Tari lengger kini memasuki fase baru dalam upaya pelestarian melalui teknologi motion capture dan riset DNA gerak. Cara ini dipakai untuk merekam pola tubuh, ritme, dan karakter gerak khas lengger sebagai arsip digital yang bisa dipelajari lintas generasi.
Langkah tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa pelaku tradisional lengger akan terus berkurang. Seniman lengger Rianto menyebut persoalan regenerasi sebagai tantangan utama, karena tanpa penerus, praktik ini berisiko hilang dalam beberapa dekade ke depan.
Rekam Gerak sebagai Arsip Budaya
Teknologi motion capture memungkinkan gerak tubuh lengger dipetakan secara detail. Rekaman ini tidak hanya menyimpan bentuk gerak, tetapi juga membantu menangkap pola yang menjadi identitas tari tersebut.
Rianto menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan karena lengger bukan sekadar tontonan panggung. Tradisi ini juga memuat laku tubuh dengan dimensi spiritual, sehingga dokumentasi visual biasa dinilai belum cukup untuk menjaga keseluruhan maknanya.
Kolaborasi riset ini dilakukan bersama sejumlah universitas di Melbourne dan Jenewa. Melalui pendekatan tersebut, gerak lengger diperlakukan sebagai semacam “DNA gerak” digital yang merekam kekhasan tubuh dalam tradisi itu.
Menjaga Ingatan Tubuh Lintas Generasi
Digitalisasi dipandang sebagai jalan untuk merawat ingatan tubuh lengger agar tidak putus. Arsip digital dari motion capture memberi peluang bagi generasi berikutnya untuk mempelajari struktur gerak secara lebih presisi.
Upaya ini juga membuka ruang baru dalam pengembangan seni pertunjukan berbasis data gerak. Meski begitu, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memastikan lengger tetap hidup sebagai tradisi yang bisa diwariskan.
Menurut Rianto, pertanyaan paling mendasar adalah soal keberlanjutan pelaku. Ia menyinggung kekhawatiran tentang masa depan tradisi itu dengan pertanyaan, “Kalau 50 tahun ke depan tubuh ini sudah tidak ada, siapa yang akan melanjutkan?”
Makna Lengger Tidak Hanya di Permukaan
Penulis dan alumnus ISI Surakarta, Purnawan Andra, menilai lengger merepresentasikan harmoni kosmos. Dalam pandangannya, gerak lengger menyimpan simbol yang menghubungkan manusia dengan alam.
Ia mengingatkan bahwa ketika makna tradisi tidak dipahami secara utuh, ada risiko pembelokan tafsir. Dalam situasi itu, lengger bisa dipersepsikan hanya sebagai identitas, bukan sebagai praktik budaya yang kompleks.
Perubahan tafsir juga muncul di ruang publik modern. Salah satu yang disorot adalah kecenderungan menyederhanakan lengger menjadi simbol identitas semata, padahal tradisi ini memiliki lapisan makna yang lebih luas.
Sejarah Panjang dan Konteks Lokal
Perwakilan Borobudur Writers and Cultural Festival, Seno Joko Suyono, menegaskan bahwa lengger memiliki sejarah panjang. Tradisi ini berkembang sejak abad ke-19 di Banyumas, termasuk dalam bentuk lengger lanang.
Ia menilai keberagaman dalam lengger merupakan bagian dari praktik budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Dalam tradisi ini, perempuan yang memerankan tokoh laki-laki juga hadir sebagai ekspresi yang tidak bisa dilepaskan dari konteks lokal.
Seno menekankan bahwa lengger tidak bisa dibaca semata sebagai queer performance. Tarian ini bertolak dari khasanah spiritual yang berkaitan dengan sawah, kesuburan, hujan, dan religiositas orang Jawa.
Teknologi dan Tradisi yang Saling Menopang
Pemakaian motion capture menunjukkan bahwa pelestarian budaya kini tidak hanya mengandalkan panggung dan dokumentasi konvensional. Teknologi hadir untuk membantu menyimpan detail yang sulit ditangkap lewat metode biasa.
Dalam kasus lengger, rekaman digital diposisikan sebagai alat bantu untuk menjaga akurasi gerak dan warisan makna. Cara ini sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi dapat bertahan dengan pendekatan baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Selama konteks spiritual, sejarah, dan makna lokalnya tetap dijaga, teknologi dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru dalam mengenali lengger secara lebih utuh.
