Baskara Putra atau Hindia resmi membawa album perdananya, Menari dengan Bayangan, ke layar lebar. Proyek ini dipastikan tidak berbentuk biopik, melainkan film coming of age yang terinspirasi dari keresahan dan tema-tema dalam album tersebut.
Dalam proyek ini, Baskara juga menjalani peran baru sebagai produser eksekutif. Musisi yang dikenal lewat lagu Evaluasi itu bahkan ikut terlibat akting, sehingga keterlibatannya tidak berhenti di sisi musik saja.
Debut Baru Baskara Putra di Dunia Film
Baskara menyebut posisi sebagai executive producer sebagai pengalaman pertamanya. Ia mengaku tegang sekaligus antusias saat mengerjakan proyek lintas medium yang mengadaptasi karya musiknya ke film.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa keterlibatan Hindia dalam film ini bukan sekadar tempelan nama. Ia ikut masuk ke proses kreatif yang lebih luas, mulai dari konsep hingga arah artistik cerita.
Bukan Biopik, tetapi Cerita Orisinal
Film Menari dengan Bayangan tidak akan mengulang perjalanan hidup Baskara Putra secara literal. Naskahnya dikembangkan sebagai cerita orisinal dengan latar kehidupan anak SMA dan dinamika emosional khas masa remaja.
Format coming of age ini memberi ruang bagi film untuk mengeksplorasi isu pencarian jati diri, relasi pertemanan, luka personal, dan tekanan sosial. Pendekatan itu juga membuat adaptasi album ke film terasa lebih bebas secara naratif.
Album Satu Penuh Jadi Musik Latar
Salah satu detail paling menarik dari proyek ini adalah rencana penggunaan seluruh lagu dalam album Menari dengan Bayangan sebagai soundtrack. Baskara bahkan menyebut, “Harusnya semuanya sih, harusnya satu album itu jadi soundtrack.”
Jika rencana ini terwujud, film akan punya kesinambungan kuat antara cerita dan musik. Bagi penonton, itu bisa menghadirkan pengalaman yang lebih utuh karena lagu-lagu yang sudah dikenal akan hadir sebagai bagian dari alur emosi film.
Mengapa Proyek Ini Menarik Perhatian
Transformasi album menjadi film jarang terjadi di industri hiburan Indonesia dengan keterlibatan langsung sang musisi. Dalam kasus ini, Baskara tidak hanya memberi lisensi atas karyanya, tetapi juga ikut mengawal proyek dari belakang layar.
Berikut sejumlah hal yang membuat proyek ini menonjol:
- Album debut Hindia diangkat ke format film.
- Cerita tidak dibuat sebagai biopik, melainkan naskah orisinal.
- Tema utama mengusung coming of age yang dekat dengan penonton muda.
- Seluruh lagu album diproyeksikan menjadi soundtrack film.
- Baskara Putra ikut tampil sebagai produser eksekutif dan aktor.
Peluang Besar untuk Penonton Muda
Latar cerita anak sekolah menengah atas membuat film ini dekat dengan pengalaman banyak orang. Tema seperti pencarian identitas, relasi pertemanan, dan pergulatan emosional remaja cenderung mudah diterima pasar, terutama penonton muda yang akrab dengan musik Hindia.
Di sisi lain, basis penggemar Baskara Putra yang sudah kuat juga memberi modal emosional bagi film ini. Keterhubungan antara album dan film berpotensi menciptakan daya tarik lintas format, dari pendengar musik ke penonton bioskop.
Proyek Menari dengan Bayangan memperlihatkan bagaimana karya musik bisa berkembang menjadi medium baru tanpa kehilangan identitas awalnya. Dengan Baskara Putra sebagai produser eksekutif, materi lagu yang utuh sebagai soundtrack, dan cerita coming of age yang berdiri sebagai naskah orisinal, film ini bergerak sebagai adaptasi yang mencoba menjaga napas album sekaligus membuka ruang tafsir yang lebih luas.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




