
Kasus pencurian dokumen rahasia skala besar tengah mengguncang salah satu perusahaan teknologi ternama dunia. Seorang mantan karyawan Intel diduga membawa kabur hampir 18.000 dokumen penting milik perusahaan selepas pemutusan hubungan kerja.
Berkas yang diambil oleh eks karyawan bernama Jinfeng Luo ini sebagian besar berisi informasi rahasia strategis yang sangat bernilai. Aksi tersebut langsung mendapat perhatian karena menyangkut kerahasiaan bisnis dan kredibilitas Intel sebagai produsen chip global.
Kronologi Pencurian Data
Intel menggugat Luo atas tuduhan pencurian informasi rahasia selepas ia dipecat pada bulan Juli. Luo diketahui sudah bekerja selama sembilan tahun pada bagian otomasi desain elektronik. Selepas diberhentikan, Luo memanfaatkan waktu singkat sebelum kehilangan akses ke sistem perusahaan.
Menurut keterangan dari Intel, Luo pertama kali mencoba memindahkan semua data dari hard drive perusahaan pada tanggal 23 Juli, namun upaya itu gagal dicegah oleh sistem keamanan internal. Lima hari kemudian, Luo menggunakan perangkat penyimpanan terhubung jaringan (NAS) untuk mengunduh hampir 18.000 dokumen dari akun dan laptop miliknya yang terkait dengan Intel.
Perusahaan menegaskan sebagian besar dokumen tersebut diklasifikasikan sebagai informasi sangat rahasia dan berpotensi membahayakan kompetitif Intel di pasar global.
Respons dan Tindakan Intel
Pihak Intel mulai kesulitan menghubungi Luo yang diduga berbasis di Seattle setelah kejadian tersebut. Upaya mengirim surat resmi kepada Luo tidak mendapat respons. Kondisi ini memaksa Intel mengambil jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban dan pengembalian semua dokumen rahasia.
Dalam gugatan yang diajukan, Intel juga mengungkap bahwa aksi ilegal Luo tetap terdeteksi oleh sistem IT mereka meskipun ia berhasil mengunduh data dengan NAS. Gugatan Intel mengutip, “Tak lama usai Luo diberi tahu tentang pemutusan hubungan kerja, ia menggunakan NAS dan mengunduh hampir 18.000 berkas dari akun dan laptop Intel,” demikian keterangan yang disampaikan perusahaan dan dikutip dari PC Mag.
Risiko dan Dampak Kebocoran Data
Kebocoran data seperti ini menimbulkan sejumlah potensi kerugian besar bagi perusahaan, antara lain:
- Hilangnya keunggulan kompetitif jika informasi bisnis jatuh ke tangan pesaing.
- Resiko teknologi rahasia bocor dan digunakan untuk pengembangan produk oleh perusahaan lain.
- Terganggunya kepercayaan mitra bisnis dan investor terhadap sistem keamanan perusahaan.
Intel menegaskan pentingnya pencadangan data dan pengamanan akses internal, terutama terhadap karyawan yang status kerjanya berakhir atau tidak aktif. Pengawasan terhadap perangkat IT karyawan juga menjadi hal utama untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa yang akan datang.
Penanganan Hukum dan Proses Investigasi
Tindakan yang diambil Intel termasuk langkah hukum berupa gugatan kepada Luo, serta permintaan pengembalian seluruh informasi yang diunduh. Proses hukum ini masih berlangsung karena keberadaan Luo belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Surat resmi yang dikirimkan belum mendapatkan balasan, membuat kasus ini terus menjadi perhatian.
Investigasi terus dilakukan oleh tim keamanan siber internal. Sejumlah badan penegak hukum setempat diduga juga telah dilibatkan untuk membantu pelacakan dan pemeriksaan lebih lanjut. Gugatan ini menjadi peringatan bagi banyak perusahaan teknologi dalam mengelola data serta risiko keamanan dari pihak internal.
Insiden pembobolan data oleh orang dalam seperti yang dialami oleh Intel juga menjadi contoh nyata perlunya tata kelola keamanan data secara ketat. Perusahaan teknologi global kini semakin memperkuat sistem monitoring dan evaluasi integritas karyawan, khususnya pada masa transisi atau pemutusan hubungan kerja.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com





