Acha Septriasa membagikan pengalaman culture shock saat awal tinggal di Australia, dan momen yang paling membekas justru datang dari hal sederhana: etika antre lift. Aktris itu mengaku sempat salah paham karena membawa kebiasaan yang biasa ditemui di Indonesia ke lingkungan baru yang punya aturan sosial berbeda.
Menurut Acha, pengalaman itu menjadi pelajaran pertama soal cara hidup di Australia yang sangat menjunjung antrean. Ia sempat ditegur karena tidak sengaja dianggap memotong antrean lift, meski saat itu posisinya memang sangat dekat dengan pintu.
Etika antre yang berbeda
Acha menjelaskan bahwa budaya antre di Australia berlaku ketat, termasuk saat naik lift. Di Indonesia, orang yang paling dekat dengan pintu biasanya akan lebih dulu masuk, tetapi di Australia urutannya mengikuti siapa yang lebih dulu menunggu di antrean.
Ia menceritakan bahwa perbedaan kecil itu sempat membuatnya bingung pada awal tinggal di sana. Saat mengira lift sudah bisa dimasuki karena jaraknya sangat dekat, Acha justru mendapat komentar bahwa tindakannya tidak sopan.
“Kalau di Indonesia kan orang yang paling dekat lift bisa langsung masuk. Tapi kalau di sana, siapa pun yang sudah menunggu paling depan, dia yang paling berhak masuk ke lift,” kata Acha saat ditemui di kawasan Kedoya, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa culture shock tidak selalu muncul dari hal besar. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan kecil seperti antre pun bisa menjadi penanda kuat perbedaan nilai sosial di dua negara.
Pelajaran dari gaya hidup di Australia
Selain soal lift, Acha juga melihat adanya perbedaan dalam cara masyarakat Australia menjalani hidup. Ia menilai masyarakat di sana cenderung sederhana dan tidak terlalu menonjolkan status sosial lewat gaya konsumsi.
Acha menyebut pola hidup kalangan yang berada dan kelas menengah terlihat relatif serupa. Menurut dia, kebiasaan mereka dalam menghabiskan waktu tidak jauh berbeda, mulai dari makan hingga minum kopi.
“Di sana itu mau orang yang established, kaya banget, middle class, kebiasaannya dalam spend time sama saja. Makannya sama, minum kopinya sama, makan rotinya sama,” ujarnya.
Pandangan itu membuat Acha melihat bahwa kemewahan di Australia tidak selalu berarti barang mahal atau penampilan mencolok. Ia justru menilai nilai yang paling berharga ada pada kualitas hidup yang tidak bisa diukur dengan materi.
Makna luxury yang berbeda
Bagi Acha, hal yang terasa mewah di Australia adalah kenyamanan hidup sehari-hari. Ia menyebut udara bersih, pemandangan, ketenangan, dan rasa aman sebagai bagian dari hal-hal yang sangat bernilai.
“Yang valuable itu quality of life yang intangible. Hal-hal seperti udara, pemandangan, ketenangan hati, rasa aman, itu justru luxury banget di sana,” tutur Acha.
Pengalaman tinggal di Australia akhirnya memberi Acha sudut pandang baru tentang kebahagiaan dan kehidupan yang nyaman. Dari antre lift hingga pola hidup masyarakatnya, ia melihat bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bisa punya arti besar dalam membentuk kualitas hidup.
Source: mediaindonesia.com