Aurelie Moeremans Jadi Korban Grooming, Pilih Simpan Dukungan Tanpa Pamer di Media Sosial

Aurelie Moeremans memilih untuk tidak lagi memamerkan dukungan yang diterimanya setelah ia mengungkapkan kisahnya sebagai korban grooming yang diduga dilakukan oleh sesama artis. Keputusan ini muncul menyusul adanya ancaman yang diterima oleh rekan artis yang memberikan dukungan, seperti pasangan Hesti Purwadinata dan Edo Borne.

Dalam akun Instagram pribadinya, Aurelie mengungkapkan bahwa setelah ia membagikan ulang dukungan dari Hesti, pasangan tersebut mendapat ancaman terus-menerus melalui pesan langsung hingga WhatsApp. Ia merasa nyaman jika ancaman hanya menimpa dirinya, namun sangat berat apabila orang terdekat yang ikut mendapat dampak tersebut dari solidaritas mereka kepadanya.

Alasan Aurelie Tetap Menjaga Privasi Dukungan

Aurelie menyatakan bahwa langkahnya untuk tidak memosting ulang dukungan di media sosial adalah bentuk perlindungan bagi para pendukungnya. Dengan tidak menunjukkannya secara terbuka, ia berharap agar orang-orang yang berdiri di sampingnya tetap aman dari berbagai ancaman yang datang tanpa alasan jelas.

Menurutnya, doa dan semangat yang diterimanya tetap sampai walau tidak diperlihatkan secara gamblang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keamanan dan kenyamanan para pendukungnya di tengah situasi yang penuh tekanan tersebut.

Pengakuan Aurelie dalam Buku Memoar Pertama

Kasus ini semakin mendapat perhatian publik setelah Aurelie merilis buku memoar pertamanya berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam buku tersebut, ia menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh luka sebagai korban grooming saat masih berusia 15 tahun.

Ia menjelaskan bahwa grooming tersebut melibatkan seseorang yang usianya hampir dua kali lipat dari dirinya. Aurelie mengalami proses manipulasi dan kontrol yang intens, serta melalui perjalanan panjang untuk belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

Dampak Sosial dari Pengungkapan Kasus Grooming

Pengakuan ini memberikan gambaran nyata atas bahaya grooming dan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap praktik tersebut. Kasus yang diungkapkan oleh sosok publik seperti Aurelie membantu membuka mata banyak orang tentang isu kekerasan psikologis yang sering tersembunyi dan sulit diungkap.

Tindakan Aurelie dalam memilih untuk menjaga privasi dukungan sekaligus berani bercerita secara terbuka melalui buku memberikan inspirasi sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peduli serta memberikan dukungan yang aman bagi korban-korban serupa.

Ancaman Terhadap Pendukung Korban Grooming

Data dari pengakuan Aurelie memperlihatkan bahwa mereka yang berdiri mendukung korban grooming dapat menjadi sasaran ancaman yang cukup serius. Ancaman melalui pesan pribadi dan aplikasi komunikasi lain menjadi bentuk intimidasi yang bisa menimbulkan tekanan emosional.

Pengalaman ini menegaskan bahwa dukungan terhadap korban butuh penanganan yang lebih berhati-hati agar tetap bisa menumbuhkan solidaritas tanpa membahayakan orang-orang di sekitar korban.

Dengan langkah berhati-hati tersebut, Aurelie berharap cerita dan dukungan tetap kuat meskipun tidak dipublikasikan secara terbuka. Ia menunjukkan bahwa menjaga keselamatan pendukung bukan berarti mengurangi semangat perjuangan melawan grooming dan kekerasan terhadap anak.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button