OpenAI mengumumkan bahwa ChatGPT akan segera dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan percakapan yang lebih bersifat erotis atau vulgar secara eksklusif untuk pengguna dewasa yang terverifikasi. Perubahan kebijakan ini menandai langkah besar bagi OpenAI, yang selama hampir tiga tahun melarang segala bentuk konten dewasa di platform mereka.
CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan bahwa perusahaan tidak bermaksud menjadi “polisi moral dunia.” Ia menambahkan bahwa mereka ingin memberi kebebasan lebih kepada pengguna dewasa, sembari tetap memastikan akses bagi remaja tetap dibatasi dengan ketat. Hal ini menunjukkan upaya OpenAI untuk meningkatkan fleksibilitas fitur sambil mempertimbangkan aspek perlindungan pengguna muda.
Langkah OpenAI ini bukan hal baru di dunia teknologi AI. Sejak kemunculan teknologi AI generatif pada 2022, sejumlah platform telah bereksperimen dengan fitur yang menghadirkan percakapan atau gambar bernuansa seksual. Namun demikian, inovasi dalam ranah ini selalu diiringi dengan tantangan hukum dan etika, termasuk risiko penyalahgunaan teknologi oleh pengguna yang tidak bertanggung jawab.
Menurut Sam Altman, integrasi fitur percakapan dewasa dalam ChatGPT juga merupakan bagian strategi bagi OpenAI untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Selama ini, perusahaan memang tercatat “membakar uang” atau mengeluarkan biaya lebih besar dibanding pendapatan yang diperoleh. Dengan memungkinkan konten dewasa, Altman berharap dapat meningkatkan pendapatan dari segmen pasar yang lebih luas.
Pendapat senada juga disampaikan oleh Zilan Qian, peneliti dari Oxford University’s China Policy Lab. Menurutnya, kehadiran fitur percakapan erotis bisa menjadi sumber pendapatan cepat bagi OpenAI. “Mereka belum mendapatkan banyak pemasukan dari langganan, jadi menghadirkan konten erotis bisa menjadi sumber uang cepat,” ujarnya. Qian juga mencatat bahwa terdapat sekitar 29 juta pengguna aktif chatbot AI yang didesain khusus untuk hubungan romantis atau seksual, belum termasuk pengguna yang memanfaatkan ChatGPT untuk tujuan serupa.
Di sisi lain, tren membuka akses konten vulgar dan erotis di platform AI seperti ChatGPT menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Qian memperingatkan dampak negatif potensial terhadap hubungan manusia di dunia nyata. Chatbot AI bisa memberikan interaksi emosional maupun seksual secara terus-menerus dan tanpa batas waktu, yang berpotensi menggantikan interaksi sosial manusia secara alami. “ChatGPT sudah memiliki versi dengan suara. Jadi, apabila mereka melangkah ke arah ini, maka suara, teks, dan visual akan terintegrasi,” tambah Qian.
Kebijakan terbaru OpenAI ini sekaligus menyinggung pergulatan perusahaan dalam menghadapi tuntutan komersial dan tekanan sosial. Sementara ada peluang finansial dari segmen konten dewasa, perusahaan harus tetap menjaga batas agar fitur tersebut tidak disalahgunakan atau melanggar norma hukum dan etika di berbagai negara.
Berbagai aspek teknis juga harus diperhatikan, termasuk sistem verifikasi usia yang ketat agar fitur vulgar hanya diakses oleh pengguna dewasa. Pengawasan dan regulasi internal diperlukan agar fitur ini tidak disalahgunakan oleh kalangan yang belum memenuhi syarat usia. OpenAI kemungkinan akan mengkombinasikan verifikasi identitas digital dengan teknologi pemantauan percakapan secara otomatis.
Dengan langkah ini, ChatGPT menghadirkan wajah baru yang lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan pengguna dewasa. Namun, perusahaan harus terus memantau dampak sosial yang mungkin timbul dan memastikan standar keamanan dan etika tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin maju.
Source: www.beritasatu.com





