Bali Dihantam Banjir, Nana Mirdad Kritik Kegagalan Tata Kota Pemerintah

Bali kembali dilanda banjir besar sejak Selasa (9/9/2025), hingga menyebabkan lumpuhnya aktivitas di sejumlah wilayah. Artis sekaligus model Nana Mirdad menjadi salah satu korban yang terdampak secara langsung. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Nana memberikan sorotan kritis terhadap penyebab banjir yang menurutnya bukan semata-mata bencana alam, melainkan kegagalan pengelolaan tata kota dan lingkungan di Bali.

Nana Mirdad menilai bahwa pembangunan yang berlebihan di Bali telah mengabaikan aspek tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. “Aku bukan ahli geologi, meteorologi ataupun ahli lingkungan. Tetapi, mungkin enggak sih banjir ini ada kaitannya dengan kegagalan kita dalam mengelola sampah di Bali dan juga overdevelopment and poor infrastructure?” tulis Nana dalam akun Instagram-nya pada Kamis (11/9/2025). Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut semata sebagai bentuk kekhawatiran, bukan untuk menyalahkan pihak tertentu.

Rumah Nana sendiri mengalami kerusakan akibat banjir; salah satu tembok jebol dihantam derasnya air. Istri aktor Andrew White itu juga mengunggah ulang postingan dari warga lokal yang menegaskan bahwa banjir kali ini lebih merupakan akibat dari kegagalan tata kelola lahan dan pemerintah daerah, bukan bencana alam semata. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tata ruang yang kacau dan tata guna lahan yang berantakan menjadi faktor utama.

Bali memiliki sistem subak yang sudah berfungsi sebagai saluran irigasi sekaligus kanal alami untuk mengalirkan limpasan air. Namun, perubahan fungsi lahan terus terjadi secara signifikan. Sawah-sawah yang dulu menjadi “spons alami” kini banyak beralih fungsi menjadi perumahan, villa, dan hotel. Kondisi ini membuat aliran air tidak lagi terkelola dengan baik, sehingga meningkatkan risiko banjir ketika hujan turun pada tingkat yang relatif tidak ekstrem.

Selain masalah tata ruang, pengelolaan sampah yang buruk juga ikut memperparah situasi. Sampah yang menumpuk di saluran air menghambat aliran sehingga sungai lebih mudah meluap. Hal ini diperhatikan Nana sebagai faktor krusial yang harus segera diatasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Dalam konteks ini, pemerintah daerah di Bali mendapat sorotan terkait kurangnya koordinasi dan langkah preventif yang memadai guna mengantisipasi banjir. Infrastruktur yang ada dinilai belum cukup kuat dan memadai untuk mengelola volume air yang ada, apalagi dengan kondisi pemanfaatan lahan yang tidak terkontrol.

Secara nasional, bencana banjir yang berulang di Bali juga mengundang perhatian lebih luas tentang bagaimana mengintegrasikan aspek ekologis dan pembangunan ekonomi. Pengembangan pariwisata yang masif di Pulau Dewata memang telah membawa keuntungan besar, tetapi risiko lingkungan yang muncul harus menjadi perhatian serius agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Berikut beberapa poin penting terkait banjir Bali 2025 menurut pengamatan dan pernyataan Nana Mirdad:
1. Banjir lebih disebabkan oleh kegagalan tata kelola dan overdevelopment, bukan bencana alam semata.
2. Perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi kawasan bangunan memperburuk kemampuan alam menyerap air.
3. Pengelolaan sampah yang buruk menghambat aliran air di sungai dan saluran irigasi.
4. Infrastruktur yang ada belum mampu mengatasi limpasan air secara efektif.
5. Perlu evaluasi tata ruang dan penataan lingkungan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Kejadian banjir di Bali kali ini bukan hanya mengakibatkan kerugian materiil bagi masyarakat, termasuk para pelaku usaha dan warga lokal, tetapi juga menjadi refleksi penting tentang perlunya perbaikan serius dalam tata kelola lingkungan dan pembangunan kawasan. Situasi ini mendorong berbagai pihak untuk bersinergi dalam mencari solusi yang lebih menyeluruh demi menjaga kelangsungan pulau yang menjadi destinasi wisata internasional tersebut.

Dengan pengalaman dan kesaksian langsung dari warganya, termasuk figur publik seperti Nana Mirdad, diharapkan perhatian pada isu tata kota, tata ruang, dan pengelolaan lingkungan di Bali dapat meningkat dan menghasilkan langkah responsif yang konkret. Kesiapan menghadapi dinamika cuaca dan perubahan iklim juga menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan dalam perencanaan masa depan Pulau Dewata.

Berita Terkait

Back to top button