Debut Ferly Halim Mengulik Luka Ibu-Anak dalam Takkan Kubiarkan Kau Menangis

Hubungan ibu dan anak yang retak menjadi pusat emosi film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, debut penyutradaraan Ferly Halim di industri film nasional. Drama keluarga ini dijadwalkan tayang pada 16 Juli 2026.

Film tersebut mengikuti Dika, seorang anak yang merasa dirinya tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini. Perasaan itu perlahan membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru terasa asing bagi keduanya.

Konflik antara cinta dan tuntutan

Dika diperankan Ari Irham, sementara Shanty memerankan Dini, ibu tunggal yang menyimpan luka masa lalu. Dini percaya aturan dan pengorbanan yang ia berikan kepada anaknya merupakan bentuk cinta.

Namun, cara pandang Dika dan Dini berbeda jauh. Perbedaan itu memunculkan kesalahpahaman yang membuat konflik di antara mereka terus membesar.

Bagi Dika, perhatian sang ibu kerap terasa sebagai tekanan, tuntutan, dan batasan. Sebaliknya, Dini berupaya membuka jalan bagi masa depan anaknya melalui cara yang tidak selalu dipahami Dika.

Di tengah jarak yang semakin lebar itu, Dika mulai mencari jawaban mengenai dirinya sendiri. Pencarian tersebut membawanya kepada Om Radit, sosok yang memberinya sudut pandang berbeda tentang hidup, keluarga, dan masa depan.

Peran penting Om Radit dan Sans Band

Om Radit diperankan Ariyo Wahab dan hadir sebagai figur yang membantu Dika melihat persoalannya dari sisi lain. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam perjalanan Dika menemukan jati diri.

Dika juga menemukan keberanian untuk mengejar mimpinya bersama teman-temannya dalam Sans Band. Angga, Emil, dan Marco menjadi bagian dari lingkungan yang mengiringi langkah Dika ketika ia mencoba menentukan jalan hidupnya sendiri.

KarakterPemeranKeterangan
DikaAri IrhamAnak yang merasa tak pernah cukup di mata ibunya
DiniShantyIbu tunggal yang dibayangi luka masa lalu
Om RaditAriyo WahabSosok yang membantu Dika melihat hidup dari sudut berbeda
AnggaAgoye MahendraAnggota Sans Band
EmilEmiliano CortizoAnggota Sans Band
MarcoTeuku RizkyAnggota Sans Band

Ketika Dika semakin jauh melangkah, ia mulai memahami ada kasih sayang yang selama ini tidak terbaca dengan utuh. Cinta Dini ternyata tetap hadir di balik keputusan-keputusan yang semula dianggap sebagai tekanan.

Takkan Kubiarkan Kau Menangis menempatkan pencarian jati diri, persahabatan, dan komunikasi keluarga dalam satu cerita yang hangat sekaligus emosional. Film ini juga mengangkat keberanian untuk mengungkapkan perasaan sebelum semuanya terlambat.

Debut sutradara muda

Bagi Ferly Halim, film ini menjadi pembuktian bahwa sineas perempuan muda dapat melahirkan karya berkualitas. Ia menilai karya kreator perempuan muda yang baru memulai langkah masih kerap dipandang skeptis dan sebelah mata.

Dalam keterangan pers yang dikutip mediaindonesia.com, Ferly berharap filmnya dapat memberi dampak positif bagi penonton. “Semoga film ini menjadi inspirasi dan dapat membangun hubungan keluarga yang lebih harmonis lagi dalam hal komunikasi sehari-hari di dalam rumah,” ungkapnya.

Respons positif terhadap film ini disebut telah terlihat dalam acara pemutaran perdana beberapa hari sebelumnya. Kehadiran Ferly membawa warna baru melalui drama keluarga yang menyoroti emosi, luka masa lalu, serta upaya memahami cinta dalam keluarga.

Dengan konflik Dika dan Dini sebagai penggerak utama cerita, film ini menyoroti pentingnya komunikasi di rumah. Kisahnya memperlihatkan bagaimana perasaan yang tidak tersampaikan dapat mengubah kedekatan keluarga menjadi jarak.

Source: mediaindonesia.com
Terkait