Hubungan Rachel Vennya dan Niko Al Hakim atau Okin kembali menjadi sorotan setelah Rachel menyinggung rencana penjualan rumah yang disebut diperuntukkan bagi anak-anak mereka. Dalam unggahan yang beredar ulang di media sosial, Rachel juga mengungkit jasanya di masa lalu kepada mantan suaminya, yang memicu perhatian publik terhadap konflik keduanya.
Jalannya konflik ini memunculkan kembali perbincangan soal kesepakatan pascaperpisahan, terutama terkait rumah yang disebut sempat diberikan untuk kebutuhan anak-anak mereka. Rachel menilai langkah tersebut tidak dikomunikasikan dengan baik dan justru menyulitkan anak-anak yang masih tinggal di rumah itu.
Sindiran Rachel yang kembali memicu perhatian publik
Rachel Vennya menyampaikan sindiran melalui fitur Instagram Subscriptions miliknya, Rachel’s Diary, yang kemudian diunggah ulang akun Instagram @gosip_danu pada Kamis, 2 April 2026. Ia mempertanyakan ingatan Okin atas bantuan yang pernah ia berikan saat mantan suaminya berada dalam masa sulit.
“Mungkin dia lupa siapa yang bantu dia pas karakter dia dibunuh orang-orang lain, siapa yang bantu dia?” kata Rachel dalam unggahan tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Rachel merasa kebaikan yang pernah ia lakukan tidak lagi dihargai. Ia juga menyinggung hubungan mereka yang dulu saling mendukung, namun kini berubah menjadi perselisihan terbuka.
“Bukannya dahulu kita saling bantu ya? What happened to you? Memori baik hilang semua,” ujarnya.
Rumah yang disebut untuk anak-anak jadi sumber persoalan
Perselisihan ini mencuat setelah Rachel mengetahui adanya rencana penjualan rumah yang disebut menjadi bagian dari kesepakatan pascaperpisahan. Rumah itu, menurut Rachel, awalnya diberikan untuk anak-anak mereka, bukan untuk kepentingan lain.
Rachel menjelaskan bahwa pada awal perjanjian, ia mengizinkan rumah itu digunakan dengan harapan menjadi solusi bersama. Ia menyebut Okin hanya memiliki kewajiban nafkah dan memberi uang mut’ah, tetapi menurut pengakuannya, kewajiban itu tidak berjalan sesuai harapan.
“Di awal perjanjian, aku kasih rumah yang dia bilang #rumahuntukbiru. Dia cuma punya kewajiban nafkah dan kasih uang mut’ah. Namun, ternyata enggak di kasih, win win solution dia yang kasih itu rumah biar dia enggak nafkahin anak-anak lagi,” ungkap Rachel.
Ia menambahkan, rumah itu sempat dalam kondisi kurang layak saat mulai digunakan. Karena itu, pihaknya kemudian melakukan renovasi agar rumah bisa ditempati anak-anak.
Fokus pada nasib anak-anak yang masih tinggal di rumah tersebut
Rachel mengaku terkejut ketika mengetahui rumah itu hendak dijual tanpa ada pembicaraan lebih dulu. Menurutnya, proses tersebut berjalan tanpa komunikasi yang memadai, padahal anak-anak masih tinggal di sana.
“Pas datang ke rumah, sudah bobrok pas dia pakai, akhirnya kita renovasi buat adek-adek (anak-anak Okin dan Rachel Vennya). Terus sekarang karena ada hitam di atas putih mau dia jual, notabena adek-adek masih tinggal di sana,” tuturnya.
Ia juga menyebut ada pihak yang datang untuk mengukur rumah, yang membuatnya merasa keputusan itu berjalan sepihak. Rachel menilai hal tersebut bisa berdampak langsung pada kenyamanan dan kepastian tempat tinggal anak-anaknya.
“Tanpa ba bi bu langsung ada orang yang mau mengukur dan menjual rumahnya, yang adek-adek gue enggak tahu harus gimana,” ucapnya.
Kekecewaan atas komunikasi yang dianggap terputus
Bagi Rachel, persoalan utama bukan hanya soal aset, tetapi juga soal kepercayaan dan komunikasi. Ia menilai keputusan menjual rumah seharusnya dibahas lebih dulu karena menyangkut tempat tinggal anak-anak mereka.
Rachel bahkan menyebut dirinya kecewa karena orang yang dulu ia anggap dekat kini justru menjadi sumber masalah. Ia merasa sikap itu membuat situasi yang seharusnya bisa diselesaikan secara baik-baik menjadi semakin rumit.
“Ya sudah, ambil itu rumah. Orang yang gue pikir bakal menjadi sahabat gue turn into nightmare,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa jika sejak awal rumah itu memang akan dijual, keputusan tersebut seharusnya disampaikan sejak awal agar tidak menimbulkan masalah lanjutan. Menurut Rachel, menyelesaikan persoalan lewat jalur hukum saja tidak cukup jika rasa saling percaya sudah hilang.
“Dari awal enggak usah kasih saja itu rumah, sudah biasa juga beli apa-apa sendiri, tetapi kayak gini kan ngerepotin orang, mau lewat hukum juga atas kepercayaan,” tegasnya.
Isi pengakuan Rachel yang paling disorot publik
Berikut poin-poin penting dari pernyataan Rachel yang paling banyak diperbincangkan:
- Ia menyinggung bantuan yang pernah diberikannya kepada Okin saat mantan suaminya berada dalam masa sulit.
- Ia mengaku rumah yang disebut untuk anak-anak kini akan dijual tanpa pemberitahuan yang jelas.
- Ia menyebut rumah itu sempat direnovasi agar layak ditempati anak-anak.
- Ia menilai keputusan sepihak itu menyulitkan anak-anak yang masih tinggal di rumah tersebut.
- Ia mengaku kecewa karena merasa kepercayaan yang dibangun sebelumnya tidak dijaga.
Belum ada tanggapan terbaru dari Okin
Hingga berita ini diturunkan, Rachel Vennya dan Okin belum memberikan penjelasan langsung di ruang publik terkait memanasnya kembali perselisihan mereka. Situasi ini membuat isu rumah, kesepakatan pascaperpisahan, dan nasib anak-anak mereka terus menjadi perhatian besar warganet di media sosial.
Di tengah sorotan itu, publik kini menunggu apakah kedua belah pihak akan membuka komunikasi baru atau memilih menyelesaikan persoalan ini secara tertutup demi mengurangi dampak yang bisa dirasakan anak-anak mereka.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






