Sebanyak 76 persen wanita Indonesia mengalami percepatan penuaan kulit yang terjadi lebih cepat dari usia seharusnya. Fenomena ini ditandai dengan tanda-tanda seperti kerutan halus, hiperpigmentasi, dan menurunnya elastisitas kulit, yang seringkali sudah muncul sebelum usia 30 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat dampaknya terhadap kualitas hidup dan rasa percaya diri.
Penyebab Utama Penuaan Dini pada Wanita Indonesia
Berdasarkan tinjauan pustaka yang dipublikasikan di Jurnal Gizi dan Kesehatan, terdapat lima faktor utama yang mempercepat proses penuaan kulit pada wanita Indonesia, yaitu:
-
Paparan sinar UV tanpa perlindungan yang memadai
Sinar ultraviolet dari matahari adalah penyebab utama kerusakan kolagen dan elastin di kulit. Paparan berlebih tanpa menggunakan sunscreen dapat menyebabkan kerutan, kulit kering, serta pigmentasi berlebih seperti melasma. -
Pola makan tidak seimbang
Konsumsi makanan tinggi gula dan minim antioksidan mempercepat proses oksidatif dalam tubuh yang merusak struktur kolagen dan mempercepat tanda-tanda penuaan. -
Stres berkepanjangan
Tekanan hidup dan stres kronis dapat memicu produksi hormon kortisol berlebih yang memengaruhi regenerasi kulit dan mempercepat kerusakan jaringan kulit. -
Kebiasaan konsumsi gula berlebihan
Gula yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan glikasi, yaitu proses pelekatan gula pada protein kolagen yang membuatnya menjadi kaku dan sulit meregenerasi kulit. - Paparan polusi lingkungan
Polusi udara meningkatkan produksi radikal bebas yang berkontribusi pada kerusakan kulit dan inflamasi sehingga mempercepat penuaan kulit.
Tanda Penuaan Dini Mulai Terlihat pada Usia Muda
Studi dermatologis observasional di Indonesia menunjukkan prevalensi melasma pada wanita usia 20–30 tahun sudah mencapai 71 persen dan meningkat tajam hingga 92 persen pada usia 31–40 tahun. Hal ini menunjukkan pigmentasi dan berbagai masalah kulit yang berkaitan dengan penuaan tidak hanya menjadi masalah wanita yang sudah berusia lanjut, melainkan mulai muncul sejak muda.
Upaya Mengatasi Penuaan Dini
Mayoritas wanita Indonesia memilih berbagai metode untuk menangani tanda-tanda penuaan, mulai dari penggunaan produk perawatan kulit seperti sunscreen dan antioksidan, hingga prosedur estetika seperti laser, chemical peel, serta injeksi kolagen. Sayangnya, kebanyakan baru melakukan intervensi ketika tanda penuaan sudah cukup nyata muncul.
Dr. Elizabeth Liza, M., Bio AAM, pendiri Beauty Sister Clinic, menjelaskan bahwa gaya hidup modern dan tekanan tinggi yang dihadapi wanita sering tidak disadari menjadi faktor utama percepatan penuaan. “Intervensi dini sangat penting untuk menjaga elastisitas dan vitalitas kulit agar tetap terlihat muda,” katanya pada saat peluncuran perawatan BEA MORE + Double Chin Suction by Morpheus8 di Jakarta Selatan.
Teknologi Peremajaan Kulit Terbaru
Perawatan BEA MORE + Double Chin Suction by Morpheus8 menggabungkan teknologi microneedling dengan Radio Frequency Assisted Lipolysis (RFAL) yang sudah diakui secara global dan banyak digunakan oleh selebritas internasional. Teknologi ini memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi di bidang estetika, seperti Minimal Invasive Device of The Year (2020) dan Best Microneedling Treatment for Body Award Winner (2023 & 2024).
Dr. Elizabeth Liza menegaskan, perawatan ini efektif untuk menangani berbagai indikasi penuaan, antara lain: menghancurkan lemak berlebih, meningkatkan produksi kolagen, mengencangkan serta mencerahkan kulit, mempertegas kontur wajah dan mengurangi double chin, memperkecil pori-pori, dan memberikan efek lifting menyeluruh.
Rekomendasi Pencegahan Penuaan Dini
Selain teknologi estetika, langkah pencegahan yang sangat dianjurkan adalah penggunaan sunscreen secara konsisten dan memilih pola makan sehat kaya antioksidan. Hindari stres berkepanjangan serta pola hidup aktif yang mampu membantu menjaga kesehatan kulit dari dalam. Dengan memahami penyebab dan langkah penyembuhan sejak dini, wanita Indonesia dapat lebih optimal dalam menjaga kesehatan dan kecantikan kulitnya dalam jangka panjang.
