Untuk pertama kalinya, Ramayana Ballet Prambanan tampil di luar Yogyakarta dengan membawakan fragmen Shinta Obong di Jakarta. Pertunjukan ini digelar di Amphitheater Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai bagian dari perayaan HUT TMII ke-51 dan langsung menyedot perhatian ratusan pengunjung.
Kehadiran lakon legendaris tersebut menghadirkan perpaduan tari Jawa klasik, gamelan, dan fire dance dalam satu panggung. Nuansa dramatik dan visual yang kuat membuat pertunjukan ini menjadi salah satu sajian budaya paling menonjol dalam momentum ulang tahun TMII.
Pertunjukan perdana di luar Yogyakarta
Plt. Direktur Utama TMII, Ratri Paramita, menyebut kehadiran Shinta Obong sebagai hadiah spesial bagi pengunjung. Ia juga menegaskan bahwa penampilan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya fragmen dari Ramayana Ballet Prambanan hadir di luar Yogyakarta.
Ratri mengatakan pertunjukan berlangsung pada 18-19 April 2026 dan disiapkan sebagai hiburan khusus dalam rangka ulang tahun TMII ke-51. Penyajian di Jakarta ini sekaligus mempertemukan dua ikon budaya dan rekreasi yang sama-sama lekat dengan identitas Indonesia.
Lakon Shinta Obong tarik perhatian penonton
Begitu alunan gamelan terdengar, suasana amphitheater berubah menjadi lebih hening dan tegang. Dewi Shinta tampil dengan busana putih dalam kondisi murung, menggambarkan penderitaan saat ditawan Rahwana di Kerajaan Alengka.
Adegan kemudian bergerak ke bagian yang lebih intens ketika Rahwana hadir dan berusaha merayu Shinta. Meski berada dalam tekanan dan sempat digambarkan diliputi keraguan, Shinta tetap memegang teguh kesetiaannya kepada Rama.
Panggung api menjadi puncak drama
Ketegangan mencapai titik tertinggi saat cerita masuk ke bagian pembuktian kesucian. Setelah peperangan dimenangkan pihak Rama, Shinta justru harus menghadapi keraguan atas martabatnya selama ditawan, lalu menerima tantangan ritual bakar diri atau obong.
Panggung Amphitheater TMII kemudian dipenuhi efek api yang menyala dan atraksi fire dance yang memukau. Dalam suasana yang mencekam itu, Shinta melangkah menuju kobaran api dan keluar tanpa luka, menegaskan kesucian dan kesetiaannya di hadapan Rama.
Sajian budaya dengan pesan moral kuat
Pertunjukan ini tidak hanya menonjolkan keindahan koreografi dan tata panggung, tetapi juga menjaga kekuatan cerita klasik Ramayana. Dalam lakon Shinta Obong, penonton diajak melihat kembali tema kesetiaan, pengorbanan, dan pembuktian martabat melalui medium seni pertunjukan tradisional.
Tepuk tangan meriah dari para penonton menutup penampilan tersebut di TMII. Kehadiran Ramayana Ballet Prambanan di Jakarta memperlihatkan bagaimana pertunjukan tradisi masih memiliki daya tarik kuat ketika dipresentasikan dengan kemasan visual yang dramatis dan tetap setia pada akar budayanya.
