Ajaran Bahagia Dari Jawa, Resensi Buku Tentang Hidup Yang Lebih Tenang

Di tengah tekanan produktivitas yang terus meningkat, banyak orang mulai mencari cara hidup yang lebih tenang dan tidak mudah terseret distraksi. Buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit hadir sebagai bacaan yang menyoroti kembali cara pandang leluhur Jawa dalam memaknai kebahagiaan.

Buku ini menempatkan kebahagiaan bukan sebagai target yang harus dikejar tanpa henti, melainkan sebagai kondisi batin yang tumbuh dari kesederhanaan, keseimbangan, dan penerimaan diri. Melalui pendekatan yang reflektif, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa alasan untuk merasa cukup sering kali justru berasal dari dalam diri, bukan dari standar luar yang terus berubah.

Kearifan Lokal yang Relevan di Hidup Modern

Kehadiran buku ini terasa relevan karena modernitas memang menawarkan banyak kemudahan, tetapi juga memunculkan tuntutan baru yang tidak pernah selesai. Orang kerap didorong untuk terus mencapai lebih banyak hal, sampai kebutuhan diri sendiri justru tertinggal.

Dalam konteks itu, ajaran leluhur Jawa yang dibahas dalam buku ini menjadi pengingat bahwa ketenteraman batin tidak selalu lahir dari pencapaian besar. Selama berabad-abad, nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa telah dipakai untuk menjaga harmoni dan menawarkan cara hidup yang lebih seimbang.

Keluwesan Tanpa Kehilangan Prinsip

Salah satu ajaran yang disorot adalah falsafah ngono yo ngono, ning aja ngono atau “begitu ya begitu, tetapi tidak demikian.” Ajaran ini menekankan sikap luwes dalam bergaul dan menempatkan diri di tengah relasi sosial, tanpa kehilangan batas atau prinsip dasar.

Buku ini juga memakai analogi ngelmu pring atau ilmu bambu untuk menjelaskan gagasan tersebut. Bambu dapat bergerak mengikuti arah angin, tetapi akarnya tetap tertanam kuat, dan perumpamaan itu memperlihatkan pentingnya fleksibilitas yang tetap berpegang pada nilai.

Pesan tersebut masih terasa hidup dan bahkan muncul dalam medium populer. Referensi ini antara lain terlihat pada lagu keroncong “Ajining Dhiri Saka Kedaling Lathi” yang dipopulerkan oleh Paksi Band pada 2023, serta single “Ngono yo Ngono, Ning Aja Ngono” dari Slank yang dirilis pada tahun yang sama.

Hidup Tidak Harus Serba Cepat

Selain keluwesan, buku ini juga membahas falsafah alon-alon asal kelakon yang menolak anggapan bahwa semua hal harus diselesaikan secepat mungkin. Gagasan ini menjadi sangat relevan di tengah budaya kerja modern yang menekankan efisiensi dan percepatan produksi.

Dalam pembacaan buku ini, sikap pelan tidak berarti malas. Sikap itu justru menunjukkan ritme hidup yang selaras dengan alam dan tidak sepenuhnya tunduk pada logika waktu industrial.

Ajaran Lain yang Menawarkan Ketenteraman

Buku Ajaran Bahagia dari Jawa juga menguraikan falsafah lain yang tidak kalah penting, seperti aja gege mangsa yang berarti tidak mendahului waktu yang telah ditentukan. Ada pula sing waras ngalah yang menekankan kebijaksanaan dalam mengalah, serta samadya yang mendorong hidup dalam kecukupan.

Seluruh ajaran itu memperlihatkan satu benang merah, yakni pentingnya hidup secara lebih tenang, reflektif, dan humanis. Di tengah budaya yang sering memuja kecepatan dan pencapaian, buku ini menawarkan sudut pandang berbeda tentang bagaimana seseorang dapat memahami diri dan menjaga keseimbangan hidup.

Bacaan seperti ini memberi ruang bagi pembaca untuk melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari peningkatan tanpa henti. Dalam kerangka ajaran Jawa yang diangkat buku tersebut, hidup yang lebih tenang sering kali dimulai dari kemampuan menerima, menata ulang keinginan, dan kembali pada ukuran yang benar-benar cukup.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button