Beberapa bulan terakhir, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali mengemuka di berbagai perusahaan di Indonesia. Setelah gelombang PHK pertama selesai, banyak karyawan yang tersisa merasakan ketidakpastian dan kekhawatiran apakah mereka akan menjadi korban pada gelombang PHK berikutnya. Memahami tanda-tanda awal potensi PHK gelombang kedua menjadi penting agar karyawan dapat mempersiapkan diri secara mental dan praktis.
Mengapa PHK Terjadi Bertahap?
PHK sering kali bukan hanya satu kali terjadi, melainkan berlangsung beberapa kali dalam waktu berbeda. Banyak perusahaan memilih mengimplementasikan PHK secara bertahap sebagai langkah menyesuaikan strategi bisnis dan mengoptimalkan efisiensi pengeluaran. Menurut data dari Crunchbase, rata-rata rentang waktu antara gelombang PHK pertama dan selanjutnya adalah sekitar 4,5 bulan.
Analis dari Kruze Consulting, Healy Jones, mengungkapkan bahwa ketika rekan kerja terkena PHK, beban kerja bagi karyawan yang tersisa akan meningkat. Situasi tersebut memicu pertanyaan mengenai kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan, membuat suasana kerja menjadi penuh ketidakpastian.
Tanda-Tanda Kamu Berpotensi Jadi Korban PHK Gelombang Berikutnya
-
Proyekmu Mendadak Tidak Prioritas
Jika proyek yang sedang kamu kerjakan tiba-tiba dihentikan atau dianggap tidak penting, ini menjadi sinyal awal yang patut diwaspadai. Forbes menjelaskan bahwa karyawan yang terlibat dalam proyek-proyek tidak esensial memiliki risiko tinggi untuk di-PHK. -
Keterampilan Mudah Digantikan Teknologi
Di era otomatisasi, pekerjaan yang dapat digantikan kecerdasan buatan berpotensi menghilang. Forbes menyebutkan bahwa karyawan dengan keterampilan yang tergolong usang atau bisa diotomatisasi termasuk kelompok yang rentan terkena PHK. -
Performa Kerja Menurun
Menurut analisis, karyawan dengan performa lebih rendah dibanding rekan kerja berada dalam kelompok 41% tertinggi yang kemungkinan jadi korban PHK. Business Insider menambahkan bahwa bila kamu mulai jarang diajak rapat, terpinggirkan dalam komunikasi email penting, ini patut dicurigai sebagai tanda awal. -
Hiring Freeze dan Pembekuan Anggaran
Ketika perusahaan menghentikan perekrutan baru, tidak mengganti karyawan yang mengundurkan diri, atau menghentikan proyek baru, biasanya ini merupakan pertanda bahwa penghematan semakin ketat. U.S. News melaporkan bahwa kondisi ini umum terjadi sebelum gelombang PHK berikutnya. -
Pimpinan Senior Mulai Pergi
Pergantian eksekutif senior sering kali menjadi indikator restrukturisasi besar-besaran perusahaan. Jika ada perputaran pimpinan yang cepat ataupun pengunduran diri mendadak, ini bisa menjadi sinyal bahwa perubahan besar, termasuk PHK lanjutan, sedang dipersiapkan. - Fenomena “Paranoid Attribution” di Lingkungan Kerja
Profesor Michele Williams dari University of Iowa menjelaskan fenomena “paranoid attribution,” di mana karyawan mulai menafsirkan tanda-tanda kecil sebagai indikasi akan di-PHK. Misalnya, bos yang tidak menyapa atau perubahan perilaku tim manajemen bisa memicu kecemasan berlebihan di kalangan karyawan.
Memahami tanda-tanda ini bukan untuk membuat karyawan hidup dalam ketakutan, melainkan agar mereka dapat mengambil langkah preventif. Ini termasuk memperkuat keterampilan, memperluas jaringan profesional, serta merapikan kondisi keuangan pribadi.
Orang yang sadar terhadap potensi risiko PHK biasanya lebih cepat melakukan adaptasi dan menemukan peluang baru dibanding mereka yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan tanpa persiapan. Oleh karena itu, deteksi dini kondisi perusahaan dan evaluasi posisi diri di tempat kerja menjadi kunci dalam menghadapi kemungkinan gelombang PHK berikutnya.




