besar berukuran 6,6 inci dan refresh rate 120 Hz, yang dikenal dapat menguras daya baterai lebih cepat.
Kombinasi antara layar besar dan kapasitas baterai kecil ini dinilai tidak seimbang. Menurut bocoran yang beredar, hanya 60% hingga 70% pengguna yang mungkin dapat menggunakan ponsel ini seharian penuh tanpa perlu mengisi daya. Hal ini semakin memperburuk masalah ketika ditambah dengan fakta bahwa banyak fitur di iPhone 17 Air dapat mempercepat penggunaan daya.
Mengatasi masalah ini, Apple berencana untuk meluncurkan fitur perangkat lunak baru bernama Adaptive Power di iOS 26. Fitur ini dirancang untuk memperpanjang masa pakai baterai dengan cara menurunkan kecerahan layar serta membatasi aktivitas latar belakang. “Kami berusaha memberikan pengalaman terbaik meski dengan kapasitas baterai yang lebih kecil,” kata seorang perwakilan Apple yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
Dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi daya, iPhone 17 Air juga akan didukung oleh cip A19 yang berarsitektur 3nm dan RAM 12GB yang lebih hemat energi dibandingkan pendahulunya. Selain itu, perangkat ini dilengkapi dengan modem C1 dan chip Wi-Fi internal yang diperkirakan dapat mengurangi konsumsi daya.
Meski dengan berbagai optimasi yang dilakukan, sejumlah pengamat teknologi tetap skeptis. Mereka berpendapat bahwa meskipun iPhone 17 Air mengklaim memiliki layar yang lebih efisien dalam penggunaan daya, hukum fisika tetap berlaku: layar besar memerlukan baterai yang lebih besar. Ini membuat para pengguna kemungkinan harus mencari solusi alternatif, seperti charger eksternal atau casing baterai tambahan yang kabarnya juga akan dirilis bersamaan dengan perangkat.
Kritik terhadap iPhone 17 Air ini menunjukkan bagaimana konsumen kini semakin peka terhadap performa baterai, terutama di era di mana smartphone menjadi alat sehari-hari yang vital. Dalam konteks ini, Apple jelas harus menyeimbangkan antara inovasi desain dan kebutuhan dasar pengguna akan daya tahan baterai yang memadai.
Pembeli potensial kini dihadapkan pada dilema. Apakah mereka akan tetap memilih iPhone 17 Air demi desain menarik, atau menghindarinya demi kebutuhan akan daya tahan baterai yang lebih baik? Dengan situasi ini, Apple harus memikirkan langkah strategis ke depan di pasar yang semakin kompetitif, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari desain, tapi juga dari performa teknologi yang memenuhi ekspektasi pengguna.







