Film The Devil Wears Prada 2 menghadapi gelombang boikot di China setelah trailer yang beredar memicu tudingan rasisme. Kontroversi ini berpusat pada karakter Asia bernama Jin Chao, yang dinilai sebagian warganet memiliki nama dan penggambaran yang dianggap menyinggung orang China.
Reaksi negatif muncul setelah klip trailer menampilkan karakter asisten Asia itu memperkenalkan diri dengan nama yang oleh banyak pengamat daring terdengar menyerupai “Ching Chong”. Ungkapan tersebut dikenal sebagai hinaan rasial yang dipakai untuk mengejek bahasa dan orang China, sehingga memunculkan kritik luas di media sosial.
Sumber kontroversi dari nama dan karakterisasi
Sebagian desas-desus di media sosial sempat menyebut nama karakter itu sebagai “Chin Chou”, meski dalam klip yang beredar karakter tersebut memperkenalkan diri sebagai “Jin Chao”. Perbedaan penyebutan itu justru memperkuat persepsi negatif karena variasi nama tersebut dinilai semakin dekat dengan bunyi kata hinaan rasial yang dianggap ofensif.
Selain soal nama, karakter itu juga dikritik karena dianggap kembali memakai stereotip lama tentang orang Asia, yaitu pintar tetapi culun. Dalam trailer, karakter Chao diperlihatkan menonjolkan prestasi akademiknya dengan menyebut “Yale” dan “IPK 3,86”, yang bagi sebagian penonton justru mempertegas kesan karikatural.
Gelombang kritik dari warganet China membuat pembahasan tentang film ini meluas di internet. Seorang pengamat daring yang dikutip mengatakan, “Saya telah tinggal di AS selama lebih dari satu dekade dan tidak dapat menemukan alasan apa pun untuk nama itu. Saya berencana untuk menonton film ini, tetapi sekarang saya tidak akan menontonnya.”
Boikot muncul jelang penayangan di China
Kontroversi ini muncul ketika film dijadwalkan tayang di China pada 30 April, tepat menjelang libur Hari Buruh selama lima hari. Momentum tersebut penting karena periode liburan biasanya menjadi salah satu waktu yang diperhitungkan untuk menarik penonton bioskop dalam jumlah besar.
Sampai titik ini, boikot terhadap The Devil Wears Prada 2 tidak hanya bertumpu pada satu unsur dialog atau visual, tetapi juga pada sensitivitas yang lebih luas terhadap representasi etnis Asia di layar lebar. Bagi sebagian penonton di China, trailer itu dinilai gagal membaca batas antara karakterisasi fiksi dan stereotip yang merendahkan.
Ingatan pada kesuksesan film pertama di China
Sikap keras terhadap sekuel ini terasa kontras dengan penerimaan film pertamanya di China. The Devil Wears Prada yang dirilis di AS pada 2006 dan tayang di bioskop China pada 2007 justru mencatat hasil yang kuat di pasar tersebut.
Film original itu menghasilkan 10 juta yuan atau sekitar US$1,4 juta pada minggu pertama penayangan di China. Film tersebut juga mendapat sambutan positif dari penonton, termasuk menjadi pilihan populer di kalangan penonton wanita sekitar Hari Perempuan Internasional.
Di platform film online terkemuka di China, film itu meraih skor 8,2 dari 10 dari lebih dari 800.000 penilai. Data tersebut menunjukkan bahwa waralaba ini sebelumnya memiliki posisi yang cukup baik di mata penonton China, sehingga kontroversi pada sekuelnya menjadi sorotan besar.
Dampak reputasi menjelang rilis film
Perdebatan yang muncul dari trailer menunjukkan bahwa respons publik di pasar besar seperti China bisa berubah cepat ketika isu representasi dianggap bermasalah. Dalam kasus ini, kritik tidak hanya datang dari mereka yang menilai ada unsur hinaan terselubung, tetapi juga dari penonton yang menolak penguatan stereotip terhadap karakter Asia.
Dengan penayangan yang semakin dekat, perhatian terhadap The Devil Wears Prada 2 kini tidak hanya tertuju pada cerita dan para pemainnya, tetapi juga pada bagaimana film itu dibaca oleh penonton China yang sangat peka terhadap isu rasisme dan penggambaran etnis. Kontroversi ini membuat perjalanan rilis film tersebut di China menjadi jauh lebih rumit dibandingkan sambutan hangat yang pernah diterima film pertamanya.
Source: lifestyle.bisnis.com