Belum masuk tahap syuting, film Sofia sudah membuat para pemainnya kewalahan secara mental. Naskah yang mereka baca disebut begitu berat sampai ada yang bercanda meminta disediakan terapis setelah proses produksi berjalan.
Respons itu muncul dalam konferensi pers pengumuman jajaran pemain film Sofia di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026). Dari awal, proyek ini memang langsung terasa berbeda karena materi ceritanya menuntut kesiapan psikologis yang tidak ringan.
Naskah yang Memukul Mental Para Pemain
Carissa Perusset, yang berperan sebagai Dahlia, mengaku sempat menanyakan apakah produksi akan menyiapkan psikolog atau terapis usai syuting. Menurutnya, karakter yang ia mainkan tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras emosi.
“Aku sampai nanya, ‘Ini nanti bakal sedia psikolog atau terapis enggak setelah syuting?’ Soalnya karakter yang dialamin Dahlia lumayan berat, bukan cuma fisik tapi mental juga,” kata Carissa.
Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk menolak tawaran itu karena temanya mengingatkannya pada pengalaman emosional dari proyek-proyek sebelumnya. Namun, Carissa melihat film ini juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki trauma yang sempat terbawa dari pekerjaan terdahulu.
Anantya Kirana, pemeran utama Sofia, juga merasakan beban serupa saat membaca skrip. Ia menyebut perlu menyiapkan kondisi mental lebih matang dibanding proyek sebelumnya karena karakter Sofia memiliki luka psikologis yang kompleks akibat kekerasan.
“Aku harus nyiapin mental lebih. Baca skripnya aja capek banget, adegan-adegannya juga capek, bukan cuma fisik tapi mental juga,” tutur Anantya.
| Pemain | Karakter | Respons terhadap naskah |
|---|---|---|
| Carissa Perusset | Dahlia | Sempat menanyakan ketersediaan psikolog atau terapis setelah syuting |
| Anantya Kirana | Sofia | Mengaku perlu menyiapkan mental lebih matang karena skrip terasa sangat berat |
| Nugie | Tidak disebutkan | Memilih bersepeda sendirian setelah reading sebagai bentuk healing |
| Kiki Narendra | Tidak disebutkan | Menyebut naskah Sofia sebagai salah satu yang paling berat yang pernah dibacanya |
Cara Para Aktor Menjaga Kondisi Psikologis
Tidak semua pemain merespons tekanan itu dengan cara yang sama. Nugie, yang juga dikenal sebagai musisi, punya kebiasaan bersepeda sendirian setiap selesai sesi reading untuk menjaga kewarasan dan menjernihkan pikiran.
“Kayaknya baru film ini deh, setiap reading saya harus sepedaan sendiri. Film ini benar-benar membutuhkan kita untuk fokus saat masuk ke karakter,” ucap Nugie.
Kiki Narendra pun mengakui pengalaman membaca naskah Sofia terasa sangat berat. Ia menilai beban film ini hadir bukan hanya dari sisi fisik, tetapi terutama dari sisi mental.
“Jujur saja, ini filmnya lumayan berat dari segi fisik maupun terutama dari segi mental. Begitu baca skripnya langsung kepikiran, ‘Waduh, ini berat banget,'” kata Kiki.
Film yang Mengangkat Normalisasi Kekerasan
Sutradara Adis Kayl Yurahmah menegaskan bahwa Sofia bukan sekadar horor misteri. Film ini mengangkat isu kekerasan yang perlahan dianggap biasa ketika berlangsung terlalu lama, dan dampaknya terhadap trauma psikologis seseorang.
“Film Sofia berbicara tentang bagaimana kekerasan akan dianggap normal kalau berlangsung terlalu lama. Ini film tentang kemanusiaan, bagaimana keluarga, lingkungan, dan sistem bisa membentuk seseorang beserta luka dan traumanya,” ujar Adis.
Penulis naskah Benjamin Bernard Chenier menjelaskan bahwa ide cerita muncul dari pengalamannya saat terlibat dalam sejumlah organisasi sosial. Dari situ, ia melihat langsung berbagai bentuk kekerasan yang menurutnya mengerikan dan layak diingatkan agar tidak terus berulang.
“Kalau kita terus menormalisasi kekerasan, itu akan semakin parah dan tertanam di masyarakat. Harapannya, cerita ini bisa mengingatkan supaya tragedi seperti itu tidak terus berulang,” kata Benjamin.
Sofia sendiri merupakan film psychological horror produksi Lasisi Pictures dengan naskah orisinal karya Benjamin Bernard Chenier. Film ini berfokus pada perjalanan Sofia, seorang gadis yang mengalami trauma akibat kekerasan yang membentuk kondisi psikologisnya.
Selain Anantya Kirana, film ini dibintangi Carissa Perusset, Wulan Guritno, Nugie, Kiki Narendra, Habil Nugraha, Leony V.H., dan Ayu Diandra. Setelah pengumuman jajaran pemain, film tersebut akan segera memasuki proses pengambilan gambar utama.
