Beby Tsabina tengah mewujudkan salah satu keinginannya yang sudah lama ia tunggu, yakni bermain dalam film sejarah yang mengangkat kisah perjuangan perempuan Indonesia. Dalam film berjudul Emmy, ia memerankan Emmy Saelan, sosok pahlawan perempuan asal Sulawesi Selatan yang ikut bertarung mempertahankan Republik Indonesia.
Beby menyebut proyek ini sebagai pengalaman yang membuatnya merasa terhormat. Ia mengatakan sudah cukup lama ingin terlibat dalam film bertema peperangan sejarah karena ceritanya kuat dan punya makna penting bagi penonton.
Beby Tsabina Akui Peran Ini Punya Nilai Emosional Tinggi
Dalam keterangannya di Jakarta, Beby menegaskan bahwa ia langsung menerima tawaran itu karena tertarik pada kekuatan cerita. Ia menilai tokoh Emmy Saelan bukan hanya penting secara sejarah, tetapi juga membawa pesan tentang keberanian perempuan di masa perjuangan.
Emmy Saelan dikenal sebagai pejuang wanita yang ikut bergabung dalam Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi atau LAPRIS. Ia juga terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda saat masa mempertahankan kemerdekaan.
Beby mengaku peran ini memberi tantangan berbeda dibanding pekerjaan akting lainnya. Ia harus memahami karakter seorang perempuan yang hidup di tengah konflik, dengan ketegangan yang jauh lebih kompleks dari drama biasa.
Siapkan Diri untuk Peran Perawat di Tengah Perang
Selain dikenal sebagai pejuang, Emmy Saelan juga memiliki latar sebagai perawat. Karena itu, Beby menjalani pelatihan khusus agar bisa memahami dunia medis, terutama dalam konteks masa lampau dan situasi darurat di medan perang.
Dalam film ini, Emmy digambarkan datang untuk menjadi perawat di lapangan, bukan di ruang medis yang nyaman. Kondisi itu menuntutnya paham cara menangani luka tembak, keterbatasan alat, dan situasi kerja di hutan yang jauh dari fasilitas rumah sakit.
- Memahami penanganan medis sederhana di medan perang.
- Mempelajari cara kerja perawat dalam kondisi darurat.
- Menyesuaikan adegan dengan situasi lapangan yang minim peralatan.
- Mengerti perbedaan penanganan luka di hutan dan di rumah sakit.
Beby mengatakan tim produksi juga memberi arahan soal praktik perawatan di masa itu. Ia dijelaskan, misalnya, bagaimana cara bertindak jika tidak ada kasur, alkohol, atau perlengkapan medis yang lengkap.
Latihan Fisik Jadi Bagian dari Persiapan
Tak hanya mendalami karakter, Beby juga menjaga fisik agar mampu menjalani adegan-adegan pertempuran. Ia rutin berolahraga dan nge-gym satu hingga dua kali untuk melatih daya tahan tubuh.
Persiapan itu penting karena film Emmy memiliki banyak adegan yang menuntut pemainnya bergerak aktif. Beby menyebut ada sejumlah scene yang mengharuskannya naik turun medan, berlari, dan tampil prima dalam kondisi kerja yang melelahkan.
Ia menegaskan bahwa arahan dari sutradara membuatnya sadar soal beratnya kebutuhan fisik dalam film berlatar perang. Karena itu, ia berusaha mempersiapkan stamina sejak awal agar bisa menjalani proses syuting dengan maksimal.
Film Emmy Angkat Sosok Perempuan yang Tetap Berdiri di Garis Depan
Film Emmy disutradarai oleh Emil Heraldi dan diproduseri oleh Denny Siregar. Selain Beby Tsabina, film ini juga dibintangi Samo Rafael, Aji Santosa, Moh. Iqbal Sulaiman, Dioren Jalu Permana, Dito Darmawan, Tubagus Ali, Aksara Dena, Dinda Ghania, Vincent Fransiscus Verhaag, Regina Suhari, Jesyca Marlein, dan Hans De Kraker.
Karakter Emmy digambarkan sebagai tenaga kesehatan yang tetap hadir di tengah tekanan perang, merawat korban, melindungi sesama, dan tidak mundur ketika situasi memburuk. Sosok ini dijadikan representasi perempuan yang kuat, empatik, dan tetap manusiawi di tengah pilihan-pilihan sulit.
Kehadiran film ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh para prajurit di medan tempur. Banyak perempuan berada di garis depan, menjalankan peran medis, logistik, dan dukungan moral yang sama pentingnya bagi perjuangan bangsa.
Makna Sosok Emmy Saelan bagi Penonton Masa Kini
Kisah Emmy Saelan memberi ruang bagi penonton untuk melihat sejarah dari sudut pandang perempuan. Di tengah narasi besar tentang perang dan kemerdekaan, tokoh seperti Emmy menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk senjata, tetapi juga bisa muncul lewat kerja merawat, bertahan, dan terus membantu orang lain.
Pihak produksi berharap film Emmy tidak berhenti sebagai tontonan sejarah semata. Film ini ingin menjadi refleksi tentang keberanian, pengorbanan, dan arti menjadi perempuan pejuang dalam situasi yang penuh risiko.
Bagi Beby Tsabina, peran ini menjadi langkah penting dalam perjalanan aktingnya karena menyentuh sisi sejarah sekaligus nilai kemanusiaan. Dengan latar perjuangan Emmy Saelan, film Emmy menghadirkan cerita tentang perempuan yang tidak hanya berjuang untuk bangsa, tetapi juga tetap menjaga empati saat keadaan memaksa mereka berdiri paling depan.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




