Sri Wulansih, ibunda mendiang Julia Perez atau Jupe, menangis saat menceritakan kesulitannya mempertahankan dua apartemen peninggalan putrinya di kawasan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur. Ia mengaku tidak sanggup lagi membayar kewajiban HPL yang disebut mencapai Rp 6 juta setiap tiga bulan, sehingga memilih mencari bantuan agar aset itu bisa terjual.
Dalam pengakuannya yang disiarkan program Best Kiss pada Selasa, 14 April 2026, Sri menyebut kondisi keluarganya sudah berubah sejak Jupe meninggal dunia. Ia mengatakan pemasukan anak-anaknya kini hanya cukup untuk kebutuhan harian, sementara dirinya sudah tidak memiliki cukup dana untuk menutup biaya apartemen tersebut.
Permintaan Bantuan kepada Raffi Ahmad
Sri Wulansih secara terbuka meminta pertolongan Raffi Ahmad untuk membeli dua unit apartemen milik Jupe. Ia menyebut bantuan itu penting agar aset tersebut bisa segera dialihkan karena dirinya tidak kuat lagi menanggung biaya rutin yang harus dibayar.
“Raffi Ahmad, mama minta tolong,” ucap Sri dalam tayangan itu saat menjelaskan bahwa apartemen peninggalan Jupe berada di kawasan MT Haryono. Ia juga menegaskan bahwa yang ia cari bukan sekadar penjualan, melainkan jalan keluar agar beban finansial keluarga bisa sedikit berkurang.
Alasan Apartemen Harus Dijual
Sri mengatakan hasil penjualan dua apartemen itu rencananya akan dipakai untuk perbaikan rumah singgah dan musala milik Jupe di Serang. Bangunan tersebut disebut sudah mengalami kerusakan, bahkan atap rumah singgah disebut bocor dan kondisi fisiknya dinilai semakin memprihatinkan.
Berikut inti alasan yang disampaikan Sri Wulansih:
- Tidak mampu membayar HPL apartemen sebesar Rp 6 juta per tiga bulan.
- Keluarga hanya punya penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
- Hasil penjualan akan dipakai memperbaiki rumah singgah dan musala di Serang.
- Kondisi bangunan disebut sudah rusak dan butuh perbaikan segera.
Tangis di Depan Makam Jupe
Sri juga mengaku sudah meminta maaf langsung kepada mendiang putrinya di depan makam. Ia merasakan berat harus melepas dua apartemen yang dulu menjadi bagian dari peninggalan Jupe, tetapi menyebut itu sebagai pilihan yang paling realistis saat ini.
Ia menyampaikan bahwa sejak Jupe meninggal, kehidupannya terasa jauh berbeda dan makin sulit secara ekonomi. Dengan suara bergetar, Sri mengaku tidak lagi memiliki cukup uang untuk menanggung seluruh pengeluaran yang muncul dari aset peninggalan sang anak.
Kondisi Keluarga yang Serba Terbatas
Sri menegaskan bahwa anak-anaknya yang lain, seperti Nia dan Dela, juga memiliki kebutuhan sendiri dan penghasilan yang tidak besar. Ia mengatakan mereka hanya berusaha bertahan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa beban keluarga tidak hanya datang dari biaya apartemen, tetapi juga dari kebutuhan hidup yang harus tetap berjalan. Situasi ini membuat Sri lebih memilih menjual aset daripada terus menunggak kewajiban yang dianggap sudah tidak sanggup ia bayar.
Aset Peninggalan Jupe dan Beban Biaya Rutin
Kasus ini juga memperlihatkan tantangan yang kerap muncul dalam pengelolaan properti warisan, terutama jika masih ada biaya rutin yang harus dipenuhi. Dalam situasi seperti ini, keluarga biasanya dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan aset atau menjualnya untuk menutup kebutuhan yang lebih mendesak.
Berikut gambaran sederhana kondisi yang dihadapi Sri Wulansih:
- Ada dua apartemen warisan yang masih menimbulkan biaya rutin.
- Dana keluarga tidak mencukupi untuk menanggung kewajiban itu.
- Aset lain yang lebih penting, seperti rumah singgah dan musala, justru butuh perbaikan.
- Keputusan menjual dianggap sebagai langkah paling masuk akal.
Dengan kondisi tersebut, Sri berharap ada pihak yang bisa membantu proses penjualan dua apartemen itu agar beban keluarga berkurang. Ia menutup ceritanya dengan kembali meminta maaf kepada Jupe, sembari berharap peninggalan putrinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak dan bermanfaat.
Source: www.beritasatu.com