Karakter Park Gi Ppeum dalam drama Pro Bono menarik perhatian penonton lewat kepribadiannya yang memegang teguh prinsip benar dan salah secara ekstrem. Ia dikenal empatik dan peduli serta selalu ingin berada di sisi moral yang baik dalam setiap situasi. Namun, idealismenya kerap membuatnya sulit menerima kenyataan bahwa dunia hukum dan realita manusia tidak selalu bisa disederhanakan dalam kategori hitam atau putih.
Di balik sikapnya yang tampak tegas, banyak penonton justru melihat Gi Ppeum sebagai sosok yang sesungguhnya naif. Cara pandang yang terlalu sederhana membuatnya cepat menghakimi, bukannya memahami kompleksitas insiden ataupun motif di balik tindakan seseorang. Berikut ini, tujuh cara pandang hitam-putih Park Gi Ppeum sebagaimana tercermin dalam kisah Pro Bono.
1. Melanggar Aturan Langsung Salah
Gi Ppeum memandang pelanggaran terhadap aturan hukum sebagai kesalahan mutlak. Ia tidak mempertimbangkan alasan di balik perbuatan, sehingga kurang mampu melihat adanya ruang bagi penebusan atau pemahaman terhadap pelaku.
2. Menilai Konteks Secara Kaku
Dalam kasus Kang Da Wit, Gi Ppeum berfokus pada pelanggaran etika yang dilakukan sang hakim. Ia mengabaikan luka masa lalu yang mendorong Da Wit mengambil keputusan, padahal banyak situasi dalam hukum dipengaruhi latar belakang dan trauma pelaku.
3. Dunia Hanya Soal Hitam dan Putih
Gi Ppeum sering memisahkan dunia dalam dua kubu: baik dan jahat. Ia cenderung menghakimi sebelum mencoba memahami bagaimana dan mengapa seseorang sampai melakukan kesalahan.
4. Niat Baik Harus Sempurna
Baginya, jika suatu perbuatan baik dilandasi emosi pribadi atau motivasi emosional, maka tindakan tersebut menjadi tidak sah. Gi Ppeum punya standar tinggi soal kemurnian niat seseorang.
5. Keadilan dari Niat yang Sempurna
Ia menolak keadilan yang lahir dari motivasi tidak sepenuhnya murni. Kenyataannya, manusia jarang bertindak dari satu motif yang benar saja, sebab dorongan di balik tindakan seringkali tumpang tindih antara yang pribadi dan ideal.
6. Empati Terbatas pada Korban ‘Ideal’
Salah satu ironi terbesar Gi Ppeum adalah empatinya yang hanya bekerja untuk korban yang menurutnya pantas atau “murni”. Sesaat pelaku adalah orang terdekat atau memiliki posisi moral abu-abu, keempatian tersebut mudah luntur.
7. Menolak Diskusi Saat Tak Ada Jawaban Absolut
Jika suatu kasus atau seseorang tidak bisa ditempatkan sepenuhnya di kategori benar atau salah, Gi Ppeum lebih suka menghindari diskusi. Ia merasa lebih aman dan nyaman dengan klasifikasi hitam-putih.
Karakter Park Gi Ppeum: Cerminan Realita Moral di Dunia Nyata
Karakter Park Gi Ppeum sering dianggap representasi realita banyak orang yang tumbuh dengan pola pikir moral absolut. Konsep baik dan buruk yang kaku kerap gagal menangkap dinamika manusia yang penuh kontradiksi. Dalam dunia hukum, cara pandang seperti ini menyebabkan pemahaman atas kasus menjadi dangkal dan berisiko tidak adil untuk pihak-pihak yang terlibat.
Dalam drama Pro Bono, kehadirannya menantang penonton untuk mempertanyakan kembali batas antara kebaikan dan keadilan. Menurut sejumlah analisis, karakter dengan pola pikir ekstrem seperti Gi Ppeum mencerminkan tantangan universal yang dihadapi masyarakat. Banyak orang—termasuk mereka dalam posisi pembuat keputusan—sering menyederhanakan moralitas sebagai solusi.
Tak sedikit pula yang merasakan dilema serupa seperti Gi Ppeum, ingin membantu, memilih sisi baik, tapi kurang siap menghadapi kenyataan bahwa manusia tidak selalu sesuai harapan. Drama ini secara tidak langsung mengajarkan pentingnya empati lebih dalam dan mengakui bahwa setiap cerita, termasuk dalam dunia hukum, selalu menyimpan sisi abu-abu yang layak dipahami dan didiskusikan secara matang.





