
Mendengarkan musik sejak usia dini dapat memberikan dampak yang signifikan bagi pertumbuhan anak, baik dari segi kognitif, sosial, maupun emosional. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang rutin memperkenalkan musik kepada anak-anaknya dapat membantu mereka mengenali dan mengelola emosi yang sedang mereka rasakan. Hal ini menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, yang menjelaskan bahwa musik dapat meningkatkan plastisitas otak anak dan berfungsi sebagai terapi efektif untuk membantu pengembangan empati serta kemampuan interaksi sosial.
Piprim menyatakan, “Jika hal ini bisa diterapkan secara konsisten, maka akan turut berkontribusi pada terwujudnya generasi emas 2045.” Pernyataan ini diungkapkan dalam seminar daring bertajuk “Manfaat dan Peran Musik untuk Perkembangan Anak.” Kegiatan mendengarkan musik, lebih dari sekadar hiburan, juga berfungsi sebagai sarana edukasi.
Dokter Lisa Pangemanan, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial IDAI, merinci tiga tujuan utama musik dalam pertumbuhan anak. Pertama, musik dapat digunakan sebagai metode pendidikan. Kedua, terdapat teknik intervensi berbasis musik yang dilakukan oleh terapis untuk meningkatkan kesehatan anak, mencakup mendengarkan dan improvisasi musik. Ketiga, musik digunakan sebagai aktivitas rekreasi yang menyenangkan.
Selain musik klasik yang sering dikaitkan dengan manfaat positif bagi perkembangan anak, penelitian menunjukkan bahwa berbagai genre musik, termasuk musik tradisional seperti gamelan, juga memberikan efek yang serupa. Beberapa studi menyebutkan bahwa gamelan dengan ritme tertentu bisa berdampak baik bagi anak. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya musik klasik yang memiliki manfaat, tetapi berbagai jenis musik lainnya pun memiliki potensi yang sama.
Lebih jauh, dokter Lisa menekankan pentingnya pengenalan instrumen musik kepada anak. Aktifitas bermain musik memberikan manfaat lebih dalam dibandingkan sekadar mendengarkan. Bermain musik dapat melibatkan memori kerja anak, yaitu kemampuan otak untuk mengenali dan menyimpan suara. Kegiatan ini tidak hanya mengasah daya ingat, tetapi juga merangsang emosi anak dan meningkatkan keterampilan komunikasi, koordinasi, serta kerja sama.
Keterlibatan sosial juga menjadi salah satu aspek penting dalam belajar musik. Anak-anak yang berlatih atau bermain musik dalam kelompok akan belajar untuk berinteraksi bukan hanya dengan instrumen, tetapi juga dengan teman-temannya. Pengalaman multisensorik yang kaya dari bermain musik turut meningkatkan plastisitas otak, yang sangat vital untuk perkembangan anak.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, dokter Lisa merekomendasikan agar orang tua memperkenalkan musik kepada anak-anak mereka sejak usia dini. Dia menyarankan agar kegiatan ini dilakukan rutin, minimal satu hingga tiga kali dalam seminggu, dengan durasi sekitar 45 menit per sesi. Keterlibatan aktif anak dalam bermain musik sangat dianjurkan, terutama dalam setting kelompok, guna meningkatkan kemampuan sosial dan stimulasi otak secara menyeluruh.
Dengan begitu banyak manfaat yang ditawarkan oleh musik, sudah sepatutnya orang tua mulai mempertimbangkan untuk memasukkan kegiatan mendengarkan dan bermain musik dalam rutinitas harian anak. Keterlibatan yang aktif dalam lingkungan musik bukan hanya meningkatkan potensi perkembangan anak, tetapi juga membentuk generasi yang lebih empatik dan mampu berinteraksi dengan baik dalam masyarakat. Melalui musik, orang tua dapat memfasilitasi pertumbuhan anak secara lebih holistik dan menyeluruh.





