Baliho Aku Harus Mati Memantik Kritik, IDAI Peringatkan Dampak pada Remaja

Film horor Aku Harus Mati mendadak menjadi sorotan publik setelah poster promosinya muncul di baliho sejumlah kota dan dinilai tidak sensitif. Kontroversi ini ramai di media sosial karena sebagian warganet menilai judul film dan visual yang dipakai bisa memicu respons buruk, terutama bagi orang dengan kondisi mental yang rentan.

Perdebatan soal promosi film ini tidak berhenti di lini masa. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI ikut memberi perhatian karena menilai materi iklan semacam itu berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak dan remaja, sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian meminta baliho tersebut diturunkan.

Mengapa poster film ini memicu kontroversi

Baliho Aku Harus Mati dianggap problematis oleh sebagian pengguna media sosial karena memadukan judul yang keras dengan gambar bernuansa seram. Kritik utamanya muncul karena materi promosi itu dipandang tidak cukup peka terhadap audiens yang mungkin sedang mengalami gangguan psikologis.

Film horor memang lazim memakai nuansa mencekam untuk menarik perhatian, tetapi publik menilai promosi kali ini melewati batas. Dalam ruang digital, respons terhadap iklan semacam ini biasanya cepat membesar karena menyentuh isu kesehatan mental, bunuh diri, dan perlindungan anak.

IDAI menyoroti risiko bagi remaja

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso mengatakan sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Ia menilai materi promosi yang memakai kalimat ekstrem dapat memunculkan ide berbahaya pada kelompok yang rentan.

“Kalau yang depresi berat, kemudian melihat banner itu, bisa jadi ada afirmasi untuk bunuh diri pada dirinya,” ujar dr. Piprim kepada Antaranews, Selasa (7/4). Ia juga menekankan bahwa anak-anak bisa bingung melihat pesan seperti itu karena mereka diajarkan untuk semangat dan berprestasi.

Menurut IDAI, persoalan utama bukan hanya soal rasa takut, tetapi efek psikologis yang bisa muncul setelah seseorang melihat pesan yang mengarah pada kematian. Kekhawatiran itu menjadi lebih serius bila materi iklan mudah ditemui di ruang publik dan dapat dilihat anak-anak tanpa pengawasan.

Daftar perhatian yang muncul dari pernyataan IDAI

  1. Remaja dengan kerentanan psikologis bisa menerima pesan iklan secara berbeda.
  2. Anak-anak dapat bingung dengan pilihan judul dan diksi yang menekankan kematian.
  3. Iklan semacam ini berpotensi memperburuk kondisi pada individu dengan depresi berat.
  4. Materi promosi publik perlu mempertimbangkan dampak pada kesehatan mental, bukan hanya daya tarik komersial.

Respons Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo juga menilai materi promosi itu terlalu sensitif untuk dipasang di ruang publik. Ia menyebut praktik seperti itu tidak boleh terulang karena berpotensi mengganggu masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap isu depresi dan gangguan kejiwaan.

Pramono mengatakan Pemprov DKI telah berkoordinasi dengan KPI DKI Jakarta terkait baliho tersebut. Ia juga meminta Satpol PP untuk menurunkan baliho film Aku Harus Mati yang telah terpasang di lapangan.

“Yang seperti ini hanya untuk menarik publik kemudian memasang iklan yang sensitif, dan ini berdampak bagi masyarakat, maka ini tidak boleh terulang kembali,” kata Pramono di Jakarta Pusat, Senin (6/4). Ia menambahkan bahwa baliho itu sudah diturunkan setelah koordinasi dengan pihak terkait.

Klarifikasi dari produser film

Di tengah polemik yang berkembang, produser film Aku Harus Mati, Iwet Ramadhan, memberikan penjelasan bahwa penurunan materi iklan bukan karena tekanan dari pihak tertentu. Ia menyebut hal tersebut sudah sesuai dengan jadwal strategi pemasaran yang telah disusun sebelumnya.

Iwet juga menegaskan bahwa rumah produksi tetap mematuhi aturan yang berlaku dalam setiap materi promosi. Ia menyatakan desain billboard yang ramai dibicarakan itu sudah melalui proses penilaian resmi dari lembaga pemerintah sebelum dipasang ke publik.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa polemik tidak hanya berkisar pada isi iklan, tetapi juga pada tafsir publik terhadap batas antara promosi kreatif dan sensitivitas sosial. Dalam situasi seperti ini, promosi film horor kerap diuji bukan hanya dari sisi pemasaran, tetapi juga dari dampaknya terhadap ruang publik.

Tentang film Aku Harus Mati

Aku Harus Mati mengusung genre horor dengan tokoh utama Mala, diperankan Hana Saraswati. Karakternya digambarkan sebagai yatim piatu yang tumbuh dan kemudian terjebak dalam gaya hidup hedonistik, utang pinjaman online, serta paylater.

Dalam alur cerita, Mala dipaksa kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan setelah hidupnya memburuk. Di sana ia kembali bertemu sahabat masa kecilnya, Tiwi yang diperankan Amara Sophie, Nugra yang diperankan Prasetya Agni, serta Ki Jago yang diperankan Bambang Paningron.

Kebangkitan konflik terjadi ketika Mala mengalami kejadian misterius dan mata batinnya terbuka. Dari titik itu, ia harus menghadapi asal-usul kelam yang terkait dengan perjanjian iblis dan pengorbanan orang-orang terdekat demi kesuksesan.

Fakta penting yang perlu dicatat

  1. Kontroversi bermula dari baliho promosi film yang dipasang di sejumlah kota.
  2. Warganet menilai materi itu kurang pantas dan berisiko bagi kesehatan mental.
  3. IDAI menyoroti potensi dampak pada anak dan remaja yang rentan secara psikologis.
  4. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta baliho tersebut diturunkan.
  5. Produser film menyebut penurunan iklan dilakukan sesuai jadwal pemasaran, bukan karena tekanan.

Perdebatan soal Aku Harus Mati akhirnya memperlihatkan bahwa promosi film tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sosial, terutama ketika materi yang digunakan bersinggungan langsung dengan isu kesehatan mental dan ruang publik. Di tengah derasnya promosi digital dan baliho luar ruang, cara menyampaikan pesan tetap menjadi perhatian utama agar kreativitas tidak berujung pada kontroversi yang justru menimbulkan keresahan.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version