Chicco Jerikho Ungkap Peran Jonathan di Film Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, Saya Juga Seorang Ayah

Jadi Jonathan di Film Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, Chicco Jerikho Saya juga seorang ayah

Aktor Chicco Jerikho mendapat peran penting sebagai Jonathan dalam film Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel. Film ini berdasar pada kasus nyata penganiayaan David Ozora yang sempat menghebohkan publik.

Film tersebut tidak hanya menampilkan peristiwa kekerasan, tetapi juga memperlihatkan suara rakyat melawan ketimpangan hukum. Alur cerita menyoroti perjuangan keluarga korban secara psikologis dan spiritual.

Chicco mengaku merasa terhormat karena dipercaya memerankan Jonathan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Bung Jo yang memberi izin dan Umbara Brothers yang mempercayakan peran itu padanya.

Menurut Chicco, film ini penting sebagai simbol perlawanan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Ia menyebutkan, “Film ini adalah suara dan sebuah harapan agar kekuasaan tidak disalahgunakan.”

Selain itu, film ini juga mendorong keberanian untuk bersuara melawan perundungan. Chicco menegaskan, bullying kini makin nyata dan perlu diperangi bersama.

Merasakan Peran sebagai Jonathan

Memainkan karakter Jonathan—ayah korban David Ozora—membuat Chicco merasakan sisi emosional seorang ayah. Ia membayangkan perasaan saat anaknya dianiaya dengan brutal.

“Saya juga seorang ayah, jadi saya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada anak saya,” ucap Chicco. Ia merasakan beban berat ketika doktor mengatakan peluang hidup korban sangat kecil, hanya 2%.

Chicco juga menyoroti bagaimana kemarahan dan harapan bercampur menjadi satu dalam proses pemulihan. Dia berharap film ini bisa menguatkan siapa saja yang menontonnya.

Film ini disutradarai oleh Umbara Brothers, yakni Anggy dan Bounty Umbara. Produksinya melibatkan beberapa rumah produksi seperti VMS Studio, 786 Entertainment, dan lainnya.

Selain Chicco Jerikho, film ini dibintangi oleh Muzakki Ramdhan, Erdin Werdrayana, Tika Bravani, Donny Damara, dan aktor lainnya. Film akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025.

Isi Cerita dan Tema Film

Cerita fokus pada perjuangan Jonathan saat anaknya koma akibat penganiayaan oleh anak pejabat tinggi. Jonathan bersama dua sahabatnya berjuang keras mencari keadilan.

Pelaku penganiayaan mendapat perlakuan khusus karena ayahnya berkuasa. Hal ini menunjukkan ketimpangan hukum yang menjadi latar belakang utama film.

Film bukan sekadar rekonstruksi peristiwa, melainkan interpretasi dampak psikologis dan sosial dari bullying dan kekerasan. Film juga menampilkan proses spiritual Jonathan selama menghadapi cobaan ini.

Dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan sang korban. Film menggambarkan bahwa harapan dan solidaritas dapat menguatkan keluarga yang mengalami musibah.

Dengan tema yang kuat dan kisah nyata, film ini berpotensi menyentuh banyak orang. Pesan yang disampaikan relevan dengan isu penyalahgunaan kekuasaan dan pentingnya keberanian melawan ketidakadilan.

Chicco sendiri berharap film ini bisa menjadi inspirasi agar orang tidak takut bersuara melawan tindakan kekerasan dan bullying di berbagai lapisan masyarakat.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version