Aktor Andrew Andika mengungkapkan fakta terkait kewajiban nafkah anaknya setelah perceraian dengan Tengku Dewi Putri. Dalam sebuah wawancara, Andrew menyatakan bahwa ia tidak selalu memenuhi nominal nafkah sebesar Rp20 juta per bulan yang ditetapkan dalam putusan Pengadilan Agama Cibinong. Meskipun ia berusaha rutin memberikan nafkah, jumlah yang diberikan sering kali tergantung pada kondisi keuangannya.
Andrew menekankan bahwa meskipun kewajiban yang ditetapkan pengadilan formal, yang terpenting baginya adalah komitmen sebagai ayah untuk tetap memberi bantuan kepada anak-anaknya. “Mungkin itu cuma nominal doang, yang penting nggak nol banget, yang penting tetap memberikan bantuan tiap bulan,” ujar Andrew.
Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa kadang-kadang nafkah yang diberikan mungkin kurang dari Rp20 juta, tetapi di waktu lain, bila pendapatannya bagus, ia bisa memberikan lebih. “Jadi bisa dibilang kadang sampai ke situ, kadang nggak sampai ke situ, kadang kalau misalnya ada rezeki bisa lebih dari itu,” tambahnya.
Meski terpisah secara jarak setelah perceraian, Andrew tetap berusaha menjaga kedekatan dengan kedua anaknya. Ia mengatakan bahwa komunikasi melalui panggilan video berlangsung intens, sehingga ia bisa tetap bertanya kabar dan menyaksikan perkembangan anak-anaknya. “Masih video call, masih telepon, masih nanya kabar, kurang lebih hampir setiap hari,” jelasnya.
Andrew juga berupaya untuk bertemu anak-anaknya setidaknya sebulan sekali. Ia biasanya mengunjungi mereka atau mengatur pertemuan saat anak-anaknya ke Jakarta. Melalui pendekatan ini, ia berharap tidak kehilangan momen-momen penting dalam pertumbuhan anak-anaknya.
Dalam konteks perceraian, perlu diketahui bahwa Tengku Dewi Putri menggugat cerai Andrew pada 6 Juni 2024, yang dilatarbelakangi oleh isu perselingkuhan. Namun, proses gugatan tersebut terhambat karena Dewi sedang hamil tua. Setelah anak kedua lahir, gugatan baru diajukan pada Agustus 2024 dan diakui oleh pihak pengadilan pada 18 Desember 2024.
Cerita di balik perceraian mereka dan bagaimana keduanya mengurus anak-anak pasca-percerian menciptakan perhatian publik. Andrew berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya meskipun terhambat oleh situasi keuangan yang terkadang fluktuatif.
Dengan demikian, meskipun ada tantangan dalam pemenuhan nafkah, komitmen Andrew sebagai seorang ayah tetap berfokus pada hubungan yang sehat dan erat dengan anak-anaknya. Keduanya terus berusaha untuk menciptakan komunikasi yang bermakna, yang menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan ikatan emosional, walaupun mereka kini tidak lagi bersama sebagai pasangan.







