Bonar Manalu mengaku rela menjalani perubahan penampilan ekstrem demi kebutuhan karakter dalam film horor komedi Gudang Merica garapan Imam Darto. Komika sekaligus aktor itu bahkan harus botak selama proses produksi setelah menandatangani kontrak, sesuatu yang menurutnya baru diberi tahu sesudah kesepakatan dibuat.
Film Gudang Merica dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 21 Mei 2026. Ceritanya mengikuti empat mahasiswa koas yang menjalani praktik di rumah sakit tua dekat kawasan hutan, lalu menghadapi rangkaian kejadian aneh setelah muncul kematian misterius di area sekitar.
Impresi Bonar saat membaca konsep film
Bonar langsung tertarik ketika mengenal ide besar yang dibawa Imam Darto ke dalam proyek ini. Ia menyebut imajinasi sang sutradara terasa kuat dan memberi alasan baginya untuk ikut terlibat dalam film tersebut.
“Kayaknya semuanya saya setuju, imajinasi Imam Darto itu luar biasa gitu,” kata Bonar. Pernyataan itu menunjukkan bahwa daya tarik film tidak hanya datang dari genre horor komedi, tetapi juga dari pendekatan kreatif yang ditawarkan sutradara.
Botak sebulan penuh demi kebutuhan peran
Perubahan fisik yang dijalani Bonar menjadi salah satu pengalaman paling unik selama produksi. Ia menceritakan bahwa rambutnya dipotong setelah kontrak ditandatangani dan ia harus tampil botak selama sekitar sebulan penuh.
“Saya dipotong rambut pak, setelah tanda tangan kontrak baru kasih tahu. Botak, sebulan full botak saya itu,” ujarnya sambil bercanda. Pengakuan itu memperlihatkan bahwa kebutuhan peran di film ini menuntut komitmen yang tidak ringan dari para pemain.
Film ini juga diperkuat oleh deretan pemain muda dan nama-nama lain seperti Arla Ailani, Fatih Unru, Zulfa Maharani, Benidictus Siregar, hingga Ardhito Pramono. Kehadiran mereka menambah warna pada cerita yang memadukan ketegangan, humor, dan situasi berisiko di lokasi syuting maupun di dalam cerita.
Adegan berbahaya tanpa pemeran pengganti
Selain perubahan penampilan, proses syuting Gudang Merica juga disebut penuh tantangan. Bonar mengungkapkan bahwa para pemain harus menjalani adegan berbahaya tanpa menggunakan pemeran pengganti.
Salah satu momen yang paling menegangkan terjadi saat pengambilan gambar adegan kejar-kejaran di area tebing. Bonar menuturkan situasi itu terasa sangat berisiko karena para pemain harus tetap bermain langsung di lokasi yang tidak aman.
“Gak boleh pakai stan (pemeran pengganti), terus ada kejar-kejaran di tebing, Rekan saya mau jatuh beneran,” kata Bonar. Cerita itu memberi gambaran bahwa film ini mengandalkan intensitas adegan fisik untuk mendukung atmosfer mencekam yang dibangun sepanjang cerita.
Rasa penasaran terhadap hasil akhir film
Meski menghadapi banyak tantangan, Bonar menyebut dirinya menikmati proses syuting film tersebut. Ia juga penasaran melihat sejauh mana imajinasi Imam Darto bisa diwujudkan ke layar lebar dalam balutan horor komedi.
“Pokoknya imajinasi Imam Darto, ayo saya ikut dah gitu. Pengen liat sejauh apa gitu,” tutupnya. Dengan kombinasi cerita tentang mahasiswa koas, rumah sakit tua, misteri kematian, dan adegan ekstrem, Gudang Merica tampil sebagai proyek yang menuntut energi besar dari para pemain sekaligus menjanjikan pengalaman tontonan yang berbeda.
Source: www.medcom.id