Sejak awal, Perfect Crown menempatkan Pangeran I An sebagai sosok yang hidup di bawah tekanan aturan istana. Sebagai putra kedua raja terdahulu, ia terbiasa menahan diri, tidak menonjol, dan tidak boleh tampak lebih unggul daripada Yi Hwan, sang kakak laki-laki.
Karakter itu berubah ketika Seong Hui Ju hadir sebagai sosok yang berani mengajukan kesepakatan pernikahan kontrak. Kehadiran Hui Ju membuat I An perlahan berani mengambil keputusan yang sebelumnya ia hindari, termasuk melanggar tata tertib istana demi melindungi perempuan yang ia anggap penting.
1. Menyimpang dari tuntutan mencari pasangan bangsawan
Dalam lingkungan kerajaan, I An tidak punya kebebasan memilih pasangan sesuka hati. Sebagai bangsawan, ia dituntut mencari pendamping dari klan yang setara agar tatanan sosial istana tetap terjaga.
Namun, arah pilihan itu tampak goyah sejak Hui Ju masuk ke hidupnya. Hubungan yang muncul bukan berangkat dari kepatuhan pada tradisi, melainkan dari keberanian I An untuk mempertimbangkan keinginan pribadi.
2. Berani berhadapan dengan ibu suri dan para menteri
Demi Hui Ju, I An tidak ragu berdiri di depan pihak-pihak yang menolak keras kehadiran gadis itu. Ia bahkan siap pasang badan ketika penolakan datang dari Ibu suri Yi Rang dan para menteri.
Sikap itu menunjukkan perubahan besar pada diri I An. Dari sosok yang selama ini menekan diri agar tidak memancing kemarahan keluarga istana, ia mulai memilih untuk melawan ketika orang yang ia lindungi berada dalam ancaman.
3. Membawa Hui Ju ke balai Anhwadang
Salah satu pelanggaran yang paling jelas terlihat adalah saat I An membawa Hui Ju ke Anhwadang, kediaman pribadinya. Langkah itu cukup berisiko karena ia tahu tindakan tersebut tidak diperbolehkan.
Keputusan itu memperlihatkan bahwa I An tidak lagi sekadar mengikuti aturan secara kaku. Ia menempatkan keamanan dan keberadaan Hui Ju di atas larangan yang seharusnya ia patuhi.
4. Meninggalkan ritual leluhur di tengah jalan
Pelanggaran lain muncul saat I An meninggalkan ritual leluhur sebelum prosesi selesai. Tindakan itu menandakan bahwa ia memilih Hui Ju ketimbang kewajiban seremonial yang mestinya dijalankan penuh.
Sebagai anggota keluarga kerajaan, I An seharusnya tetap berada sampai akhir ritual. Namun, demi Hui Ju, ia rela meninggalkan prosesi yang memiliki bobot simbolik besar dalam kehidupan istana.
5. Mengabaikan kewajiban resmi sebagai pangeran agung
Keputusan meninggalkan ritual leluhur juga mempertegas posisi I An sebagai pangeran agung yang semestinya menjaga kesempurnaan sikap. Dalam struktur kerajaan, setiap gerak-geriknya ikut diawasi dan dinilai.
Karena itu, satu langkah keluar dari prosesi saja sudah cukup mencerminkan pergeseran besar. I An tampak lebih berani mengambil risiko pribadi daripada terus hidup sesuai pola yang ditentukan orang lain.
6. Melanggar aturan istana sejak sebelum rencana menikahi Hui Ju
Perubahan sikap I An tidak muncul tiba-tiba ketika pernikahan kontrak mulai dipertimbangkan. Jauh sebelumnya, ia sudah menunjukkan tanda-tanda keberanian melanggar aturan istana demi Hui Ju.
Momen awal ini penting karena memperlihatkan bahwa kedekatan mereka tumbuh dari serangkaian keputusan kecil yang tidak sesuai pakem kerajaan. Dari situ, hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesepakatan formal.
7. Membiarkan Hui Ju masuk ke halaman pribadi istana
Saat acara ulang tahun Putra mahkota, I An juga tidak mempersoalkan keberadaan Hui Ju di halaman pribadi istana, meski tamu dilarang masuk ke area tersebut. Sikap itu menambah daftar pelanggaran yang ia lakukan tanpa menunjukkan penolakan.
Di titik ini, terlihat bahwa I An sudah tidak lagi memedulikan beberapa batasan yang dulu ia pegang ketat. Bagi dirinya, keberadaan Hui Ju menjadi alasan yang cukup kuat untuk menggeser prioritas dari aturan ke perasaan dan perlindungan.
Source: www.idntimes.com






