
Film Merah Putih: One for All yang dirilis pada 14 Agustus 2025, hanya berhasil menarik sekitar 2.276 penonton dalam lima hari penayangan di bioskop Indonesia. Data ini menempatkan film tersebut di posisi terbawah dibandingkan film lain yang tengah tayang di layar lebar saat ini.
Performa Film di Pasaran
Sejak hari pertama, film ini hanya menggaet 720 penonton, menunjukkan minat yang cukup rendah dari khalayak. Hal ini kontras dengan film lain yang tayang hampir bersamaan, seperti Demon Slayer: Infinity Castle, yang mampu menembus angka satu juta penonton dalam waktu hanya tiga hari. Perbandingan ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi Merah Putih: One for All dalam menarik perhatian penonton Indonesia.
Sambutan Pasar dan Kritik
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab rendahnya antusiasme penonton terhadap film ini. Trailer resmi yang dirilis sebelumnya mendapat banyak kritik dari berbagai pihak. Tidak hanya itu, animasi film ini juga dianggap kurang memadai dan tidak memenuhi ekspektasi standar kualitas animasi modern. Lebih lanjut, muncul tuduhan bahwa film ini menggunakan animasi karya ilustrator luar negeri tanpa izin, yang tentunya menimbulkan pro dan kontra di kalangan penggemar dan pelaku industri perfilman.
Penayangan Bioskop dan Jaringan Tayang
Meski begitu, Merah Putih: One for All masih dapat disaksikan di beberapa jaringan bioskop di wilayah Jabodetabek, antara lain Mega Bekasi XXI, Alam Sutera XXI, Depok XXI, Puri XXI, Kemang Village XXI, hingga Kelapa Gading XXI. Kehadiran film ini tetap mendapat dukungan dari beberapa kalangan karena mengangkat tema kepahlawanan dan nasionalisme yang dianggap relevan bagi penonton Indonesia.
Proyek Ambisius dalam Industri Film Nasional
Film ini sebelumnya dinilai sebagai salah satu proyek ambisius dari perfilman Indonesia dengan membawa nilai-nilai patriotisme. Namun, keberhasilan sebuah film animasi nasional bergantung tidak hanya pada tema, tapi juga pada kualitas produksi dan daya tarik visual yang mampu bersaing dengan karya internasional. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan animasi lokal yang mampu menembus pasar luas.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Menurunnya minat penonton terhadap Merah Putih: One for All menjadi pelajaran penting bagi pembuat film nasional untuk memperbaiki kualitas produksi, strategi pemasaran, serta memperhatikan orisinalitas karya agar mendapat sambutan positif dan tidak menimbulkan kontroversi. Di tengah persaingan ketat dengan film-film internasional, inovasi dan standar tinggi dalam pembuatan animasi harus menjadi prioritas.
Meski grafik penonton masih rendah, keberadaan film seperti Merah Putih: One for All tetap membuka ruang bagi pengembangan industri animasi nasional. Diharapkan ke depannya, film-film karya anak bangsa bisa lebih matang dari segi konsep, teknik animasi, dan pemasaran agar mampu bersaing di pasar global dan mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat.




