Kebiasaan berdiri secara teratur dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan, khususnya bagi perempuan pascamenopause. Penelitian terbaru dari University of California San Diego menunjukkan bahwa perempuan dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang sering bangkit dari posisi duduk selama aktivitas sehari-hari mengalami perbaikan pada tekanan darah mereka. Hal ini menegaskan bahwa tidak selalu diperlukan olahraga berat untuk menjaga kesehatan jantung.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Circulation, yang menunjukkan pentingnya memahami perilaku duduk dalam konteks kesehatan. Dalam wawancara, Dr. Sheri Hartman, penulis utama studi, menjelaskan, “Pesan kesehatan masyarakat biasanya menyuruh kita untuk mengurangi duduk, tetapi tidak memberi tahu cara terbaik untuk melakukannya. Penelitian kami menunjukkan bahwa bangkit berdiri secara berkala, meskipun durasi duduk tetap banyak, juga dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan.”
Dalam studi ini, para peneliti melakukan uji coba terkontrol dengan membagi peserta ke dalam tiga kelompok selama tiga bulan. Kelompok pertama berfokus pada pengurangan waktu duduk harian, kelompok kedua didorong untuk lebih sering berdiri, dan kelompok ketiga tidak mengalami perubahan kebiasaan duduk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang berusaha untuk duduk lebih sedikit mengurangi waktu duduk mereka sekitar 75 menit per hari, namun perubahan tekanan darah yang dihasilkan tidak signifikan secara statistik. Sebaliknya, kelompok yang mengadopsi kebiasaan berdiri lebih sering, dengan rata-rata berdiri 25 kali dari posisi duduk per hari, berhasil menurunkan tekanan darah diastolik sebesar 2,24 mmHg dibanding kelompok kontrol.
Walaupun penurunan tekanan darah ini belum mencapai ambang batas klinis yang biasanya dianggap signifikan (3-5 mmHg), para peneliti percaya bahwa perubahan lebih besar mungkin masih bisa dicapai dengan waktu yang lebih lama. Dr. Andrea Z LaCroix, penulis senior studi tersebut, menekankan bahwa pencapaian ini menunjukkan bahwa dengan sedikit bimbingan, individu dapat belajar untuk mengurangi waktu duduk dan memperoleh manfaat kesehatan yang jelas.
Strategi sederhana seperti berdiri 25 kali tambahan per hari, yang setara dengan dua kali berdiri setiap jam selama 12 jam, merupakan langkah yang realistis dan dapat diterapkan oleh banyak orang. Selain itu, partisipan studi juga menunjukkan kemauan untuk menetapkan target pribadi mereka, yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam mengubah kebiasaan duduk.
Penelitian ini melibatkan tim akademis dari berbagai institusi, termasuk UC San Diego dan Arizona State University, dan didanai oleh National Institutes of Health (NIH). Hasil dari penelitian ini tidak hanya relevan bagi perempuan pascamenopause, tetapi juga dapat diadaptasi untuk menjangkau pria lanjut usia.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, temuan ini memberikan alternatif bagi individu yang mungkin merasa tertekan untuk melakukan olahraga berat. Menjaga kesehatan jantung dan mengelola tekanan darah bisa dilakukan melalui aktivitas yang lebih sederhana dan efektif.
Meski temuan ini menggembirakan, perlu dicatat bahwa penurunan tekanan darah adalah proses yang berlangsung. Peneliti berencana untuk mengeksplorasi kebiasaan ini dalam waktu yang lebih lama, yang diharapkan dapat memberikan wawasan lebih jauh tentang bagaimana perilaku berdiri dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Melalui penelitian ini, diharapkan ada kesadaran yang lebih besar terhadap pentingnya mengatur waktu duduk dan berdiri dalam aktivitas sehari-hari. Mengadopsi kebiasaan berdiri lebih sering bisa menjadi langkah kecil yang mempunyai dampak besar pada kesehatan.







