Pemerintah Singapura Minta Apple dan Google Blokir Pesan Penipuan untuk Lindungi Warga

Pemerintah Singapura melalui Kepolisian telah memerintahkan Apple dan Google untuk mengambil langkah konkret mencegah penyebaran pesan penipuan yang mengatasnamakan lembaga pemerintah. Instruksi ini khusus ditujukan untuk platform iMessage milik Apple dan Google Messages guna mengatasi praktik spoofing atau pemalsuan identitas pengirim SMS yang bernama “gov.sg” dan lembaga resmi lainnya.

Menteri Dalam Negeri Singapura menjelaskan bahwa spoofing adalah teknik yang digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk menyamar sebagai pihak terpercaya. Oleh karena itu, Apple dan Google diwajibkan untuk mencegah munculnya nama profil atau grup yang menyamar menyerupai “gov.sg” dan nama-nama instansi pemerintah. Langkah ini juga mencakup pemfilteran pesan dari akun-akun tersebut untuk mengurangi risiko penipuan.

Teknik dan Aturan yang Diterapkan
Apple dan Google harus memastikan bahwa pengirim yang tidak dikenal tidak menampilkan nama profil secara jelas atau bahkan menampilkan nama tersebut kurang menonjol daripada nomor telepon aslinya. Hal ini sengaja dilakukan agar pengguna dapat lebih mudah mengenali pengirim yang tidak dikenal dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pesan penipuan. Kementerian Dalam Negeri menegaskan bahwa ini adalah bentuk perlindungan bagi masyarakat agar tidak mudah terjebak pada modus penipuan yang semakin canggih.

Instruksi ini diterbitkan berdasarkan Online Criminal Harms Act dan menuntut kepatuhan penuh paling lambat pada akhir pekan terakhir November 2025. Menanggapi perintah tersebut, Apple dan Google menyatakan kesiapan mereka untuk mematuhi aturan yang diberlakukan oleh otoritas Singapura. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk secara rutin memperbarui aplikasi iMessage dan Google Messages agar fitur anti-spoofing terbaru dapat berjalan optimal.

Lonjakan Kasus Penipuan Mengatasnamakan Pemerintah
Data dari Kepolisian Singapura menunjukkan bahwa kasus penipuan dengan modus mengatasnamakan pejabat atau instansi pemerintah mengalami kenaikan tajam pada tahun 2025. Pada semester pertama tahun ini tercatat 1.762 kasus yang berarti meningkat hampir tiga kali lipat atau sebesar 199,2% dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang hanya 589 kasus. Kerugian akibat penipuan ini mencapai S$ 126,5 juta atau sekitar US$ 97 juta, menjadikannya salah satu modus penipuan yang sangat merugikan secara finansial.

Kasus penipuan ini menyumbang sekitar 28% dari total kasus penipuan dan 34% dari seluruh nilai kerugian yang dialami masyarakat Singapura. Angka-angka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman keamanan digital yang sedang dihadapi. Pemerintah Singapura sebelumnya telah menggunakan pengirim SMS resmi dengan tanda pengenal “gov.sg” untuk memudahkan masyarakat mengenali pesan resmi. Namun, perlindungan ini belum berlaku pada layanan iMessage dan Google Messages sehingga penipu memanfaatkan kelemahan ini untuk mengelabui korban.

Upaya Pemerintah dalam Memperkuat Keamanan Digital
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah Singapura telah mendukung penggunaan SMS Sender ID Registry (SSIR) yang memastikan nomor pengirim resmi terdaftar dan dapat dipercaya. Namun, karena aturan ini belum berlaku di platform pesan terbaru seperti iMessage dan Google Messages, pelaku penipuan lebih bebas menyamarkan identitas mereka. Oleh sebab itu, kolaborasi dengan Apple dan Google ini sangat penting untuk menutup celah keamanan tersebut.

Pemerintah berharap bahwa dengan langkah-langkah baru ini, pengguna dapat lebih terlindungi dari ancaman penipuan yang semakin canggih. Masyarakat juga diimbau untuk selalu waspada dan skeptis terhadap pesan yang mengatasnamakan pejabat atau lembaga resmi, terutama jika pesan tersebut meminta informasi pribadi atau melakukan tindakan yang mencurigakan.

Berbagai upaya lanjutan untuk meningkatkan literasi digital dan keamanan siber juga menjadi bagian dari strategi pemerintah Singapura guna meminimalkan risiko kejahatan online. Kolaborasi antar sektor teknologi dan regulator dipandang esensial guna membangun ekosistem digital yang aman dan terpercaya bagi seluruh pengguna di negara tersebut.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button