Hanung Bramantyo memilih mengambil langkah berisiko saat menggarap Children of Heaven versi Indonesia. Ia sengaja menjauh dari gaya visual megah yang selama ini identik dengan MD Pictures demi menjaga rasa realisme yang jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan itu membuat proses kreatif film ini berjalan dengan arah yang berbeda dari kebiasaan produser Manoj Punjabi. Meski begitu, Manoj justru mengaku puas penuh setelah menyaksikan hasil akhirnya, termasuk intensitas emosi di bagian penutup film.
Hanung minta ruang untuk realisme
Hanung mengatakan sejak awal sudah memberi peringatan kepada Manoj bahwa film ini tidak akan dibentuk dengan pola yang formulaik. Ia menilai Children of Heaven harus tetap menjaga ruh neorealisme seperti film aslinya dari Iran.
Menurut Hanung, tantangan terbesarnya justru ada pada upaya mengubah kebiasaan estetika rumah produksi yang selama ini sering tampil sinematik dan besar. Ia bahkan menggambarkan pergeseran itu sebagai perubahan yang sangat drastis dalam cara pandang visual.
“Saya bilang sama Pak Manoj, ‘Saya enggak mau ya film Children of Heaven ini dibentuk seolah-olah sebagaimana film yang bentuknya sangat formulaist. Enggak bisa, ini beda banget lho, beda dari taste-nya Pak Manoj biasanya’,” kata Hanung.
Ia juga menegaskan bahwa film Iran memiliki pendekatan realisme yang kuat, berbeda dengan film yang cenderung penuh penekanan dramatik. Karena itu, Hanung memilih meminimalkan polesan agar emosi film tetap terasa alami.
“MD kebanyakan membuat film yang sangat bentuk, dar-der-dor, seperti film India. Sementara film Iran itu pahamnya realisme. Bagaimana gaya yang terbiasa sinematik itu di-tweak, itu sudah kayak pindah agama kan,” ujarnya.
Komedi dimasukkan agar lebih dekat dengan penonton Indonesia
Meski menekankan realisme, Hanung tidak menyalin pendekatan film Iran secara mentah. Ia memasukkan unsur komedi melalui para komika seperti Muhadkly Acho, Dodit Mulyanto, dan Oki Rengga agar film lebih akrab dengan selera penonton Indonesia.
Hanung menilai masyarakat Indonesia punya tradisi tontonan yang menggabungkan cerita kuat, sentuhan emosional, dan kelucuan. Ia menyebut karakter itu sudah lama hadir dalam seni pertunjukan seperti Lenong dan Ketoprak.
“Tradisi pertunjukan kita selalu mengedepankan tiga hal, yaitu cerita bagus, menyentuh, dan lucu. Orang Iran mungkin hidupnya serius sekali, sementara kita, lapar saja masih bisa ketawa,” ujar Hanung.
Ia menambahkan bahwa unsur humor itu bukan sekadar tempelan, melainkan bagian dari upaya membuat film terasa lengkap. Dengan begitu, penonton bisa tetap merasakan emosi keluarga dan drama yang kuat tanpa kehilangan kedekatan budaya.
Manoj Punjabi puas dengan hasil akhir
Di sisi lain, Manoj Punjabi memberi respons sangat positif terhadap film ini. Ia menyebut bagian 20 menit terakhir sebagai momen paling menegangkan dan emosional saat menyaksikan gala premiere di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
“Adegan terakhir itu, 20 menit terakhir saya kayak keringetan nonton. Per menit saya bisa merasa tegangnya, saya sudah involved di karakter ini, bahkan sampai lagu yang luar biasa itu keluar, sudah puas saya,” kata Manoj.
Manoj juga menegaskan dirinya tidak ingin mengubah jajaran pemain yang sudah dipilih untuk film ini. Menurut dia, susunan pemeran terasa tepat dan selaras dengan kebutuhan cerita.
“Di sini semuanya right-right casting. Kalau saya punya time capsule untuk rewind apa yang bisa diganti, saya enggak akan ganti apa pun,” tambahnya.
Perhatian khusus untuk aktor anak di lokasi syuting
Selain soal gaya penyutradaraan, Hanung juga menaruh perhatian besar pada kondisi kerja para pemain anak. Ia membuat aturan syuting yang sehat dan membatasi jam kerja agar mereka tidak kelelahan.
Hanung menyebut proses syuting dimulai pagi dan berlangsung sampai sore, lalu berhenti sejenak untuk istirahat. Jika ada adegan malam, pemeran anak tidak boleh dipanggil sejak pagi dan harus diberi waktu istirahat lebih dulu.
“Syutingnya sehat, jam 7 pagi sampai sore, ada break dulu. Kalau dilanjut malam, enggak boleh ada anak-anak. Saya keras soal itu,” tegas Hanung.
Ia juga menyiapkan body double untuk adegan yang memerlukan lari jarak jauh atau pengambilan long shot. Cara itu dipakai agar Jared Ali sebagai pemeran utama tidak diforsir terlalu berat.
Meski begitu, kendala fisik tetap muncul di tengah proses produksi. Hanung mengenang, pada hari pertama syuting adegan maraton, Jared Ali mendadak tidak bisa melanjutkan karena kakinya cantengan.
“Ternyata selama syuting sepatunya basah untuk kebutuhan continuity, dan saking intensnya, dia enggak lepas sepatu itu bahkan saat lagi nunggu. Akhirnya virus masuk dan kita harus break,” kata Hanung.
Film keluarga dengan misi sosial
Children of Heaven versi Indonesia diadaptasi dari karya asli Majid Majidi dan diposisikan sebagai film drama keluarga. Film ini dibintangi Jared Ali dan Humaira Zahra, dengan dukungan Andri Mashadi, Faradina Mufti, serta deretan komika yang menghidupkan warna cerita.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 27 Mei 2026. Selain membawa cerita keluarga, film ini juga menyertakan misi sosial melalui gerakan donasi sepatu untuk anak-anak sekolah yang membutuhkan di berbagai daerah terpencil.
Source: www.suara.com






