Mahkamah Agung Korea Selatan resmi menolak gugatan plagiarisme yang diajukan oleh Jonathan Wright, seorang komposer asal Amerika Serikat, terhadap produser lagu anak-anak fenomenal "Baby Shark" dari perusahaan Pinkfong. Keputusan ini mengakhiri perseteruan hukum yang telah berlangsung selama enam tahun dan menguatkan putusan pengadilan tingkat yang lebih rendah yang sebelumnya telah memenangkan Pinkfong.
Jonathan Wright, yang juga dikenal dengan nama panggung Johnny Only, mengklaim bahwa versi lagu yang ia rekam pada 2011 merupakan karya ciptaannya yang dilindungi hak cipta. Wright menyatakan bahwa interpretasinya atas lagu rakyat anak-anak yang masuk domain publik tersebut memiliki elemen baru sehingga layak mendapatkan perlindungan hukum. Sementara itu, Pinkfong berargumen bahwa versi mereka yang dirilis pada 2016 adalah aransemen dari lagu rakyat yang sama, sehingga tidak melanggar hak cipta dan sepenuhnya sah untuk digunakan dan diproduksi ulang.
Dasar Keputusan Mahkamah Agung
Mahkamah Agung memutuskan bahwa karya Wright "belum mencapai tingkat perubahan substansial" dari lagu rakyat asli. Akibatnya, karya tersebut tidak bisa dianggap sebagai karya terpisah yang memiliki hak cipta terpisah dari lagu rakyat tersebut. Putusan ini sejalan dengan prinsip hukum yang menyatakan bahwa karya yang terlalu mirip dengan karya yang berada dalam domain publik tidak bisa didaftarkan hak cipta baru.
Versi Pinkfong dengan refrain ikonik “doo doo doo doo doo doo” telah mendapatkan popularitas internasional yang luar biasa. Video lagu ini berhasil menjadi video YouTube dengan jumlah penayangan terbanyak sepanjang masa, mencapai 7 miliar kali pada puncak pandemi COVID-19 pada November 2020, dan kemudian menjadi video pertama yang tembus 10 miliar penayangan lebih dari setahun setelahnya.
Sejarah dan Perjalanan Lagu Baby Shark
Baby Shark bukanlah lagu baru. Lagu ini diperkirakan berasal dari Amerika Serikat pada tahun 1970-an dan populer di berbagai perkemahan musim panas. Meski memiliki latar belakang yang tidak selalu ceria—beberapa versi menceritakan kisah tragis seperti kehilangan anggota tubuh akibat hiu—interpretasi Pinkfong menampilkan tema yang cerah dan interaktif dengan tarian tangan yang mudah diikuti anak-anak.
Sebelum versi Pinkfong meledak di dunia maya, beberapa adaptasi internasional seperti versi Prancis "Bebe Requin" dan Jerman "Kleiner Hai" juga sempat viral di Eropa pada 2007, namun tidak ada yang mencapai fenomena global seperti versi asal Korea Selatan ini.
Dinamika Gugatan Hak Cipta
Awal gagasan gugatan muncul ketika Wright mengetahui bahwa Pinkfong mengancam tindakan hukum terhadap sebuah partai politik Korea Selatan yang menggunakan lagu Baby Shark versi mereka dalam kampanye. Hal ini kemudian memicu pertanyaan bagi Wright apakah versinya juga memiliki perlindungan hak cipta yang sama.
Wright merekam versinya di tepi kolam renang dengan kelompok anak-anak dan remaja menari mengikuti lagu. Ia awalnya memandang lagu ini sebagai karya domain publik yang bebas digunakan, namun perjuangan hukum ini menunjukkan kompleksitas pertarungan hak cipta dalam ranah karya yang mengadaptasi materi dari lagu rakyat.
Dampak Budaya dan Industri
Kesuksesan Baby Shark versi Pinkfong berdampak besar pada industri hiburan dan musik anak-anak. Lagu ini tidak hanya diterjemahkan ke lebih dari 100 bahasa, tetapi juga menginspirasi artis-artis ternama seperti Blackpink dan Josh Groban untuk mengadopsi versi mereka dalam penampilan. Bahkan lagu ini diadaptasi ke dalam format film, menegaskan statusnya sebagai fenomena global.
Jamie Oh, direktur pemasaran Pinkfong, menyebut Baby Shark sebagai "K-Pop untuk generasi mendatang" yang membuktikan kemampuan industri hiburan Korea Selatan mendominasi segmen audiens yang lebih muda dan mengglobal. Keputusan Mahkamah Agung yang menguatkan posisi Pinkfong menjadi tonggak penting dalam perlindungan karya kreatif yang berbasis pada adaptasi lagu-lagu tradisional.
Dengan putusan ini, peluang untuk melakukan klaim hak cipta atas versi lagu yang terlalu mirip dengan karya domain publik akan makin sulit, menggarisbawahi perlunya inovasi substansial dalam proses kreasi lagu versi baru berbasis materi lama. Kasus Baby Shark juga menjadi contoh penting mengenai batasan hak cipta dalam industri musik global yang semakin terhubung dan kompleks.







