Karakter alien Foufo dalam film komedi fiksi ilmiah Foufo dihidupkan dengan teknologi motion capture dan CGI. Bayu Skak menyebut pendekatan itu membuat proses garapannya terasa setara dengan teknik yang dipakai di film besar, termasuk karya James Cameron.
Dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Bayu menjelaskan bahwa timnya memakai teknologi tersebut untuk membentuk detail karakter utama. Ia menegaskan bahwa penggarapan visual Foufo menuntut persiapan yang sangat teliti sejak tahap syuting.
Teknologi visual yang jadi andalan
Bayu Skak menyebut tim produksi harus merekam lingkungan sekitar sebelum pengambilan gambar selesai. Langkah ini dibutuhkan agar efek visual, termasuk pantulan cahaya pada mata Foufo, bisa tampak meyakinkan saat masuk proses pascaproduksi.
“Untuk menghidupkan karakternya Foufo, itu kita harus menggunakan teknologi CGI,” ujar Bayu. Ia menambahkan bahwa proses itu juga melibatkan motion capture untuk mendukung gerakan karakter alien tersebut.
Untuk pengerjaan animasi, Skak Studios dan Sinemart menggandeng studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa. Sekitar 120 animator ikut mengerjakan sosok makhluk luar angkasa itu di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan di industri kreatif.
Diperankan lewat dua peran berbeda
Bayu menjelaskan bahwa Foufo tidak hanya dibangun dari sisi visual, tetapi juga lewat kolaborasi dua aktor dengan tugas yang berbeda. Bambang Ceper menangani gerak karakter, sedangkan Ade Bibier mengisi suara Foufo.
Pola kerja itu membuat karakter alien tersebut punya ekspresi dan kepribadian yang lebih utuh di layar. Ade Bibier mengaku pengalaman ini menjadi hal baru baginya karena harus melakukan dubbing secara langsung bersama Bambang Ceper.
Tantangan fisik di balik kostum Foufo
Bagi Bambang Ceper, tantangan terbesar justru datang dari kostum yang dipakai saat syuting. Ia mengatakan kostum itu sangat tebal dan hanya kuat dipakai sekitar 30 menit sebelum tubuhnya terasa kepanasan.
Karena kondisi itu, tim produksi menyiapkan ruang tunggu dengan dua unit AC khusus agar Bambang bisa beristirahat di sela pengambilan gambar. Situasi tersebut menunjukkan bahwa peran karakter alien ini menuntut kerja fisik yang tidak ringan meski tampil sebagai sosok CGI.
Pengalaman baru bagi Bayu Skak sebagai sutradara
Bayu menyebut penggarapan karakter berbasis motion capture memberinya pengalaman baru di kursi sutradara. Ia harus menyesuaikan banyak elemen teknis sebelum syuting agar proses visual di tahap akhir berjalan sesuai kebutuhan cerita.
Menurut Bayu, detail seperti posisi kamera, area sekitar lokasi, hingga pantulan cahaya pada mata karakter perlu dicatat dengan cermat. Hal itu penting karena Foufo memiliki mata besar yang membutuhkan refleksi alami agar tampil realistis.
Film komedi fiksi ilmiah bernuansa Madura
Foufo digarap sebagai film komedi fiksi ilmiah yang juga membawa budaya Madura ke layar lebar. Sebagian besar dialog menggunakan bahasa Madura, khususnya dialek Bangkalan, dengan sekitar 90 persen pemain berasal dari daerah tersebut.
Film ini disutradarai Bayu Skak, dengan Bayu Skak dan Ricky R. Setiawan sebagai produser, serta David Suwarto sebagai produser eksekutif. Deretan pemainnya antara lain Tretan Muslim, Habib Ja’farm Ade ‘Bibier’ Kurnyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizky Bibir, dan DJ Rara.
Cerita film ini berpusat pada Muslim, pengepul rongsok keturunan Madura yang terdesak melunasi sisa biaya ibadah haji ibunya. Masalah berubah ketika ia menemukan bangkai UFO dan alien sekarat, lalu menyembunyikannya dan memberinya nama Foufo.
Source: www.medcom.id






