Dosa, Penebusan Atau Pengampunan, Teror Hotel Tua Mengungkap Dosa Pasangan Suami Istri

Industri film horor Indonesia kembali menambah daftar tayangan layar lebar lewat Dosa, Penebusan atau Pengampunan, yang dijadwalkan mulai menghantui bioskop pada 11 Juni 2026. Film ini membawa kisah yang tidak hanya menonjolkan teror, tetapi juga menawarkan lapisan tema tentang kesalahan manusia, rasa bersalah, dan konsekuensi dari pilihan yang diambil.

Disutradarai Sondang Pratama, film ini menghadirkan Muhammad Riza Irsyadillah, Jennifer Eve, Revaldo, Dominique Sanda, dan Dede sebagai jajaran pemeran utama. Sondang menempatkan film ini sebagai refleksi atas kecenderungan manusia modern yang kerap menormalisasi tindakan keliru dan kejahatan.

Pesan moral di balik judul

Dalam konferensi pers pada Senin (8/5), Sondang menjelaskan alasan pemilihan judul Dosa. Ia menilai, judul itu lahir dari kegelisahan terhadap keadaan sosial yang membuat berbagai pelanggaran terasa semakin biasa.

“Jadi kenapa judulnya Dosa? Karena melihat zaman sekarang ya kayaknya orang sudah mulai menormalkan segala sesuatu tindak kejahatan,” ujar Sondang. Ia menambahkan bahwa film ini menjadi upaya menerjemahkan kegelisahan tersebut ke dalam cerita horor yang dekat dengan realitas manusia.

Pendekatan itu membuat film ini tidak hanya mengandalkan kejutan visual. Cerita juga dibangun untuk mendorong penonton membaca ulang makna penebusan dan pengampunan di tengah kesalahan yang terus membayangi tokohnya.

Cerita pasangan yang terseret teror

Kisah berpusat pada pasangan suami istri, Bima dan Ersya, yang memutuskan melakukan perjalanan ke luar kota meski mendapat firasat buruk dari Nungki, ibu Ersya. Keputusan itu berubah menjadi awal dari rangkaian peristiwa menyeramkan setelah Ersya mengambil langkah ekstrem agar rencana mereka tetap berjalan.

Perjalanan mereka kemudian berakhir dalam kecelakaan hebat di kawasan perbukitan setelah berpapasan dengan Nanang, sopir truk yang ugal-ugalan. Dalam kondisi terluka, keduanya harus bertahan di sebuah hotel tua yang menyimpan suasana dingin dan misterius.

Di hotel itu, Sheren hadir sebagai resepsionis dengan sikap yang tidak ramah. Dari titik inilah teror mulai meningkat, sementara pesan-pesan misterius muncul dan mengarah pada rahasia masa lalu yang belum selesai.

Produksi menghadapi kendala lokasi

Di balik layar, produksi film ini juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tim sempat kesulitan memakai hotel asli di Malang karena pengelola bangunan menolak lokasi mereka digunakan untuk syuting.

Penolakan itu muncul dari kekhawatiran bahwa hotel akan dicap angker oleh masyarakat. Karena situasi tersebut, tim produksi memilih membangun set hotel sendiri di studio, bahkan sampai menyewa dua studio sekaligus untuk mendukung kebutuhan pengambilan gambar.

Langkah itu menunjukkan besarnya perhatian pada detail suasana dalam film. Keputusan membangun set dari nol juga memberi ruang bagi tim untuk menyusun atmosfer horor yang lebih terkendali sesuai kebutuhan cerita.

Teror, rahasia, dan pertaruhan batin

Film ini menempatkan teror bukan sekadar sebagai gangguan fisik, melainkan sebagai cerminan beban batin para tokohnya. Sosok algojo tak kasat mata mengejar Bima dan Ersya, seolah membawa pesan bahwa setiap dosa memiliki ganjaran yang sulit dihindari.

Di titik ini, Dosa, Penebusan atau Pengampunan bergerak sebagai film horor dengan lapisan drama moral yang cukup kuat. Ceritanya menempatkan ketakutan, penyesalan, dan harapan akan pengampunan dalam satu ruang yang sama, tepat di tengah hotel tua yang menjadi pusat teror.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button