Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Apple, saat ini menghadapi penyelidikan kriminal di Prancis terkait tuduhan bahwa asisten virtualnya, Siri, merekam percakapan pengguna tanpa persetujuan yang jelas. Penyidikan ini sudah masuk ke unit kejahatan siber nasional Prancis setelah sebuah LSM di negara tersebut mengajukan keluhan resmi pada Februari 2025.
Keluhan ini muncul berdasarkan kesaksian Thomas Le Bonniec, mantan pekerja kontraktor Apple yang pernah bekerja sebagai analis kualitas suara pada tahun 2019. Ia mengaku telah mendengarkan ribuan rekaman Siri selama bertugas, yang sering berisi momen pribadi dan informasi sensitif pengguna. Menurut Le Bonniec, rekaman tersebut berpotensi mengungkap identitas pengguna secara langsung, yang menjadi perhatian soal pelanggaran privasi.
Tuduhan dan Bukti dari Mantan Pekerja
Thomas Le Bonniec bekerja untuk perusahaan kontraktor Globe Technical Services yang berbasis di Irlandia. Tugasnya adalah meninjau dan memberi anotasi pada rekaman suara untuk meningkatkan akurasi Siri. Namun, ia mengungkapkan bahwa rekaman audio tersebut tidak jarang memuat pembicaraan yang sangat pribadi dan rahasia pengguna, yang seharusnya tidak boleh diakses tanpa izin eksplisit. Ia menilai ini merupakan masalah serius yang harus segera dihentikan dan diperjelas oleh pihak Apple.
Le Bonniec juga menyampaikan pertanyaan kritis mengenai jumlah rekaman yang telah dikumpulkan sejak peluncuran Siri dan lokasi penyimpanan data tersebut. Isu ini semakin menegaskan kekhawatiran akan penyalahgunaan data pribadi pengguna oleh perusahaan teknologi besar.
Klarifikasi dan Respons Apple
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Apple di Prancis menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah menggunakan data dari Siri untuk membuat profil pemasaran, membagikannya ke pengiklan, atau menjual data tersebut kepada pihak ketiga. Apple menyatakan bahwa mereka sangat memprioritaskan privasi pengguna dan sudah memperketat kebijakan pengelolaan data sejak tahun 2019.
Apple juga menyebutkan bahwa mulai Januari 2025, mereka hanya akan menyimpan rekaman audio dari interaksi Siri jika pengguna memberikan persetujuan secara eksplisit. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perlindungan data dan transparansi yang lebih baik, guna menghindari penyalahgunaan informasi pribadi.
Kasus Serupa di Amerika Serikat
Masalah privasi yang terkait dengan Siri tidak hanya terjadi di Prancis. Pada awal tahun 2025, Apple menyetujui penyelesaian gugatan class action senilai 95 juta dolar AS di Amerika Serikat. Gugatan ini diajukan oleh pengguna yang menuduh Siri secara tidak sengaja merekam percakapan pribadi mereka tanpa izin dan bahwa rekaman tersebut pernah ditinjau oleh pihak ketiga untuk keperluan pengujian kualitas.
Sebagai bagian dari penyelesaian, Apple diwajibkan memberikan kompensasi hingga 20 dolar AS per perangkat kepada pengguna produk Apple yang aktif antara tahun 2014 hingga 2024. Selain itu, perusahaan juga diperintahkan untuk menghapus semua rekaman Siri lama dalam kurun waktu enam bulan sejak keputusan tersebut.
Implikasi bagi Privasi Pengguna dan Teknologi Asisten Virtual
Kasus yang menimpa Apple di Prancis ini menambah daftar panjang kekhawatiran publik terkait pelanggaran privasi oleh teknologi asisten suara. Para ahli keamanan dan organisasi perlindungan data semakin menuntut transparansi yang lebih besar dan regulasi yang ketat atas proses pengumpulan dan penyimpanan data suara dari pengguna.
Pengguna disarankan untuk selalu memeriksa pengaturan privasi perangkat mereka dan memberikan persetujuan secara sadar mengenai data apa saja yang boleh dikumpulkan oleh teknologi asisten virtual. Sementara itu, perusahaan-perusahaan teknologi terus didorong untuk meningkatkan kontrol data dan menyediakan opsi bagi pengguna agar dapat mengelola rekaman suara mereka dengan mudah.
Penyelidikan di Prancis ini menjadi titik penting dalam upaya pengawasan terhadap praktik pengumpulan data oleh perusahaan teknologi global, sekaligus mengingatkan soal pentingnya hak privasi dalam penggunaan layanan digital sehari-hari.
Source: disway.id
