Lee Sang-il kembali menghadirkan karya yang menggugah lewat film drama Kokuho. Film ini menyisipkan kritik mendalam terhadap tradisi Kabuki yang selama ini dianggap sakral dalam budaya Jepang. Kokuho tidak hanya merekam keindahan panggung kabuki, tetapi juga membongkar struktur kekuasaan yang menopang tradisi ini.
Kabuki dikenal sebagai teater tradisional Jepang yang lahir pada awal abad ke-17, menggabungkan drama, tari, dan musik dalam pertunjukan yang penuh gaya dengan riasan tebal. Awalnya dimainkan oleh perempuan, kabuki kemudian melarang peran perempuan dan menggantikannya dengan aktor laki-laki, termasuk melalui tradisi onnagata. Lee Sang-il mengeksplorasi dunia ini secara kritis, menunjukkan sisi keras dan hierarkis di balik gemerlapnya panggung.
Konflik Utama dalam Kokuho
Cerita film ini berfokus pada dua pemuda, Kikuo dan Shun, yang tumbuh dalam lingkungan kabuki yang sangat disiplin dan nyaris feodal. Persahabatan mereka berubah menjadi persaingan sunyi sejak awal karier. Kikuo, putra seorang bos yakuza, memiliki bakat alami yang menyala, namun tidak berasal dari garis keturunan kabuki, membuatnya selalu merasa terpinggirkan. Di sisi lain, Shun adalah pewaris sah dari keluarga kabuki ternama, memikul beban ekspektasi dan tradisi yang berat.
Konflik antara kasta darah dan meritokrasi ini menjadi inti pertentangan dalam Kokuho. Film ini mempertanyakan apakah bakat murni cukup untuk menembus sistem tertutup yang mengedepankan garis keturunan. Lee Sang-il menggunakan cerita ini untuk mengkritik bagaimana tradisi sering kali melanggengkan elitisme, dibalut dengan estetika yang memikat.
Kritik Tradisi Onnagata dan Peran Perempuan
Salah satu aspek penting adalah kritik terhadap tradisi onnagata, di mana aktor laki-laki memerankan tokoh perempuan dengan citra feminin yang ideal dan terkontrol. Namun, yang menarik adalah bagaimana perempuan nyata justru tersingkir dari panggungnya sendiri. Tokoh perempuan seperti Harue, Akiko, dan Ayano tampil sebagai saksi bisu yang menopang sistem, tetapi tidak memiliki banyak ruang untuk memengaruhi arah cerita.
Film ini menyoroti bagaimana kebahagiaan perempuan sering kali dikorbankan demi reputasi dan ambisi laki-laki dalam tradisi ini. Kokuho tampil bukan sekadar sebagai drama seni pertunjukan, melainkan sebagai metafora kritik terhadap konservatisme dalam masyarakat Jepang modern.
Visual dan Narasi Film
Lee Sang-il menghadirkan visual yang megah dan intim, dengan komposisi panggung yang detail dan kamera yang bergerak hati-hati menyoroti ekspresi wajah dan jeda dramatis. Setiap pertunjukan kabuki dalam film terasa seperti duel batin di balik gemerlap panggung. Namun, durasi film yang mencapai tiga jam menuntut penonton fokus ekstra, apalagi dengan lompatan waktu dari era 1960-an hingga 2014.
Narasi yang disusun rapi oleh Satoko Okudera ini menjaga kedalaman psikologis cerita sambil memperluas tafsir visual dari karya asli Shuichi Yoshida. Film ini mampu membuat penonton terjebak dalam alur yang acapkali membuat mereka mengira klimaks telah tiba, sebelum cerita benar-benar berakhir.
Warisan Tradisi dan Harga yang Harus Dibayar
Kokuho menyuguhkan tragedi tentang harga sebuah warisan budaya. Tradisi memberi identitas, tetapi juga membatasi kebebasan individu. Lee Sang-il menegaskan bahwa kemegahan budaya sering kali berdiri di atas pengorbanan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dengan nominasi Academy Awards untuk kategori Best Makeup and Hairstyling, film ini juga memperlihatkan keindahan estetika kabuki yang dikerjakan dengan sangat detail. Namun, lebih dari itu, Kokuho mengajak penonton untuk merenungkan sisi gelap dari pelestarian budaya yang memuat kekangan sosial dan hierarki yang kaku.
Film drama ini sudah bisa disaksikan di beberapa bioskop Indonesia sejak 18 Februari 2026. Penonton harus siap memasuki dunia kabuki yang penuh konflik, tradisi, dan ambisi dalam sebuah karya sinematik yang menantang dan sarat makna.
