
Billy Corgan, vokalis band The Smashing Pumpkins, mengkritik keras citra satanik yang kerap melibatkan bintang pop Hollywood. Dalam bincang-bincangnya di kanal YouTube The Magnificent Others with Billy Corgan, ia mengungkapkan bahwa citra ini sebenarnya adalah persona palsu yang dibangun untuk kebutuhan industri musik.
Corgan menilai para bintang pop ini melakukan manipulasi yang terang-terangan terhadap penampilan dan suara mereka. Ia menuturkan, para artis tersebut rela mengubah diri bukan karena keinginan pribadi, melainkan untuk memenuhi ekspektasi dan memasarkan citra yang sebenarnya tidak mereka pahami.
Menurut Corgan, fenomena ini bisa menyebabkan ketegangan psikologis di kalangan penggemar. Mereka sadar bahwa sosok yang mereka idolakan palsu, tetapi memilih mempercayainya demi kenyamanan emosional. Kondisi ini disebut cognitive dissonance, di mana ilusi yang diciptakan malah semakin dikuatkan oleh para penggemar.
Vokalis ini membandingkan citra bintang pop ini dengan musik alternatif yang menurutnya memiliki tujuan berbeda. Musik alternatif lebih mengedepankan kejujuran dan merayakan ketidaksempurnaan manusiawi. Corgan memberi contoh bahwa musik alternatif berbicara tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus menampilkan kesempurnaan.
Selain itu, Corgan juga mengkritik penggemar yang tanpa pemahaman mendalam hanya mengidolakan sosok dengan citra satanik atau okultis. Ia menilai banyak yang tidak mengerti motivasi di balik estetika tersebut sehingga penggemaran menjadi dangkal dan kerap menyesatkan.
Dalam pengakuan lain, Billy Corgan menceritakan pengalaman pribadinya terkait Freemason. Saat tur solo album Cotillions pada 2019, ia sempat mengenakan atribut Freemason tanpa mengetahui bahwa keluarganya memang memiliki sejarah panjang sebagai anggota organisasi tersebut. Bahkan, salah satu gereja Freemason di kampung halamannya di Illinois dibangun oleh leluhurnya.
Corgan mengungkapkan bahwa sempat ada undangan bagi dirinya untuk bergabung dalam Freemason. Beberapa anggota bahkan mendorongnya masuk, mungkin karena mereka melihat potensi pengaruh dalam diri Corgan. Namun, ia mengaku tidak bergabung meskipun mendapat tawaran tersebut.
Kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara citra publik dalam industri musik dan sejarah pribadi para seniman. Kritik Billy Corgan terhadap budaya pop saat ini mengajak kita untuk lebih kritis terhadap pesan yang tersampaikan lewat citra yang tampak di media dan panggung hiburan.





