Personel The Police Gugat Sting Terkait Royalti Lagu Ikonik Mereka

Personel band legendaris The Police, yakni gitaris Andy Summers dan drummer Stewart Copeland, mengajukan gugatan perdata terhadap mantan rekan mereka, Sting, terkait dugaan pembayaran royalti yang diduga kurang atas lagu-lagu hits yang mereka rekam bersama antara 1977 hingga 1984. Gugatan ini diajukan di Pengadilan Tinggi, mengklaim bahwa Summers dan Copeland tidak menerima bagian royalti yang seharusnya sebagai penghargaan atas kontribusi mereka, terutama pada lagu-lagu populer seperti "Roxanne" dan "Every Breath You Take."

Perkara Royalti dan Perjanjian Lisan

Meskipun Sting tercatat sebagai penulis utama lagu-lagu tersebut dan menjadi penerima kredit resmi, Summers dan Copeland menegaskan bahwa sejak 1977, The Police sudah memiliki "perjanjian lisan" yang menyangkut pembagian pendapatan penerbitan lagu. Perjanjian tersebut, yang kemudian diresmikan dalam kontrak tertulis, menyatakan bahwa masing-masing anggota band akan saling berbagi royalti dalam bentuk biaya arranger sebesar 15 persen dari pendapatan penerbit. Namun, ada perbedaan pandangan mengenai bagaimana dan kapan persisnya kesepakatan ini disepakati.

Andy Summers mengenang bahwa perjanjian tersebut tercetus secara informal di luar kantor manajer band mereka, Miles Copeland, di Notting Hill. Sebaliknya, Sting berargumen tidak ada bukti sah adanya kesepakatan lisan tersebut, dan menyatakan bahwa ide pembagian royalti semacam itu muncul dari Miles Copeland semata dalam usaha menjaga keharmonisan band yang sedang renggang pada masa itu.

Sengketa atas Jenis Royalti

Perselisihan utama menitikberatkan pada kategori royalti yang seharusnya dibayarkan kepada Summers dan Copeland. Dua jenis royalti yang diperdebatkan yakni royalti pertunjukan (performance royalty) dan royalti mekanis (mechanical royalty). Royalti pertunjukan diperoleh saat sebuah lagu diputar di tempat umum, radio, atau layanan streaming, sementara royalti mekanis dibayarkan ketika lagu dicetak dalam format fisik seperti CD dan vinyl atau diputar secara streaming sesuai permintaan.

Summers dan Copeland menuntut pembayaran royalti dalam kedua kategori tersebut. Namun, Sting berargumen bahwa perjanjian mereka hanya mencakup royalti mekanis saja. Dukungan argumen ini datang dari pengacara Sting yang menambahkan bahwa berdasarkan ketentuan kontrak band yang terakhir diubah pada tahun 2016, ketiga anggota sudah sepakat untuk tidak mengajukan klaim royalti masa lalu maupun masa depan.

Reaksi dan Dampak Hukum

Summers dan Copeland menolak bahwa perjanjian 2016 tersebut menghilangkan hak mereka untuk menuntut royalti sesuai perjanjian sebelumnya. Mereka memperkirakan kerugian finansial akibat royalti yang kurang dibayarkan mencapai sekitar 1,5 juta pound sterling. Sebaliknya, pengacara Sting membantah klaim tersebut dan berargumen bahwa mereka justru bisa saja berhutang uang kepada Sting atas pembayaran berlebih yang sudah ditransfer sebelumnya.

Latar Belakang The Police dan Lagu Ikonik

The Police merupakan salah satu band tersukses dari Inggris yang dibentuk pada tahun 1977. Band ini mencapai puncak popularitasnya dengan lagu seperti "Every Breath You Take," yang diumumkan sebagai lagu radio yang paling banyak diputar sepanjang masa. Lagu ini juga banyak diolah ulang dalam karya lain, termasuk hit tahun 1997 "I’ll Be Missing You" oleh P Diddy dan Faith Evans.

Band sempat mengalami ketegangan internal yang kuat selama sesi rekaman album "Synchronicity" pada 1983, hingga akhirnya bubar pada 1984. Dalam wawancara tahun 2022, Sting menyatakan bahwa ia merasa terkekang dan terhambat dalam band tersebut karena harus mengakomodasi pendapat dan lagu-lagu anggota lain yang menurutnya kurang berhasil.

Penjualan Katalog Lagu

Sting pernah mengambil langkah strategis dengan menjual hak atas katalog penulisan lagu miliknya termasuk lagu-lagu The Police ke Universal Music Group senilai sekitar 149 juta pound sterling pada tahun 2022. Kesepakatan ini juga menambah dimensi baru dalam kasus royalti yang tengah berlangsung, meskipun tidak menyelesaikan perselisihan di antara para anggota band lama tersebut.

Persoalan royalti yang menjadi inti gugatan ini menggambarkan kompleksitas kontrak musik dan pentingnya kesepakatan yang jelas serta transparan dalam manajemen hak cipta, khususnya pada band yang memiliki sejarah panjang dan banyak karya ikonik seperti The Police. Kasus ini akan menjadi sorotan hangat di industri musik dan mungkin menjadi preseden dalam penyelesaian sengketa royalti antar anggota band di masa mendatang.

Exit mobile version