AARO Di CANS Gallery, Pameran Inkubasi AMP Yang Menguji Daya Tahan Seniman Muda

Program inkubasi seni Atreyu Moniaga Project (AMP) kembali mencapai tahap penting lewat pameran bertajuk Mixed Feeling: “AARO” di CAN’S Gallery, Jakarta Pusat. Pameran ini menampilkan hasil kerja empat seniman muda yang selama proses inkubasi mengembangkan karya, gagasan, dan pengalaman artistik secara lebih matang.

Pameran AARO menjadi penanda akhir dari AMP #13 yang telah berjalan sejak September 2024. Di ruang pamer, pengunjung dapat melihat lebih dari 40 karya dari Ada Khansa, Ann Martin, Red Mecca, dan Oddyendy yang lahir dari proses pendampingan, produksi, dan pengelolaan proyek kreatif.

Puncak proses inkubasi AMP #13

AMP dikenal sebagai program independen yang fokus pada pengembangan seniman muda di Jakarta. Program ini digagas oleh seniman Atreyu Moniaga dan menggabungkan pelatihan teknis dengan pengalaman langsung dalam kerja seni yang lebih luas.

Berbeda dari pameran yang hanya menampilkan hasil akhir, AMP memberi ruang bagi peserta untuk mengalami seluruh proses kreatif. Keempat seniman yang terlibat tidak hanya membuat karya, tetapi juga ikut mengelola pameran melalui publikasi, pengarsipan, koordinasi produksi, dan jejaring.

Makna di balik nama AARO

Nama “AARO” diambil dari inisial empat seniman yang terlibat dalam program ini. Nama tersebut juga dimaknai sebagai gunung yang menjulang, sehingga mencerminkan harapan agar fondasi artistik para peserta menjadi lebih kuat ke depan.

Pilihan nama itu sejalan dengan semangat pameran yang menampilkan perkembangan tiap seniman secara personal. Meski pendekatan visual mereka berbeda, pameran ini memperlihatkan kesamaan dalam cara mereka merespons pengalaman diri dan lingkungan sekitar.

Karya yang menyoroti pengalaman personal

Ada Khansa menampilkan seri Sandbox yang terdiri dari 10 karya dan berangkat dari pengalaman batin yang terus berubah. Seri ini memperlihatkan bagaimana pengalaman internal dapat menjadi dorongan utama dalam eksplorasi visual.

Ann Martin dan Red Mecca sama-sama mengaitkan fenomena sosial dengan praktik artistik mereka. Sementara itu, Oddyendy melalui seri Tungkil menghadirkan pembacaan atas masa lalu sebagai bagian dari perjalanan kreatif yang harus diterima dan diolah.

Ketahanan seniman di balik karya

Atreyu Moniaga menekankan bahwa menjadi seniman tidak hanya soal hasil yang terlihat di ruang pamer. Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4/2026), ia menyebut bahwa pekerjaan seni juga menuntut ketahanan, kerja keras, dan komitmen tinggi.

“Sering kali kita menganggap menjadi seniman adalah sesuatu yang glamor dan menyenangkan. Padahal, di balik itu ada sisi yang menuntut ketahanan, kerja keras, dan komitmen tinggi,” ujarnya.

Seleksi ketat dan ruang tumbuh di galeri

Dari sisi penyelenggara, CAN’S Gallery melihat AMP #13 sebagai kelompok seniman yang menunjukkan konsistensi sejak awal program. Direktur CAN’S Gallery Inge Santoso mengatakan pihaknya menilai para peserta memiliki potensi kuat dari segi konsep dan perkembangan karya.

“Kami memang cukup selektif dalam memilih seniman yang berpameran. Tapi melihat proses dan komitmen mereka, kami ingin memberi ruang agar mereka bisa berkembang lebih jauh,” ujarnya.

Pameran Mixed Feeling: “AARO” hadir sebagai ruang yang memperlihatkan bagaimana program inkubasi dapat membentuk karya sekaligus karakter kerja seniman muda. Melalui lebih dari 40 karya, pengunjung dapat melihat bagaimana proses panjang AMP #13 bermuara pada presentasi artistik yang menempatkan pengalaman, kedisiplinan, dan pertumbuhan sebagai pusat perhatian.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version