Cen Sui Lan, Bupati Natuna yang Hartanya Melonjak dari Rp1 M ke Rp293 M

Cen Sui Lan menjadi perhatian publik setelah laporan harta kekayaannya di LHKPN menunjukkan lonjakan yang sangat besar dalam waktu singkat. Nama Bupati Natuna itu ramai dibicarakan karena total kekayaannya disebut naik dari Rp1,1 miliar pada 2023 menjadi Rp293 miliar pada 2024.

Data yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi itu membuat publik bertanya-tanya soal sumber aset, komposisi kekayaan, dan konsistensi pelaporannya. Di saat bersamaan, sorotan juga mengarah pada rekam jejak Cen Sui Lan sebagai pengusaha, politisi, dan kepala daerah perempuan pertama di Natuna.

Lompatan Kekayaan yang Menarik Perhatian

Menurut data LHKPN terbaru yang dikutip dari referensi, kenaikan kekayaan Cen Sui Lan mencapai sekitar Rp291,8 miliar dalam setahun. Angka itu berarti kenaikan hampir 260 kali lipat dibanding laporan tahun sebelumnya.

Lonjakan terbesar datang dari aset tanah dan bangunan. Pada 2023, aset properti yang tercatat disebut hanya dua bidang dengan nilai sekitar Rp950 juta, tetapi pada 2024 jumlahnya melonjak menjadi 13 aset dengan nilai total Rp283 miliar.

Sebagian besar aset itu berada di Batam, wilayah yang memang memiliki dinamika harga tanah tinggi. Salah satu contoh yang disorot adalah tanah seluas 2.000 meter persegi yang sebelumnya bernilai Rp200 juta, lalu dalam laporan terbaru disebut mencapai Rp20 miliar.

Selain properti, kas dan setara kas juga ikut naik tajam. Nilainya tercatat meningkat dari Rp162 juta menjadi Rp10 miliar dalam laporan tersebut.

Sorotan Publik dan Pertanyaan Transparansi

Lonjakan harta itu memunculkan pertanyaan dari publik dan sejumlah lembaga pemantau. Indonesia Corruption Watch dan LI Tipikor disebut ikut menyoroti sejumlah kejanggalan dalam laporan tersebut.

Salah satu sorotan utama adalah seluruh aset tanah dicatat sebagai hasil sendiri tanpa adanya laporan utang. Padahal, nilai aset yang tercantum sangat besar dan menimbulkan pertanyaan tentang mekanisme perolehan serta pembiayaannya.

Publik juga mempertanyakan mengapa dalam laporan itu Cen Sui Lan tercatat tidak memiliki kendaraan pribadi sama sekali. Situasi ini dianggap tidak lazim oleh sebagian pihak, terutama karena nilai kekayaannya sudah mencapai ratusan miliar rupiah.

Ada pula pertanyaan mengenai kesesuaian nilai tanah dengan aturan UWT di BP Batam. Isu ini menjadi penting karena banyak aset Cen Sui Lan disebut berada di wilayah yang memiliki aturan pertanahan dan administrasi yang spesifik.

Klarifikasi dari Cen Sui Lan

Saat dikonfirmasi pada 30 Maret 2026, Cen Sui Lan tidak membantah angka yang beredar. Namun, ia menyebut laporan tersebut masih dalam proses verifikasi.

Melalui pesan singkat, ia mengatakan data LHKPN yang dilaporkan masih berada dalam tahap penyesuaian administrasi di KPK. Pernyataan itu menjadi salah satu respons awal atas ramainya pembahasan publik mengenai kekayaannya.

Meski begitu, klarifikasi tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan yang muncul. Hingga sekarang, perhatian publik masih tertuju pada detail aset, status verifikasi, dan konsistensi pelaporan yang menjadi dasar utama transparansi pejabat negara.

Siapa Cen Sui Lan?

Cen Sui Lan lahir di Kuala Langkat, Sumatera Utara, pada 11 Mei 1967. Ia berasal dari keluarga keturunan Tionghoa dan memeluk Islam pada 2008, lalu dikenal dengan nama Muslim Aisyah.

Dalam kehidupan pribadi, ia menikah dengan Haji Raja Mustakim yang dikenal sebagai pengusaha dan tokoh masyarakat di Kepulauan Riau. Latar keluarga dan jejaring sosial ini kerap disebut ikut membentuk pengaruhnya di wilayah Kepulauan Riau.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Sumatera Utara, lalu ia melanjutkan sejumlah pelatihan kepemimpinan. Salah satu yang menonjol adalah program di Lemhannas pada 2021, yang menambah bekal kepemimpinannya sebelum masuk lebih dalam ke politik elektoral.

Jejak Bisnis Sebelum Terjun ke Politik

Sebelum dikenal sebagai politisi, Cen Sui Lan lebih dulu aktif di dunia usaha, terutama di Batam. Ia disebut memiliki bisnis di sektor properti dan jasa, dua bidang yang sangat dekat dengan dinamika ekonomi Kepulauan Riau.

Referensi menyebut ia pernah menjabat sebagai CEO PT Asmaya Buana Nusantara selama dua dekade. Selain itu, ia juga memegang posisi komisaris di sejumlah perusahaan, yang menunjukkan pengalamannya cukup panjang di sektor korporasi.

Aktivitasnya tidak berhenti di bisnis. Ia juga aktif dalam organisasi seperti Kadin dan asosiasi pariwisata, yang memperluas jaringan profesional dan memperkuat posisinya di lingkungan bisnis daerah.

Masuk Politik dan Menjadi Bupati Natuna

Karier politik Cen Sui Lan dimulai lewat Partai Golkar. Dari jalur itu, ia kemudian berhasil melaju ke DPR RI dan menjadi anggota parlemen periode 2020 hingga 2024.

Di Senayan, ia duduk di Komisi V yang membidangi infrastruktur dan transportasi. Penempatan itu penting karena memberi ruang bagi Cen Sui Lan untuk terlibat dalam isu pembangunan dan konektivitas, dua hal yang relevan dengan wilayah kepulauan seperti Natuna.

Setelah masa tugas di DPR, ia maju dalam Pilkada Natuna 2024 dan keluar sebagai pemenang. Kemenangan itu mengantarkannya menjadi Bupati Natuna periode 2025 hingga 2030.

Dengan jabatan itu, Cen Sui Lan tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin Natuna. Posisi tersebut membuat profilnya makin menonjol, baik sebagai kepala daerah maupun sebagai figur politik yang punya latar belakang bisnis dan jaringan nasional.

Fakta Penting Tentang Cen Sui Lan

  1. Lahir di Kuala Langkat, Sumatera Utara, pada 11 Mei 1967.
  2. Memeluk Islam pada 2008 dan dikenal dengan nama Muslim Aisyah.
  3. Pernah menjadi pengusaha di Batam, khususnya di sektor properti dan jasa.
  4. Menjabat sebagai CEO PT Asmaya Buana Nusantara selama sekitar 20 tahun.
  5. Pernah menjadi anggota DPR RI periode 2020–2024 dari Partai Golkar.
  6. Resmi menjabat Bupati Natuna periode 2025–2030.
  7. LHKPN tahun 2024 mencatat kekayaan Rp293 miliar, naik dari Rp1,1 miliar pada 2023.
  8. Lonjakan terbesar berasal dari aset tanah dan bangunan di Batam.

Di tengah sorotan atas harta kekayaannya, Cen Sui Lan tetap menjadi figur penting di Natuna karena posisinya sebagai bupati baru dan perempuan pertama yang memimpin daerah itu. Perkembangan laporan LHKPN dan klarifikasi resmi dari pihak terkait masih menjadi perhatian utama publik dalam melihat asal-usul serta detail kenaikan kekayaan yang sangat besar tersebut.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button