Selebgram dan dokter kecantikan Reza Gladys baru-baru ini memberi tanggapan mengenai julukan “planga-plongo” yang disematkan padanya, terkait dengan kasus hukum yang melibatkan sahabatnya, Nikita Mirzani. Julukan tersebut muncul seiring keputusan Reza untuk tetap diam di tengah banyaknya tudingan yang menghampirinya di media sosial. Dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengenai dugaan pemerasan dan pencucian uang yang melibatkan Mirzani, Reza akhirnya berani bersuara.
Setelah persidangan, Reza merasa lega bisa menyampaikan pendapatnya. “Rasanya sangat amat lega. Kenapa lega? Karena selama ini saya tidak boleh mengatakan apa pun yang berkaitan dengan perkara,” ujarnya kepada wartawan. Keputusannya untuk tidak banyak bicara sebelumnya merupakan bagian dari strategi hukumnya, di mana ia menggandeng pengacara yang berpengalaman, Bang Biring. Reza mengungkapkan, “Kami menghormati proses hukum” sehingga memilih untuk tidak merespons secara terbuka di media sosial.
Di tengah kritik yang menerpa, Reza menunjukkan sikap tenang. Ia tidak hanya menghadapi julukan itu dengan lapang dada, tetapi juga menganggap respon yang ada sebagai bagian dari stigma yang harus diterima. “Walaupun dikasih stigmanya planga-plongo, ya, dibiarkan saja,” ucapnya sembari didampingi suaminya, Attaubah Mufid.
Ketegangan terlihat saat Reza memberikan kesaksian di ruang sidang. Ia mengaku bahwa pertanyaan dari pihak terdakwa terkesan provokatif dan memaksa untuk menjawab hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Menurutnya, yang rusak bukan hanya produknya, tetapi juga reputasinya sebagai seorang dokter kecantikan. “Padahal jelas yang dihancurkan adalah kredibilitas saya,” tegasnya.
Kejadian ini membawa dampak negatif bagi citra profesionalnya. Ia mencatat, komentar dari Mirzani di media sosial melukai perasaannya secara pribadi. “Netizen bisa melihat bagaimana saat terdakwa live—dia membahas fisik saya, dan berbagai macamnya,” kata Reza. Beberapa komentar bernada merendahkan yang pernah ia terima, seperti sebutan “badan abu-abu” dan “muka dempul,” sangat berpengaruh terhadap pandangan publik terhadapnya.
Reza Gladys, yang kini tengah bersaksi, mengingatkan pentingnya menghargai profesionalisme. Ia menekankan bahwa gemuruh di media sosial dan makian yang ditujukan padanya seharusnya tidak mengurangi kredibilitasnya dalam bidang kedokteran kecantikan. Dengan kian terkuaknya permasalahan yang ada, Reza merasa lebih tenang setelah menyampaikan kesaksian di persidangan. “Saya sudah sampaikan semuanya, biarlah hukum yang berbicara,” tutupnya dengan tegas.
Kepastian hukum pun menjadi harapannya di masa mendatang. Kasus ini laga memperlihatkan bagaimana stigma dan persepsi negatif di media sosial bisa berdampak besar pada seorang profesional, terutama dalam bidang yang sangat tergantung pada reputasi. Di tengah situasi yang penuh tantangan tersebut, Reza Gladys menunjukkan ketenangan dan keberanian dalam menghadapi masalah hukum yang dihadapi.
Sebagai seorang figur publik, ia tentu berharap agar semua pihak dapat mengambil pelajaran dari permasalahan ini. Dalam industri yang kian kompetitif, menjaga citra dan profesionalisme adalah tuntutan yang tak terelakkan. Melalui pengalaman pahit ini, Reza menggugah kesadaran bagi rekan-rekannya di profesi yang sama untuk tetap fokus pada integritas dan kualitas pelayanan, tanpa terpengaruh oleh noise di media sosial.
